MUDIKALINK.net-Temu Orang Muda Katolik (TOMKA) Kevikepan Bajawa Keuskupan Agung Ende yang berlangsung di Paroki Salvatoris Resurgentis Boba, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada membahas banyak hal.
Selain mengenai psikologi kaum muda kegiatan itu juga fokus diskusi pada dua hal krusial bagi kaum muda, yakni Persiapan Membangun Keluarga dan Migran-Perantau
Oktavianus Suru, salah satu peserta kegiatan dalam kepada Mudikalink.net, Sabtu 23 Mei 2026 menginformasikan diskusi sesi pertama dengan materi persiapan membangun keluarga. Materi itu dibawakan oleh Geradus Reo, Anggota Pastoral Keluarga Keuskupan Agung Ende.
Gerardus Reo dalam materinya menekankan bahwa pernikahan Katolik adalah panggilan seumur hidup yang menuntut kesiapan iman, komunikasi terbuka, dan komitmen nyata.
Geradus Reo yang juga Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Ngada mengajak kaum muda mengevaluasi kesiapan diri sebelum menikah serta memahami “keluarga yang kuat dibangun di atas sikap saling mengampuni dan dialog jujur”.
Sementara dalam materi mengenai migran perantau, pemateri Finsensius Fererius Due menekankan tentang tantangan OMK perantau.

Ia memaparkan risiko yang dihadapi kaum muda yang merantau untuk kuliah dan kerja, mulai dari menjaga identitas iman hingga waspada terhadap perdagangan orang.
Ensi Due yang berkarya di Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Ngada ini mendorong kaum muda untuk selalu aktif di komunitas OMK perantauan dan menjaga relasi dengan paroki asal maupun tujuan.
Materi perantauan diperkuat dengan sharing Stefani Kowe dari Zoo Mora Ngada.Ia menekankan pentingnya memahami kondisi dan kebutuhan migran agar tidak rentan terhadap TPPO, serta perlunya pendampingan aktif antara paroki asal dan rantau.
Peserta menyampaikan pengalaman dan bertanya langsung kepada para pemateri mengenai kesiapan berkeluarga dan strategi menjaga iman di perantauan. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan refleksi singkat sebelum peserta bersiap mengikuti Rally Rosario.
Pendamping Orang Muda Katolik (OMK) Kevikepan Bajawa Mertin Lusi pada kesempatan tersebut mengatakan dua tema ini tidak bisa dipisahkan. Persiapan keluarga yang matang menjadi pondasi agar proses perantauan tidak melemahkan iman dan identitas kaum muda.
“Jika kaum muda punya persiapan keluarga yang matang, hal itu tidak akan berdampak negatif pada proses perantauan.” tegas Mertin
Ia berharap hasil seminar ini menjadi bekal bagi kaum muda dalam membangun keluarga yang sehat, menjaga iman, dan tetap berakar pada nilai Katolik di mana pun mereka merantau. *
Penulis: Wim de Rosari I Editor: Wentho Eliando

