Opini – MudikaLink

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge DALAM momen bersejarah presentasi ensiklik pertamanya, ‘Magnifica Humanitas’ (Kemanusiaan yang Mulia), Paus Leo XIV menyampaikan pesan yang menggugah nurani. “Magnifica Humanitas” ditandatangani pada 15 Mei 2026 dan secara resmi dirilis pada Senin, 25 Mei 2026. Tanggal penandatanganan, 15 Mei, dipilih secara simbolis karena bertepatan dengan peringatan ke-135 ensiklik sosial bersejarah…

Selengkapnya...

Di TOMKA Boba, Perjumpaan Singkat Melahirkan Persaudaraan yang Panjang

Oleh : Suru Oktaviano  Di TOMKA Boba, empat hari membuktikan bahwa persaudaraan tidak butuh waktu lama jika fondasinya jelas. Yang dibutuhkan hanya keterbukaan dan tujuan bersama. Pertemuan awal selalu canggung, tapi canggung itu cepat runtuh ketika semua dipaksa bekerja dalam satu irama. Tidak ada ruang untuk status, asal daerah, atau geng sendiri. Kolaborasi yang baik…

Selengkapnya...

Menangkal Krisis Moral Gen Z dengan Reorientasi Pendidikan Agama

Oleh: Velsinal Yerin MARAKNYA fenomena perundungan (bullying) di media sosial, kecanduan judi online, hingga lunturnya etika berkomunikasi di ruang digital sering kali dialamatkan sebagai rapor merah bagi Generasi Z (Gen Z). Masyarakat dengan cepat menuding bahwa generasi ini sedang mengalami krisis moral akut. Namun, sebelum telunjuk kita terlalu jauh menyalahkan gawai dan modernisasi, ada satu…

Selengkapnya...

Teknologi, Hati dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia di Era Digital

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge SETIAP tahun, Gereja Katolik memperingati Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Dan, tahun 2026 menjadi momen istimewa karena merupakan peringatan ke-60. Di Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyampaikan pesan yang sangat relevan bagi seluruh pengguna teknologi. “Jangan menggunakan teknologi untuk merendahkan martabat manusia, tetapi gunakanlah dengan hati.” Pesan yang terdengar sederhana…

Selengkapnya...

Bunga Mekar, Hati Berserah (catatan reflektif menyambut Bulan Maria)

Oleh: Anselmus DW Atasoge DALAM tradisi Gereja Katolik, bulan Mei dikenal sebagai Bulan Maria. Sebuah periode khusus umat beriman mempersembahkan devosi dan penghormatan istimewa kepada Perawan Maria yang Terberkati, Bunda Yesus Kristus. Penetapan bulan ini mengandung makna simbolis yang mendalam terutama karena di belahan bumi utara Mei bertepatan dengan puncak musim semi. Alam yang mulai…

Selengkapnya...

Tahta Suci dan Gedung Putih (Menavigasi Ketegangan Politik-Agama dari Perspektif Katolik Moderat)

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge SEJAK Mei 2025, ketika Paus Leo XIV memimpin Gereja Katolik, hubungan antara Gereja dan dunia politik memasuki fase baru. Di saat yang sama, pernyataan-pernyataan kebijakan dari Presiden Donald Trump sering kali berbeda dengan pesan perdamaian, perlindungan terhadap orang lemah, dan semangat kemanusiaan yang terus digaungkan Vatikan. Situasi ini memunculkan pertanyaan…

Selengkapnya...

Jumat Agung, Mengenang Kasih dan Pengorbanan Yesus

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge DALAM ibadah Gereja Katolik, Jumat Agung adalah hari paling penting dari rangkaian perayaan Paskah. Hari ini umat kristiani sejagat mengenang kematian Yesus di bukit Golgota, serentak juga sebagai waktu istimewa untuk merenungkan bagaimana Allah menyelamatkan manusia. Ibadah ini mengajak kita duduk hening, merenungkan penderitaan dan kematian Yesus sebagai bukti kasih…

Selengkapnya...

‘Banyak Cinta di Nagi’, Toleransi dan Bahasa Universal Iman

Oleh: Anselmus DW Atasoge “Banyak Cinta di Nagi.” Demikian ungkapan hati Chintya Kefi, peziarah dari Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, saat pertama kali tiba di Kota Larantuka untuk mengikuti perayaan Pekan Suci Semana Santa, Senin (30/3/2026, Kaddes.net). Ungkapan sederhana itu merupakan sebuah testimoni hidup tentang bagaimana toleransi beragama diwujudkan dalam tindakan nyata. Chintya…

Selengkapnya...

Mengenal Makna Rabu Trewa di Larantuka

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge TRADISI lokal sering menjadi tempat di mana iman dan budaya bertemu. Di Flores Timur, ada tradisi “Rabu Trewa” di Larantuka yang sangat menarik. Tradisi ini bagian dari Pekan Suci. Rabu Trewa mengingatkan kita saat Yesus ditangkap di Taman Getsemani. Ini adalah perpaduan antara iman Katolik dan budaya lokal. Tradisi ini…

Selengkapnya...

Semana Santa dan ‘Kekacauan Hidup’

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge DI TENGAH arus modernitas yang sering kali membuat manusia merasa kehilangan arah, Semana Santa di Larantuka menghadirkan sebuah sistem makna yang kokoh. Antropolog Clifford Geertz pernah menyatakan bahwa agama menyediakan simbol-simbol untuk menafsirkan realitas hidup yang kacau. Pernyataan ini menemukan relevansinya yang kuat di Kota Larantuka ini. Ketika umat beriman…

Selengkapnya...