Uskup Maumere Edwaldus Berkati Rumah Biara dan Kapela Susteran Santa Anna Luzern Bopoma-Mangulewa – MudikaLink

Uskup Maumere Edwaldus Berkati Rumah Biara dan Kapela Susteran Santa Anna Luzern Bopoma-Mangulewa

MUDIKALINK.net-Uskup Keuskupan Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu memimpin perayaan ekaristi pemberkatan Rumah Biara dan Kapela Novisiat Suster-Suster Santa Anna Luzern, di Lebi Kopo, Stasi Bopoma, Paroki Mater Dolorosa Mangulewa, Kevikepan Bajawa, Keuskupan Angung Ende, Jumat 14 Juni 2024.

Dalam perayaan yang mengusung tema diambil dari Injil Matius 25:40 “Segala Sesuatu Yang Kamu Lakukan Dari Saudaraku Yang Paling Hina Ini, Kamu Melakukannya Untuk Aku”, Uskup Edwaldus didampingi Koordinator Kevikepan Bajawa Romo Gabriel Idrus, Pastor Paroki Mater Dolorosa Mangulewa, Pater Porsi Nusa SVD serta puluhan Imam Konselebran lainnya.

Khotba Uskup Edwaldus

Uskup Ewaldus dalam khotbahnya mengatakan Kisah Penghakiman di akhir zaman dalam narasi Injil tersebut sungguh menjadi sebuah kisah yang menarik untuk didengar. Namun kisah ini menghadirkan sebuah teguran, nasehat dan alasan bagi semua orang yang masih hidup dan berjuang di dunia.

“Narasi Injil ini secara terang benderang menggambarkan pentingnya hati, pikiran serta tindakan yang baik selama masih hidup serta menguatkan hidup untuk terus dalam alur belas kasihan dalam kerahiman ilahi”.

Pemberkatan Rumah Biara dan Kapela Susteran Santa Anna Luzern Bopoma-Mangulewa

Uskup Edwaldus mengatakan, ada dua refleksi dari Injil Matius itu. “Pertama, rahmat dan belas kasih Allah mesti disyukuri dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa perasaan syukur dan sikap memberi makna maka hidup cenderung mendatar, dangkal dan berjalan begitu saja”.

“Kedua, hati dan pikiran yang baik haruslah dibuktikan dengan tindakan cinta kasih atau perbuatan baik yang harus mengorbankan kesenangan dan kenikmatan yang melekat dalam kecenderungan naluriah,” kata Uskup Edwaldus.

Uskup Edwaldu menambahkan, tema perayaan pemberkatan Biara Suster Santa Anna Luzern, sungguh menantang komitmen hidup iman kita, apakah kita sudah dengan penuh ketulusan mengasihi orang kecil yang berkekurangan dan yang tersisihkan atau tidak.

Pemberkatan ini, kata Uskup Edwaldus, “mengajak kita untuk mempersembahkan segala usaha pembangunan rumah Biara dengan segala suka dukanya. Selain itu membawa kuasa Roh Kudus menyucikan dan menguduskan setiap sudut bangunan bahkan yang terkecil sekalipun.”

“Rumah Biara ini bukanlah rumah tertutup melainkan rumah doa yang terbuka pada karya Roh Kudus dalam hidup Iman kita,” tandas Uskup Edwaldus.

Kata Uskup Edwaldus, pesan penting untuk dimaknai dengan kehadiran biara tersebut, yakni kebanggaan seorang pengikut Kristus bukan terletak pada kehebatan dan kekuatan dirinya melainkan sama ta’ala yang ada di dalam dirinya.

“Apapun kehebatan dan kemampuan orang-orang Kristen, ia harus tetap rendah hati. Karena manusia hanyalah alat di tangan Tuhan yang melakukan karya kabar baik di tengah dunia dan Bunda Theresa dari Kalkuta menjadi contoh kekudusan hidup itu.”

Uskup Edwaldus mengatakan, sebuah biara beserta kenyamanan dan kemapanannya belumlah menjadi sebuah tanda Tuhan hadir dan berdiam di dalamnya.

“Karena yang paling utama adalah kuatnya doa dan kesetiaan menghayati hidup miskin, murni dan hidup taat adalah salah satu cara Tuhan mau berdiam di dalam komunitas dan Biara.”

Ditambahkan Uskup Edwaldus, “begitu banyak orang yang membutuhkan perhatian dan cinta kita semua termasuk dari Kongregasi Biara Suster-Suster Santa Anna Luzern. Hidup yang kejam dan keras, yang seakan tanpa berpengharapan, mengajak semua orang untuk terus berdoa bagi mereka yang sedapat mungkin dapat membawa dalam rangkulan karya nyata Gereja.”

“Gereja yang semakin bertolak ke dalam (Duc in Altum) sesungguhnya membawa pesan gereja yang keluar dari zona nyaman dan zona mapan untuk lebih mengenal gelombang tantangan kehidupan kita dan membiarkan Tuhan berkarya di dalam diri kita oleh tuntunan Roh Kudus,” tutup Uskup Edwaldus.

Didirikan di Swiss

Pimpinan Umum (Superior General), Suster Elisabeth Antony SAL dalam sambutan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan Pimpinan Biara Susteran Santa Anna Luzern Lebi Kopo, Suster Sophy SAL mengatakan Kongregasi Santa Anna Luzern didirikan Fr. Wilhelm Mayer di Luzern, Swiss.

Pemberkatan Rumah Biara dan Kapela Susteran Santa Anna Luzern Bopoma-Mangulewa

Tergerak oleh kata-kata Kristus “Sesungguhnya apa yang telah melakukan terhadap yang paling hina ini kamu telah melakukan terhadap Aku”, dirinya mendirikan Kongregasi Suster Santa Anna pada tanggal 21 November 1909 untuk membantu para ibu dan anak yang sakit dan menderita.

“Karisma Kami: ‘Hidup untuk menunjukkan belas kasih Tuhan dan Motto kami: ‘Demi Yesus dan Demi Cinta-Nya,’” kata Elisabeth Antony.

Suster Elisabeth Antony mengatakan, tujuan Spiritualitas adalah “Berjalanlah di hadirat Tuhan dan hidup selalu dalam kesatuan dengan-Nya.

Pengembangan dan Penyebaran Misi

Pengembangan dan penyebaran Misi sesuai dengan keinginan Pendiri  Fr Wilhel  Meyer, suster-suster Pionir datang dari Swiss ke India pada Desember 1927 untuk membawa belas kasihan Tuhan kepada orang-orang yang menderita, menjadi Malaikat Belaskasih adalah Misi mereka.

Perkembangan Serikat, baik dalam jumlah maupun keragaman pelayanannya, merupakan kesaksian nyata akan devosi dan komitmen para pionir dari Swiss.

Kongregasi Suster Santa Ann, Luzern berkarya di negara-negara seperti Swiss, India, Afrika Timur dan Indonesia.

Para suster melayani umat di (Tanzania, Kenya, Uganda) Italia, Timor Leste dan Indonesia. Telah berkarya di 46 Keuskupan di India, 10 Keuskupan di Afrika Timur, 4 Keuskupan di Italia, Keuskupan di Timor Leste dan di Indonesia yaitu Keuskupan Agung Ende. Jumlah para suster saat ini, ada 906 orang dengan Komunitas 135 dan jumlah para calon lebih dari 100 orang di seluruh dunia.

Hadir pada perayaan pemberkatan tersebut, Bupati Ngada Andreas Paru dan Ibu, Pimpinan Umum (Superior General) Suster Elisabeth Antony SAL, Pimpinan Biara Susteran Santa Anna Luzern Lebi Kopo, Bopoma, Suster Sophy SAL, sejumlah biarawan biarawati, umat Paroki Mangulewa dan undangan lainnya. *

Laporan: Wim de Rozari I Editor: Wentho Eliando

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *