MUDIKALINK.net-Kevikepan Bajawa, Keuskupan Agung Ende menggelar Temu Orang Muda Katolik (TOMKA) tahun 2026. Kegiatan dipusatkan di Paroki Salvatoris Resurgentis, Boba, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada dan dibuka pada Kamis, 21 Mei 2026.
Ketua Panitia Pelaksana, Gregorius Beo mengatakan kegiatan diawali dengan seminar Psikologi. Dan berlanjut dengan tema berbeda setiap harinya.
Dalam rilis dari salah seorang peserta, Oktavianus Suru yang diterima Mudikalink.net, Jumat, 21 Mei 2026, menyebut, setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan Seminar Psikologi Kaum Muda berlangsung di pelataran Gereja.
Lokasi terbuka ini dipilih agar suasana diskusi ebih santai dan mudah diakses peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda setempat.
Seminar Psikologi Kaum Muda difokuskan pada tema “Mengolah Emosi dan Identitas di Usia Muda” dibawakan oleh Lidwina Dhiu, seorang psikolog dan Ilmu Filsafat Stoikisme dibawakan oleh Pater Aris, OCD.
Lidwina dalam materinya menegaskan bahwa emosi bukanlah musuh, melainkan sinyal yang perlu dipahami agar tidak mengendalikan tindakan.
Ia membagi materi dalam tiga bagian, yaitu mengenali sumber emosi, membedakan hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan serta melatih refleksi diri untuk mengurangi kecemasan dan FOMO.
“Peserta diajak melihat bahwa banyak tekanan muncul bukan dari peristiwa, tetapi dari cara menilai peristiwa itu,” kata Oktavianus Suru.
Selain psikologi modern, kata Oktavianus Suru, pemateri lain juga menyinggung prinsip dasar filsafat stoikisme sebagai alat praktis mengelola emosi.
Pater Aris, OCD memaparkan konsep dikotomi kendali dari Epictetus: bedakan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak bisa dikendalikan.
Menurutnya, dengan fokus hanya pada bagian yang bisa dikendalikan seseorang bisa mengurangi kecemasan berlebih terhadap hal di luar kendali seperti penilaian orang lain dan keadaan yang sudah terjadi.
Sesi diskusi berlangsung interaktif sejak pagi hingga siang. Peserta berbagi pengalaman terkait tekanan sosial, kebingungan arah hidup, dan kesulitan membedakan harapan pribadi dengan harapan keluarga. Suasana dialog berjalan terbuka dan tidak menghakimi.
Panitia menyediakan waktu refleksi di akhir sesi pagi. Setiap peserta mencatat satu emosi dominan yang sering muncul dalam seminggu terakhir dan kemungkinan pemicunya. Latihan ini dimaksudkan sebagai langkah awal melatih kesadaran diri.
Ketua Panitia Gregorius Beo berharap seminar ini bisa menjadi awal bagi kaum muda untuk lebih berani memahami diri sendiri sebelum menentukan langkah ke depan. *
Penulis: Wim de Rosari I Editor: Wentho Eliando

