Berteduh di Bawah Atap Kapela Jengkalang – MudikaLink

Berteduh di Bawah Atap Kapela Jengkalang

– Kapela Jengkalang berlokasi sekitar 8 km arah utara dari Kota Reo, Keuskupan Ruteng, tepatnya di jalur pantai utara menuju Paroki Robek dan Labuan Bajo.

– Kapela Jengkalang merupakan locus berahmat karena di tempat ini 112 tahun yang lalu tepatnya pada 17 Mei 1912 terjadi pembaptisan lima orang Katolik perdana Gereja Katolik Manggarai.

– Momen pembaptisan lima orang Manggarai ini menjadi berahmat karena awal bagi Kongergasi SJ untuk memulai misi menaburkan benih-benih Sabda dan iman Gereja Katolik di Bumi Congkasae

Oleh: Walburgus Abulat

MUDIKALINK.net-Minggu, 15 Desember 2024. Suatu penggalan waktu tak sekadar momen siklis atau waktu khronos yang merupakan jalinan satu sesudah yang lain.

Dalam konteks penanggalan liturgis Gereja Katolik momen 15 Desember 2024 itu merupakan Minggu ketiga Adventus. Minggu III Advent dalam liturgis Gereja Katolik disebut Minggu Gaudete atau Minggu Sukacita.

Pada Minggu Sukacita ini, penulis meluangkan waktu untuk mengunjungi salah satu lokasi bersejarah dalam Gereja Katolik Keuskupan Ruteng yakni Kapela Jengkalang, Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo, Keuskupan Ruteng.

Kapela Jengkalang ini berlokasi sekitar 8 km arah utara dari Kota Reo tepatnya di jalur pantai utara (Pantura) menuju Paroki Robek dan Labuan Bajo.

Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Ruteng mencatat bahwa di lokasi yang saat ini telah dibangun Kapela Jengkalang merupakan locus berahmat karena di tempat ini 112 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 17 Mei 1912 terjadi pembaptisan lima orang Katolik perdana Gereja Katolik Manggarai oleh Pater Henrikus Looijmanns, SJ.

Kelima umat Katolik perdana yang dipermandikan itu adalah Henricus Andara, Agnes Mina, Katarina Arbero, Caecelia Weloe dan Helena Loekoe.

Kedatangan penulis di tengah rintikan hujan itu diterima oleh beberapa warga yang berdomisili di sekitar Kapela Jengkalang di antaranya Bernadus Samon (47) dan Aloysius Hano.

Jurnalis Walburgus Abulat berpose dengan salah seorang umat Stasi Jengkalang di depan Kapela Jengkalang, Minggu (15/12/2024). Foto Aloysius Hano

Kedua warga yang juga dimandatkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban bagi pengunjung ke lokasi bersejarah ini sangat gembira menerima kedatangan penulis, yang sebelum pertemuan memperkenalkan identitas sebagai jurnalis.

Setelah mendengar maksud kedatangan penulis yang antara lain hendak menulis lima orang Katolik baptisan perdana di Manggarai Raya itu, dua narasumber antusias menceritakan perihal keturunan lima orang terbaptis perdana itu, dan memperlihatkan dua kubur dari dua dari lima umat katoli pertama itu yang letaknya di samping utara Kapela Jengkalang.

“Itu dua kubur dari dua jenazah terbaptis perdana,” kata Bernadus. Bernadus juga menunjukkan beberapa rumah dari ahli waris terbaptis yang letaknya sekitar 50 meter dari Kapela Jengkalang. “Itu rumah salah satu ahli waris dari kaum terbaptis,” katanya.

Dalam kondisi hujan yang semakin lebat, kami saat itu beranjak dari lokasi percakapan di depan kolam depan Kapela ke teras Kapela Jengkalang.

Kami bertiga dan beberapa pengumjung berteduh di bawah atap kapela, sambil mendengarkan lagu Gereja Tua ciptaan Musisi Ternama Indonesia Benny Panjaitan dan dirilis tahun 1970 oleh Grup musik Panjaitan Bersaudara (Penbers).

Lirik lagu Gereja Tua ini mengingatkan momen berahmat baptisan perdana lima umat Katolik pertama itu.

Masihkah kau ingat waktu di desa

Bercanda bersama di samping gereja

Kala itu kita masih remaja

Yang polos hatinya bercerita

Waktu kini tlah lama berlalu

Sudah sepuluh tahun tak bertemu

Entah di mana kini kau berada

Tak tahu di mana rumahnya

Reff

Hanya satu yang tak terlupakan

Kala senja di Gereja Tua

Waktu itu hujan rintik-rintik

Kita berteduh di bawah atapnya

Kita berdiri begitu rapat

Hingga suasana begitu hangat

Tanganmu kupegang erat-erat

Kenangan itu selalu kuingat

II

Waktu kini telah lama berlalu

Sudah sepuluh tahun tak bertemu

Entah di mana kini kau berada

Tak tahu di mana rumahnya

Hanya satu yang tak terlupakan

Kala senja di Gereja Tua

Wakttu itu hujan rintik-rintik

Kita berteduh di bawah atapnya

Kenangan itu selalu kuingat.

Meskipun kini  kau telah berdua

Itu bukanlah kesalahanku

Kuhanya ingin dapat bertemu

Bila bertemu puaslah hatiku

Syair lagu yang sarat makna di atas menyadarkan kami akan satu hal saat itu bahwa di tengah hujan lebat yang mengguyuri seluruh wilayah Manggarai Raya saat itu, termasuk di Stasi Jengkalang, penulis dan para pengunjung sedang berteduh di bawah atap Kapela Jengkalang yang bernilai sejarah itu.

“Kita berteduh di bawah atapnya,” demikian satu baris syair yang membatin dalam diri penulis dan pengunjung saat itu.

Berkat atap Kapela Jengkalang, kami terselamatkan dari guyuran hujan lebat yang tak kunjung henti selama beberapa jam. “Kami berteduh di bawah atapnya.”

Jasmerah

Jurnalis Walburgus Abulat (tengah) didampingi dua warga Jengkalang Bernadus Samon (kiri) dan Aloysius Hano (kanan) berpose di depan Kapela Jengkalang, Minggu (15/12/2024). Foto Istimewa

Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah). Demikian salah satu pesan bermakna yang disampaikan Proklamator dan Presiden Pertama RI Ir, Soekarno.

Pesan bermakna ini membantu kita untuk menelusuri secara sekilas sejarah Gereja Katolik di Manggarai Raya dalam tenggang waktu satu abad  terakhir.

Sejarah gereja mencatat bahwa misi gereja Katolik di Flores secara intensif dibuka pada tahun 1860 di mana saat itu, Prefek Apostolik Hindia Belanda Mgr. Petrus Francken yang berkedudukan di Jakarta (Batavia) mengirim Reverindus Dominus (RD). J.P.N. Sanders ke Larantuka.

RD. Sanders saat itu berkarya setahun di Larantuka, dan pada tahun 1861 ia kembali ke Jakarta (bdk. Artikel Sejarah Ringkas Gereja Lokal Keuskupan Ruteng dalam Buku Kenangan Tahbisan Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng 14 April 2020 halaman 42-59 dan Artikel Sejarah Misi Katolik Keuskupan Maumere dalam Buku The King’s Good Servant But God’s First–Kenangan 50 Tahun Pasthorus Maumere Karya Walburgus Abulat, Egenius Moa dan Jack Herin hal 1-7).

Misi yang dimulai RD. Sanders kemudian dilanjutkan oleh RD. F.J.W. Fransen. RD. Fransen kemudian, tepatnya pada tahun 1862 mendirikan sekolah pertama untuk masyarakat Flores yang berlokasi di  Larantuka.

Setahun kemudian, otoritas kongregasi SJ mengutus Reverindus Pastor (RP) G. Metz, SJ ke Larantuka, Flores. Kedatangan misionaris Kongregasi SJ ini membuka lembaran baru karya Kongregasi Serikat Yesus (SJ) di Nusa Tenggara.

Kehadiran misionaris SJ, selain ‘merawat’ umat katolik yang sudah ada di Larantuka dan wilayah Sikka, para imam kongregasi ini juga terpanggil untuk menyebarluaskan agama Katolik ke wilayah barat Flores hingga ke Labuan Bajo.

Dalam semangat di atas, maka  RP. Engbers, SJ yang saat itu (tahun 1911) dipercaya sebagai pastor tetap d Sikka meluangkan waktu untuk mengunjungi orang-orang katolik asal Larantuka yang berdomisili di Labuan Bajo selama enam hari sejak 14 hingga 19 Juni 1911.

Selama di Labuan Bajo, RP. Engbers membaptis anak-anak kecil orang Katolik asal Larantuka yang bekerja sebagai penyelam mutiara di Labuan Bajo (bdk:Buku Kenangan Tahbisan Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng 14 April 2020 halaman 45).

Setahun kemudian, tepatnya pada 17 Mei 1912, Misionaris Kongregasi SJ lainnya, RP. Henrikus Looijmans, SJ membaptis lima orang Manggarai Pertama yang masuk agama Katolik yang locusnya terjadi di Jengkalang, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok.

Kelima orang Manggarai Perdana yang dibaptis menjadi penganut agama Katolik itu adalah Katarina (Arbero), Henricus, Agnes Mina, Caecelia  Weloe dan Helena Loekoe.

Momen pembaptisan lima orang Manggarai ini menjadi berahmat karena awal bagi kongergasi SJ untuk memulai misi menaburkan benih-benih Sabda dan iman Gereja Katolik di Bumi Congkasae. Semangat ini kemudian dilanjutkan dan diperdalam oleh Kongregasi Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) selama periode 1914-1960.

Karya misinaris SVD di Manggarai Raya semakin mendapatkan maknanya pasca Tahta Suci mengangkat RP. Petrus Noyen,SVD menjadi Perfek Apostolik (Wakil Tahta Suci) Sunda Kecil  di mana wilayah Perfektur Apostolik ini juga mencakupi Pulau Flores.

Mgr. Petrus Noyen, SVD kemudian menetapkan Ndona, Ende sebagai Pusat Perfektur Apostolik. Sejak dipercaya menjadi Perfek Apostolik Sunda Kecil yang berkedudukan di Ndona Ende, Mgr. Noyen melakukan tugas kegembalaan dengan mengunjungi umat Katolik di seluruh daratan Flores, termasuk di Manggarai Raya.

Sejarah Gereja mencatat, Mgr. Petrus Noyen, SVD melakukan patroli di sejumlah lokasi di Manggarai di antaranya Reo, Labuan Bajo, dan Ruteng pada Oktober 1914.

Setahun kemudian tepatnya November 1915 , Mgr. Noyen melakukan patrol di Reo, Labuan Bajo dan Ruteng. Pada saat kunjungan ini, Mgr. Noyen membaptis sejumlah orang Manggarai menjadi Katolik.

Semangat yang telah diletakkan Mgr. Noyen ini dilanjutkan oleh ratusan para misionaris SVD lainnya.

Sejumlah misionaris SVD dapat kita sebutkan, di antaranya RP. Willem Back, SVD (1915-1918), RP. Bernhard Glanemann, SVD (1920), RP. Frans de Lange, SVD (1920), RP. Willem Janssen, SVD memilih menetap di Lengko Ajang sejak 1921, RP. Franz Dorn, SVD (1922), RP. Franz Eickmann, SVD (1923), RP. Leo  Van Well, SVD dan RP. Thomas Koning,SVD (1927), RP. Piet Heerkens, SVD, RP.Theodorus Thoolen, SVD, RP. Nico Bot, SVD, RP. Adolf Burger, SVD; RP. Wilhelmus Van Bekkum, SVD yang tiba di Ruteng tahun 1937.

Pater Van Bekkum memusatkan perahtian pelayanannya pada etnologi dan persekolahan (bdk. bdk. Artikel Sejarah Ringkas Gereja Lokal Keuskupan Ruteng dalam Buku Kenangan Tahbisan Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng 14 April 2020 halaman 50-52).

Sejarah mencatat bahwa ketika kongregasi SVD  merayakan perak misinya di Flores pada 20 Juli 1939 jumlah umat Katolik di Manggarai saat itu terdata 65.592 plus umat yang terbaptis baru sebanyak 7.388 orang. Umat sebanyak di atas saat itu dilayani oleh 14 orang misionaris SVD yang terpusat pada 18 stasi.

Sejak saat itu perkembangan umat Katolik di Manggarai sangat pesat. Perkembangan signifikan ini dipengaruhi kehadiran sekolah-sekolah Katolik yang dirintis oleh RP. Wilhelmus van Bekkum, SVD yang kemudian dipercaya Tahta Suci menjadi Perfektur Apostolik di Ruteng (1951), dan menjadi Uskup Keuskupan Ruteng (1961).

Data menunjukkan bahwa posisi pada 1925 di Manggarai ada 25 sekolah. Saat perang dunia II (1944) jumlah sekolah katolik meningkat menjadi 52 buah dengan jumlah murid 7.638 siswa dan guru 117 orang (Ibid. 49).

Keberadaan sekolah-sekolah yang ada dijadikan medium untuk diberikan pengajaran agama Katolik dan kemudian mereka ini dibekali sebelum dibaptis.

Selain pastor SVD, kehadiran guru agama katolik di sekolah-sekolah turut andil meningkatkan jumlah umat Katolik.

Tugas kegembalaan Mgr. Hendrikus Leven, SVD plus kehadiran para imam SVD pribumi seperti RP. Yan Bala Letor, SVD plus imam projo pertama dari Manggarai RD. Lukas Lusi. Plus RP. Markus Malar, SVD; RP. Zakarias Ze, SVD (1944).

Periode Vikariat Apostolik (1951-1961).

Pada tahun 1951, Paus Pius XII menetapkan pemekaran Apostolik Kepulauan  Sunda Kecil menjadi tiga vikariat yakni Vikariat Ende, Vikariat Larantuka, dan Vikariat Ruteng.

Dengan status Vikariat maka tahta Suci mempercayakan RP. Wilhelmus Van Bekkum, SVD menjadi Wakil Tahta Suci di Ruteng. Mgr.Wilhelmus van Bekkum ditahbiskan oleh Mgr. Henricus Leven, SVD pada 13 Mei 1951.

Sebagai Vikaris Apostolik Mgr. Van Bekkum terus meningkatkan pelayanan. Untuk memudahkan pelayanan, Mgr. Van Bekkum memekarkan wilayah menjadi 4 dekenat yakni Dekenat Ruteng dengan Dekennya RP. Jan Karsten, SVD; Dekenat Cancar dengan Deken RP. Markus Malar, SVD; Dekenat  Orong dengan Deken RP. Nico Bot, SVD; dan Dekenat Lengko Ajang dengan Dekan RP. Wilhelm Janssen, SVD.

Pada tahun 1953, Mgr. Van Bekkum menambah jumlah misionaris di Keuskupan Ruteng dengan mendatangkan para imam Kongregasi Fransiskan di bawah pimpinan RP. Fulco Vugts, OFM.

Para imam Kongregasi OFM yang pernah bertugas di Manggarai di antaranya RP. Konradus de Zoomer, OFM; RP. Hugo, OFM; RP. H. vd. Hoogen, OFM; RP. Inacio Dresch, OFM; RP. P.A. Mariani OFM, dan sejumlah imam Kongregasi OFM lainnya.

Para imam Kongregasi OFM ini diberi penugasan khusus di bidang pemeliharaan rohani. Mgr. Van Bekkum kemudian  menugaskan para imam Ordo Fransiskan untuk menangani Paroki  Pagal sejak 8 April 1958.

Mgr. Van Bekkum juga melakukan terobosan dengan mendatangkan seorang imam projo/sekuler dari Belgia RD. Rene Daem untuk memperkuat pastoral di Keuskupan Ruteng.

Semangat untuk membangun gereja semakin bertambah saat terjadinya momen berahmat penahbisan dua imam projo pertama dari Manggarai yakni RD. Yosef Fernandez dan RD. Max Nambu pada tahun 1960.

Kehadiran para imam lintas kongregasi, plus kehadiran imam pribumi serta pendirian sekolah-sekolah, termasuk Seminari Menengah Pius XII Kisol tahun 1955, dan Akademi Kateketik Ruteng pada 27 Agustus 1958 turut meningkatkan jumlah umat Katolik.

Aneka terobosan di atas semakin memberi ruang berahmat, tatkala Paus Yohanes XXIII melalui konstitusi Apostolik Quod Christum menetapkan berdirinya Hierarki Gereja Indonesia untuk terbentuknya 6 Provinsi Gerejawi (Keuskupan Agung) di Indonesia yakni Jakarta, Semarang, Medan, Makassar, Pontianak, dan Ende.

Mengacu pada ketentuan ini maka status Vikaris Apostolik (Wakil Tahta Suci) yang disandang Ruteng sebelumnya ditingkatkan menjadi Keuskupan.

Dengan demikian, Mgr. Wilhelmus van Bekkum yang sebelumnya menjadi Uskup Tiaga/Wakil Tahta Suci) diberi wewenang menjadi Uskup Keuskupan Ruteng.

Periode Sebagai Keuskupan 1 (1961-sekarang).

Jurnalis Walburgus Abulat berpose di depan monumen lima umat Katolik terbaptis perdana di Kapela Jengkalang, Jengkalang, Minggu (15/12/2024). Foto Istimewa

Setelah Ruteng mendapatkan status otonom sebagai Keuskupan tersendiri, maka sejak tahun 1961, Keuskupan yang saat ini memiliki umat sekitar 900 ribu lebih pernah dan sedang digembalakan oleh lima orang uskup.

Uskup pertama adalah Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD (1961-1972), lalu  Mgr. Vitalis Djebarus, SVD (1973-1981); Mgr. Eduardus Sangsun, SVD (1985-2008);  Mgr. Hubertus Leteng (2010-2017); dan Uskup Ruteng saat ini Mgr. Siprianus Hormat (2020-sekarang).

Berkat kepemimpinan lima uskup di atas plus dibantu oleh ratusan imam dari pelbagai kongregasi dan imam diosesan, maka ziarah Gereja Katolik di Keuskupan Ruteng terbilang gemilang, baik secara kuantitas yang diukur dari jumlah umat, maupun dari sisi kualitas sumber daya manusia (SDM) pastoral dan jmplikasi pastoral di tengah umat.

Para imam yang patut disebutkan turut memberi warna untuk perkembangan gereja katolik di Keuskupan Ruteng.

Dari kongregasi SVD di antaranya RP. Frans Dorn, SVD; RP. J. Karsten, SVD; RP. Yosef Klisan, SVD; RP. Yan Oleski, SVD; RP. Yan Loeters, SVD; RP. Bruno Bras Conterius, SVD; RP. Viktor Stevko, SVD; RP. Yosef Swingkels, SVD; RP. Yosef Krezmark, SVD; RP. Frans Galis, SVD; RP. Petrus de Graff, SVD;

RP. Lambert Quadem, SVD; RP. Otto Voller, SVD; RP. Stanis Mucek, SVD; RP. Stef Wroz, SVD; RP. Yohanes Swinkels, SVD; RP. Gerardus Smit, SVD; RP. Jil Verheyen, SVD; RP. Cornelis van Der Molen, SVD; RP. Yosef van Hoef, SVD; RP. Bruno Bras, SVD; RP. Josef Krcmar, SVD; RP. W. Wiebring, SVD;

RP. Hans Runkel,SVD; RP. Erwin Schmuts, SVD; RP. Viktor Stevko, SVD; RP. Frans Meszaros, SVD; RP. Y. Karsten, SVD; RP. Petrus Smith, SVD; RP.Robert; RP. Armin Mathier, SVD;RP.P.A. Lenders, SVD; RP. Paulus Rehmet, SVD; RP, Juraj Vojenciak, SVD;

RP. Stanis Wyparlo; RP. Frans Eickmann, SVD; RP. Theo Tolen, SVD; RP. Jack Gaeraeds, SVD; RP. Yoseph van Hoef, SVD; RP. Petrus Hilbertus, SVD; RP. Thomas Koning, SVD; RP. Yulius Verheyen, SVD; RP. A. Mohlman. SVD; RP. Yosef Klisan, SVD; RP. Hubertus Quaden, SVD; RP. Paulus Rehmet, SVD;

RP. Galus Mittemier, SVD; RP. Klaus Naumann, SVD; RP. Oto Voller, SVD; RP. Stanis Ograbek, SVD; r: RP. Ender, SVD; RP. Wiebring, SVD; RP. Bruno Brass, SVD; RP. P. Voestermans, SVD; RP. Geradus Mezenberg, SVD; RP. Frans Meszaros, SVD; RP. Patels, SVD; RP. Voestermans, SVD;RP. Nicolaus Boot, SVD.

Dari Kongregasi OFM di antaranya RP.Fulco Vughs, OFM, RP. Konradus de Zoomer, OFM; RP. Hugo, OFM; RP. H. vd. Hoogen, OFM; RP. Inacio Dresch, OFM; RP. P.A. Mariani OFM.

Selanjutnya, dalam perjalanan ziarah Keuskupan Ruteng dalam tiga dekade terakhir, tak dapat dipungkiri bahwa pesatnya perkembanagan gereja katolik dan meningkatnya jumlah umat katolik tak terlepas dari peran para imam diosesan yang bekerja hampir di semua lini bidang tugas di Keuskupan ini.

Sebut beberapa imam projo di antaranya dua imam projo pertama dari Manggarai yakni RD. Yosef Fernandez dan RD. Max Nambu pada tahun 1960; RD. Mikhael Wangku; RD. Alfons Segar; RD. Benediktus Bensi; RD. Hilarion Datus Lega yang kemudian dipercaya Tahta Suci menjadi Uskup Sorong Manokwari;

Lalu, RD. Hubertus Leteng, Mantan Praeses Seminari Tinggi Ritapiret yang kemudian dipercaya Tahta Suci menjadi Uskup Ruteng; RD. Siprianus Hormat yang kemudian dipercaya Tahta Suci menjadi Uskup Ruteng; RD.Dr. Maksimus Regus yang kemudian dipercaya Tahta Suci menjadi Uskup Keuskupan Labuan Bajo;

RD.Prof. Dr. John Boylon; RD. Dr. Inosensius Sutam, RD. Dr. Ino Dangku; RD. Dr. Fidelis Den; RD. Dr. Matias Daven; RD. Marthin Chen; RD. Rikardus Jehaut; RD.Dr. Manfred Habur yang saat ini dipercaya menjadi Rektor Unika Santo Paulus Ruteng; RD. Dr. Ambros Pedo (mantan Praeses Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret) serta ratusan para imam diosesan yang tersebar pada puluhan paroki dan lembaga pendidikan pada  tiga kabupaten yakni Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Manggarai Timur.

Berkat kerja para imam dari lintas kongregasi di atas, serta kualitas imam diosesan yang mumpingi maka Keuskupan Ruteng tercatat sebagai Keuskupan yang memiliki jumlah umat Katolik terbesar di Indonesia, dan yang memiliki perangkat pastoral yang SDMnya mumpungi.

Demikin secuil kisah dari Kapela Jengkalang, Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo, Keuskupan Ruteng, termasuk pengalaman penulis dan pengunjung yang terselamatkan dari amukan hujan lebat yang mengguyuri Manggarai Raya, termasuk di Stasi Jengkalang pada Minggu 15 Desember 2024 petang.

Penulis dan pengunjung saat itu terselamatkan karena berteduh di bawah atap Kapela Jengkalang sambil melantunkan lagu yang antara lain liriknya berbunyi “Kita berteduh di bawah atapnya.”

Kiranya secuil goresan ini membantu kita untuk melihat kembali kisah ziarah umat Katolik di Manggarai Raya yang diawali dengan pembaptisan lima umat Katolik perdana di Jengkalang, Reo pada 17 Mei 1912 serta pelbagai momen penting sejarah Gereja Katolik Manggarai Raya yang tercatat dalam sejarah Gereja Indonesia sebagai Keuskupan yang memiliki umat Katolik terbesar di Indonesia. *

Penulis Adalah Jurnalis, Kolumnis dan Penulis Buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *