Uskup Ruteng Sipri Hormat Minta Umat Wartakan Kebangkitan Kristus dalam Keseharian Hidup – MudikaLink

Uskup Ruteng Sipri Hormat Minta Umat Wartakan Kebangkitan Kristus dalam Keseharian Hidup

MUDIKALINK.net-Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat memimpin Misa Sabtu Suci di Paroki Santa Maria Ratu Rosari Reo pada Sabtu 4 April 2026 malam.

Uskup Sipri didampingi Pastor Paroki Reo RD. Mansuetus Hariman, RD. Alo Jonson, dan RD. Frederik Ivan Haryanto dalam khotbahnya antara lain meminta umat Paroki Reo menjadi pembawa pesan Kebangkitan Kristus dalam keseharian hidup umat apa pun profesi mereka.

“Mari kita wartakan kebangkitan Kristus dalam keseharian hidup kita,” pinta Uskup Siprianus Hormat.

Inilah kutipan lengkap khotbah Uskup Ruteng Mgr. dalam momen berahmat Sabtu Suci itu. Demikian petikannya.

Di sebuah paroki kecil, ketika panitia sedang memilih pemeran untuk tablo sengsara Tuhan, terjadi sesuatu yang tak terduga. Tahun itu tidak ada satu pun yang mau memerankan Yesus.

Padahal tahun-tahun sebelumnya selalu ada yang bersedia. Waktu terus berjalan, tetapi semua tetap diam.Sampai akhirnya sang sutradara berkata setengah bergurau: “Mulai tahun ini, pemeran Yesus boleh membalas pukulan serdadu.” Tiba-tiba, dua orang langsung angkat tangan.

Cerita itu membuat saya tertawa tapi sekaligus merenung. Jangan-jangan kita pun lebih mudah mengikuti Yesus yang membalas, daripada Yesus yang diam dan sabar.

Kita lebih gampang mengagumi kekuatan yang memukul, daripada kasih yang tahan banting. Kita lebih mudah membayangkan Tuhan yang menghancurkan musuh, daripada Allah yang menyelamatkan dunia dengan jalan yang paling sunyi: jalan salib.

Malam ini kita tidak datang hanya untuk mengenang peristiwa yang sudah lewat. Kita datang sambil membawa luka-luka dunia hari ini pinjaman online yang mencekik, judi yang memporak-porandakan rumah tangga, kekerasan yang masuk ke dalam rumah, bumi yang terus dilukai. Banyak orang saat ini tertutup pintu kubur kesulitan hidup.

Tetapi di tengah semua kesulitan itu, malam ini Gereja mengajak kita melihat satu hal yang meneguhkan: Allah tidak pernah menyerahkan dunia kepada kegelapan. Kebangkitan Kristus menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja. Sejak awal Ia menghendaki hidup, bukan maut; damai, bukan kekerasan; berkat, bukan kutuk.

Tafsir Bacaan

Kejadian 1-Kamu Diinginkan, Bukan Sekadar Ada

Ada satu hal kecil dalam kisah penciptaan yang mudah terlewati dan menurut saya, ini salah satu hal terindah dalam seluruh Kitab Suci.Sebelum manusia bekerja, sebelum ada satu pun tugas yang dipikul, Allah lebih dahulu memberkati.

Manusia tidak memulai hidupnya dengan daftar kewajiban. Manusia memulai hidupnya dengan sabda yang sudah lebih dahulu berkata: “Engkau baik. Engkau diberkati. Aku menghendaki engkau ada.”

Itu bukan kalimat yang ditujukan kepada manusia yang sudah terbukti baik. Itu sabda yang diucapkan sebelum apa pun. Sebelum ada pencapaian, sebelum ada prestasi, sebelum ada pembuktian diri.

Saudara-saudari, banyak dari kita tumbuh dengan perasaan bahwa kita harus terus membuktikan diri di hadapan orang tua, pasangan, atasan, bahkan di hadapan Tuhan. Perasaan bahwa kasih itu harus diraih. Bahwa kita baru berharga kalau berguna.

Tapi Kitab Kejadian membantah itu semua. Kamu berharga bukan karena kamu berguna. Kamu berharga karena Allah menginginkan kamu ada.
Maka segala kerusakan yang kita lihat perang, penindasan, kekerasan dalam rumah, bumi yang dirusak bukan rancangan Allah. Itu semua adalah kerusakan yang masuk karena dosa.

Dosa mengubah wajah berkat menjadi wajah luka. Tapi itu bukan akhir cerita. Sebab Allah tidak membiarkan kerusakan itu jadi kata terakhir.

Keluaran 14 · Allah yang Berdiri di Belakang Kita

Sebelum laut terbelah, malaikat Allah dan tiang awan berpindah dari depan ke belakang umat. Allah tidak hanya memimpin dari depan. Ia bergerak ke belakang, berdiri di antara Israel dan pasukan Firaun yang mengejar.
Bayangkan itu sejenak.

Sebelum Ia membuka jalan ke depan, Ia lebih dahulu menahan ancaman dari belakang. Sebelum ada tanah kering untuk diinjak, ada Allah yang sudah berdiri melindungi sisi yang paling rapuh.

Saudara-saudari, banyak dari kita hidup seperti Israel di tepi laut itu. Di belakang ada yang mengejar luka lama yang belum sembuh, utang yang terus bertambah, kebiasaan yang susah dilepas, suasana rumah yang tidak tenang.

Bahkan hal-hal kecil seperti: baru bangun tidur yang dicari bukan orang di sebelah kita, bukan doa, tetapi layar handphone. Di depan, jalan terasa buntu.

Sabtu Suci berkata: Allah tetap bekerja, bahkan ketika laut belum terbelah. Ia berdiri di belakang kita. Ia menahan. Ia menjaga. Ia tidak pernah membiarkan kita sendirian.

Dan perhatikan akhir kisah Firaun. Kereta-kereta yang gagah, tentara yang banyak tenggelam semua. Bukan karena Allah kejam. Tapi karena itulah akibat alami dari kuasa yang bertumpu pada kekerasan dan penindasan. Kuasa seperti itu tidak pernah bisa bertahan selamanya.

Matius 28 · Yang Tampak Kalah, Justru Menang

Lalu kita sampai pada puncak cerita: kebangkitan Kristus.
Di halaman kubur, Injil mencatat sesuatu yang hampir terasa seperti ironi yang menggetarkan: para penjaga yang hidup menjadi seperti orang mati sementara Yesus yang sungguh mati justru hidup.

Inilah logika Paskah: kuasa yang bertumpu pada kekerasan penjaga bersenjata, segel kekaisaran, batu kubur yang berat ternyata lumpuh di hadapan kasih yang rela mati. Sementara kasih yang kelihatan kalah justru bangkit.

Batu kubur digulingkan bukan agar Yesus bisa keluar Ia yang bangkit tidak butuh celah sempit. Batu itu digulingkan agar kita bisa masuk dan melihat bahwa kubur itu kosong. Bahwa maut tidak lagi punya kata terakhir.

Dan lihatlah siapa yang dipercaya membawa berita itu pertama kali bukan para rasul yang bersembunyi, tapi para perempuan yang datang dengan rempah-rempah dan air mata. Mereka yang dianggap tidak penting oleh dunia, justru menjadi saksi pagi yang paling mengubah sejarah.

Lalu Yesus berkata: pergilah ke Galilea. Bukan ke Yerusalem yang megah. Ke Galilea tempat ikan dan perahu, tempat pasar dan kerja keras, tempat hidup sehari-hari. Di sanalah Kristus yang bangkit mau dijumpai. Paskah bukan pelarian dari dunia. Paskah adalah api baru yang dikirim kembali ke dalam dunia.

Pesan Pastoral untuk Umat

Saudara-saudari terkasih,
Inilah kabar besar malam ini: Allah tidak pernah menyerahkan dunia kepada kerusakan. Karena itu, Paskah bukan sekadar pesta gerejawi. Paskah adalah jawaban Allah terhadap dunia yang terluka.

Kita sering mendengar orang berkata: dunia makin tua, dunia makin kehilangan arah. Dan memang ada banyak tanda yang membuat hati kita gelisah.

Anak-anak makin mudah kehilangan hormat kepada orang tua. Yang dulu dipanggil dengan kasih dan hormat, sekarang kadang dipanggil seperti teman sebaya saja: bro atau sis. Ada orang yang melakukan kesalahan, ketika dinasihati, menjawab dengan keras: Bukan kamu yang kasih saya makan, jadi kamu tidak berhak menasihati saya.

Di media sosial, orang mudah sekali menulis doa, keluhan hidup, kata-kata rohani, seolah-olah Tuhan juga cukup dicari di layar handphone. Ada yang tampak bijak di Facebook, pandai menulis sabar bun, mungkin ini cobaan, tetapi dalam kehidupan nyata justru ia cepat emosi, mudah marah, dan melukai orang-orang terdekatnya. Di ruang digital ia tampak lembut, tetapi di rumah ia menjadi keras dan pemarah.

Ada juga yang masuk ke pinjaman online, judi online, atau koperasi harian dengan harapan hidup cepat tertolong, tetapi akhirnya justru terjerat lebih dalam. Ketika penagih datang ke rumah, barulah muncul keluhan, ketakutan, dan penyesalan. Hidup yang mau dibangun di atas jalan pintas akhirnya malah kehilangan damai.

Semua kenyataan ini membawa kita kepada satu pertanyaan yang serius. Pertanyaannya bukan lagi: apakah Yesus sungguh bangkit? Karena kalau soal itu, iman kita sudah menjawab: Ya, Kristus sungguh bangkit. Pertanyaan yang lebih menantang ialah: apakah kita mau hidup sebagai orang-orang Paskah?

Orang Paskah bukan orang yang sempurna. Orang Paskah adalah orang yang membiarkan kebangkitan Kristus menyentuh hal-hal yang nyata dalam hidupnya. Mulut yang suka melukai mulai belajar lebih lembut.

Tangan yang suka kasar mulai menahan diri. Kebiasaan yang menjerat mulai satu per satu ditinggalkan. Rumah yang semula tegang pelan-pelan belajar menjadi tempat aman.
Itu tidak perlu sempurna dari malam ini. Tapi harus dimulai dari malam ini.

Allah Belum Selesai Bekerja
Saudara-saudari terkasih,
Kubur boleh tampak tertutup. Hati boleh terasa lelah. Hidup boleh terasa seperti jalan buntu. Tapi malam ini Gereja berdiri dan menyatakan dengan tenang: Allah belum selesai bekerja. Ia yang sejak awal menciptakan dengan berkat, yang berdiri di belakang umat-Nya di tepi laut, adalah Allah yang sama yang menggulingkan batu kubur pada pagi Paskah.

Maka jangan pulang malam ini hanya dengan lilin di tangan. Pulanglah dengan sesuatu yang lebih berharga keyakinan di dalam dada bahwa di tengah hidup yang berat sekalipun, Allah tetap berdiri di belakang kita. Ia menahan. Ia menjaga. Dan pada waktunya, laut akan terbelah. Yang terakhir bukan maut melainkan hidup.

Yang terakhir bukan kekerasan melainkan kasih yang menang.
Dan kubur itu kosong Ia mendahului kita ke Galilea. Selamat Paskah.
Kristus sungguh bangkit!
Amin.

Meriah

Rangkaian acara liturgis Sabtu Suci berjalan dengan sangat meriah. Kemeriahan ditandai dengan kemasan liturgis yang disiapkan secara baik.
Koor Misa Sabtu Suci ditanggung wilayah II yang dipimpin Ibu Magdalena Manul. Torok persembahan dibawakan tetua adat Valens Jemahat.

Penampilan koor ini mendapatkan apresiasi dari umat yang hadir, termasuk Yang Mulia Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat.

Sementara Misa pada Hari Raya Paskah di Gereja Reo, Minggu (5/4/2026) dipimpin Romo Agustinus Sunday Cakputra di mana koor ditanggung oleh Umat Wilayah II yang dipimpin Ibu Elfrida Galgani, dan torok persembahan dibawakan oleh Florianus Tonce.

Pantauan media ini, pelaksanaan Tri Hari Suci dan Hari Raya Paskah berjalan sukses berkat adanya kerja sama yang baik di antara panitia di bawah pimpinan Ketua Wilayah I Marsel F. Dii.

Terima Kasih

Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat dalam sambutannya sebelum penutupan misa antara lain menyampaikan selamat Pesta Paskah kepada segenap umat Paroki Reo.

“Kristus telah bangkit. Semoga sukacita kebangkitan-Nya memenuhi rumah-rumah kita, menguatkan keluarga-keluarga kita, dan meneguhkan langkah hidup kita semua. Paskah bukan hanya perayaan di gereja, tetapi juga undangan untuk bangkit dalam hati, dalam iman, dan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Uskup.

Uskup juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan rangkaian perayaan Sabtu Suci dan yang telah menerima kunjungannya di Paroki Reo.

“Saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada panitia, regu penjemputan, pihak keamanan dari TNI dan Kepolisian, serta semua pihak yang telah bekerja keras menyukseskan seluruh rangkaian perayaan ini. Kehadiran dan pelayanan saudara-saudari sekalian menunjukkan bahwa Gereja hidup karena banyak hati yang rela bergerak dan melayani.”

“Saya juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh petugas liturgi: para ajuda, lektor dan lektris, pemazmur, serta koor yang telah membantu umat merayakan misteri iman ini dengan khidmat, indah, dan penuh penghayatan. Liturgi yang baik menolong umat masuk lebih dalam ke dalam karya keselamatan Tuhan. Terima kasih saya sampaikan kepada Pastor Paroki, Pastor Vikaris, DPP dan DKP, para Ketua Stasi, Wilayah, dan KBG, serta segenap umat terkasih di Paroki Reo. Kehidupan Gereja tidak dibangun oleh satu-dua orang saja, tetapi oleh kebersamaan seluruh umat yang berjalan bersama, saling menopang, dan saling menguatkan,” kata Uskup.

Sementara Ketua Pelaksana I DPP Klementinus Pedu Sakri dalam sambutannya antara lain menyampaikan terima kasih kepada YM Uskup Ruteng, Pastor Paroki dan Pastor Vikaris Paroki Reo, para pastor yang mendampingi Uskup Ruteng, para suster, frater, Panitia Paskah 2026, Ketua Stasi, Wilayah, KBG, TNI-Polri, Pol PP, Unit Perhubungan Reo,tim kesehatan, PMI, Remaja Masjid, para penanggung liturgis, para anggota koor serta semua elemen umat yang dengan cara tersendiri menyukseskan momen Tri Hari Suci dan Hari raya Paskah di Paroki Reo.

Untuk diketahui, perayaan Sabtu Suci di Paroki Reo pada 4 Agustus 2026 terpusat pada lima lokasi yakni di Gereja Reo dipimpin YM Uskup Ruteng Mgr. Sipri Hormat, di Gereja Stasi Wangkung dipimpin Romo Lazarus Pice Gonta, di Kapela Stasi Nggorang dipimpin Romo Agustinus Sunday Cakputra; di Gereja Stasi Satar Teu dipimpin Romo Emil Jehadus; dan di gereja Stasi Wae Belang dipimpin Romo Benediktus Bomenarjo.

Sedangkan untuk Perayaan Minggu Paska pada Minggu 5 April 2026 di mana di Gereja Reo dipimpin Romo Agustinus Sunday Cakputra; di Gereja Stasi Wangkung dipimpin Romo Mansuetus Hariman; di gereja Stasi Satar Teu dipimpin Romo Emil Jehadus; di Gereja Stasi Nggorang dipimpin Romo Benediktus Bomenarjo, dan di gereja stasi Wae Belang dipimpin Romo Lazarus Pice Gonta.*

Laporan: Wall Abulat I Editor: Wentho Eliando

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *