Oleh : Suru Oktaviano
Di TOMKA Boba, empat hari membuktikan bahwa persaudaraan tidak butuh waktu lama jika fondasinya jelas. Yang dibutuhkan hanya keterbukaan dan tujuan bersama.
Pertemuan awal selalu canggung, tapi canggung itu cepat runtuh ketika semua dipaksa bekerja dalam satu irama. Tidak ada ruang untuk status, asal daerah, atau geng sendiri.
Kolaborasi yang baik dalam mengikuti semua jadwal yang ada menjadi perekat utama. Disiplin kecil yang dilakukan bersama melahirkan kepercayaan yang tidak bisa dibentuk lewat obrolan kosong.
Doa bersama dan perayaan Ekaristi pagi memindahkan fokus dari diri sendiri ke sesuatu yang lebih besar. Di titik itu, perbedaan berhenti jadi penghalang dan berubah jadi kekayaan.
Malam menjadi ruang paling jujur. Saat lelah, topeng turun dan percakapan menjadi nyata. Dari situlah nama-nama baru mulai diingat dengan makna.
Dialek berbeda yang awalnya membingungkan akhirnya jadi bahan tawa. Yang tersisa adalah kemampuan untuk mendengar dan menghargai cara orang lain mengekspresikan dirinya.
Empat hari cukup untuk melihat bahwa kedekatan diukur dari keberanian membuka diri, bukan dari lama kenal. Kualitas interaksi mengalahkan durasi pertemuan.
Perpisahan di hari terakhir terasa berat bukan karena lama bersama, tapi karena ikatan yang terbentuk sudah terlalu dalam untuk dilepas begitu saja.
Yang dibawa pulang bukan kenangan kosong, tapi jaringan persaudaraan yang aktif. Nama-nama itu ikut hidup dalam doa dan rencana pertemuan berikutnya.
TOMKA Boba menunjukkan bahwa pertemuan singkat bisa mengubah arah relasi seseorang untuk waktu yang panjang, asal setiap orang memilih untuk hadir sepenuhnya. *
Penulis, Asal Paroki Keluarga Kudus Nazareth Were, Kevikepan Bajawa, Keuskupan Agung Ende

