Problem Pengangguran dan Identitas Kaum Muda sebagai Homo Faber – MudikaLink

Problem Pengangguran dan Identitas Kaum Muda sebagai Homo Faber

Oleh: Maria Febiana Sarti Lima

DINAMIKA kehidupan sosial sering menjadi isu penting yang sering dibicarakan dalam berbagai media. Salah satu persoalan krusial yang sulit dipecahkan hingga saat ini adalah berkaitan dengan pengangguran.

Nampaknya, persoalan ini masih menjadi ikon menarik di setiap sudut wilayah. Berhadapan dengan masalah tersebut setiap orang kerap mempertanyakan keberadaan kaum elite yang seolah hilang ditengah ketidakaturan dunia.

Kini masalah pengangguran tidak lagi menjadi hal asing sebab selain berkurangnya instansi yang bertanggung jawab, persoalan seperti ini telah dianggap lumrah diberbagai kalangan.

Sebenarnya pengangguran merupakan permasalahan kekal yang sulit diatasi. Meningkatnya jumlah pengangguran menjadi pemantik yang bisa menghadirkan persoalan baru, misalnya meningkatnya praktik kejahatan, atau bahkan meningkatnya potensi kemiskinan.

Ditengah persolaan tersebut kehadiran kaum muda sontak menjadi sorotan publik. Dengan hadirnya jumlah kaum muda yang semakin meningkat, banyak orang mempertanyakan kualitas dan integritas tiap individu.

Apakah kehadiran mereka mampu mengatasi masalah pengangguran ataukah malah menambah jumlah pengangguran. Itulah yang menjadi tanggung jawab kaum muda di masa yang akan datang.

Hingga kini masalah pengangguran masih berkaitan erat dengan kapabilitas kaum muda yang menjadi generasi penerus bangsa.

Ditengah tututan zaman yangsangat mengagumi kekuatan teknologi, eksistensi kaum muda secara tidak langsung terancam akan hilangnya lapangan pekerjaan.

Akankah hal tersebut terjadi? Sementara itu identitas kaum muda sebagai homo faber sesunggunya sedang dihadapkan pada suatu persoalan kompleks yang harus segera dijawab.

Kehadiran kaum muda sebagai homo faber merupakan dua entitas yang berbeda namun tidak dapat dilepas pisahkan.

Keduanya memiliki keterkaitan yang dapat menyelamatkan kaum muda dari ancaman pengangguran.

Problem Pengganguran Dan Kaum Muda

Masalah pengangguran masih menjadi perbincangan hangat ditengah dunia yang rentan dengan kesulitan memperoleh lapangan kerja.

Berkaitan dengan hal tersebut Sadono Sukirno mendefinisikan pengangguran sebagai suatukondisi di mana seseorang yangtergolong dalam angkatan kerja, ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya(Riska Franita, 2019).

Ketika definisi tersebut digunakan untuk melihat realitas yang terjadi saat ini, maka tidak dapat disangkal bahwa mayoritas pengangguran adalah dari golongan anak muda.

Keadaan ini semakin diperparah dengan kualitas kaum muda yang tidak seimbang tuntutan zaman. Banyak dari antara mereka masih mengadopsi budaya malas, menunda-nunda bahkan menurunnya minat baca menjadi salah satu kelemahan kaum muda masa kini.

Sehingga ketika berhadapan dengan regulasi yang diterapkan dalam sebuah instansi maupun lembaga, mereka cendrung disingkirkan sebab kualitas meraka tidak mencapai standar yang menjadi sebuah ketentuan. Akibatnya kehadiran mereka dalam dunia kerja secara perlahan dieliminasi.

Berkurangnya lapangan kerja membuat kaum muda dituntut untuk mempelajari banyak ketrampilan sehingga mudah mendapakan lapangan pekerjaan.

Akan tetapi ditengah kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan kulitas intelektual, kebanyakan orang muda hanya menjadi saksi kemajuan teknologi.

Realitas yang demikian didukung oleh kecendrungan kaum muda yang mudah dipengaruhi oleh teknologi.

Kehadiran hand phone yang dilengkapi bebagai fitur menarik, terkadang membuat kaum muda lupa akan realitas kehidupan yang sebenarnya. Secara tidak sadar keadaan inilah yang mendukung potensi meningktanya jumlah pengangguran.

Berhadapan dengan problem tersebut keberadaan kaum muda sebagai manusia pekerja (homo faber), patut dipertanyakan.

Sebagai subjek kerja yang termasuk dalam usia kerja, kaum muda mestinya bukanlah seorang penganggur.

Adellia Rosita Aulia, 2023, mendefinisikan istilah faber sebagai bentuk usaha yang mempunyai makna menghasilkan sesuatu, menciptakan sesuatu, dan membuat sesuatu.

Ketika melihat segala bentuk pontesi dan peluang di tengah masyarakat, rasanya cukup pesimis untuk me-labeli kaum muda sebagai kaum penganggur.

Keadaannya, dunia kerja ditengah masyarakat selalu memberikan peluang ditengah ketidakmungkinan. Kehidupan ditengah masyarkat sesungguhnya selalu memberikan peluang untuk menciptakan lapangan kerja.

Sehingga ketika kaum muda tiba pada suatu tahap dimana mereka belum merperoleh lapangan kerja, mereka dapat menciptakan sesuatu agar dapat menghasilkan sesuatu.

Keandaan ini menjadi sangat relevan dengan seruan Paus Yohanes Paulus II mengenai laborem exercens.

Sebagaimana ditulis oleh Yohanes Hendro Pranyoto, bahwasannya manusia adalah subyek kerja yang benar. Kerja mengungkapkan martabat manusia dan menambah martabat manusia.

Ketika kaum muda mulai membuat dan menghasilkan sesuatu maka identias mereka bukanlah seorang penganggur melainkan pekerja.

Hadirnya identias baru sebagai pekerja, melabel kaum muda sebagai penganggur akan padam secara perlahan.

Sebagai homo faber, kaum muda dituntut untuk mampu melihat adanya kemungkinan dibalik ketidakmungkinan. Kaum muda didorong untuk memfokuskan diri pada solusi bukan pada persoalan.

Sehingga munculnya ensiklik laborem exercens yang merupakan jalan keluar dalam mengolah identitas kaum muda sebagai pekerja yang bermartabat. *

Penulis: Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng, NTT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *