Oleh: Walburgus Abulat
MINGGU, 3 Agustus 2025. Suatu penggalan waktu berahmat bagi umat Stasi Santo Henricus Jengkalang, Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo. Betapa tidak. Pada momen ini, terjadi suatu peristiwa berahmat yang ditandai penerimaan anggota baru umat Katolik di stasi itu. Nama anggota baru itu Dimas Satria Samers atau yang akrab disapa Satria. Satria sebelumnya menganut agama Kristen Protestan. Satria adalah putra pasangan Arkhilaus Samers asal Maluku dan Ibu Monita Nita asal Jengkalang.
Anggota baru ini terbilang plus. Mengapa? Karena Satria masuk menjadi anggota Gereja Katolik tidak seperti yang biasa kita saksikan melalui Sakramen Permandian/baptisan.
Keanggotaan kali ini terbilang plus karena ia diterima menjadi anggota melalui ritus Berita Acara Penerimaan Masuk Katolik dan pernyataan kesediaan dari yang bersangkutan.
Sebab, Satria sendiri sebelumnya sudah dipermainkan secara Agama Kristen Protestan dengan rumusan iman yang sama saat dipermainkan yakni Dalam Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Inilah berita acara penerimaan masuk Katolik bernomor 88/SPG/PR/VIII/2025 yang dibacakan Pastor Paroki RD. Mansuetus Hariman, demikian petikannya:
“Pada hari ini Minggu 3 Agustus 2025, bertempat di Kapela Stasi Santo Hendricus Jengkalang, Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo, telah dilangsungkan upacara penerimaan ke dalam Gereja Katolik saudara terkasih Dimas Satria Samers yang berasal dari Jengkalang,

Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok Kabupaten Manggarai dalam upacara resmi Gerejani yang dianjurkan dalam Tata Peribadatan Gereja Katolik yang dilaksanakan dengan memperhatikan Kitab Hukum Kanonik (KHK) Bab III No. 869#2. Sebagai umat Katolik saudara tersebut memilih nama Stefanus Dimas Satria Samers.
Berita acara ini dibuat dan ditandatangani di Kapela Stasi Santo Hendricus Jengkalang, Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo pada tanggal tersebut di atas.
Berita acara ini ditandatangani Pastor Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo RD. Mansuetus Hariman, anggota baru Stefanus Dimas Satria Samers, dan dua orang saksi.”
Usai pembacaan berita acara penerimaan, dilanjutkan dengan pernyataan pindah Gereja dari Stefanus Dimas Satria Samers di hadapan Pastor Paroki disaksikan orang tua, saksi, Frater Gabrile Mikael Mareska Udu dari Kongregasi Claretian (CMF) dan umat yang hadir.
Demikian petikannya: “Dengan ini menyatakan telah memutuskan untuk pindah dari agama dari Gereja Kristen Maseji Injili di Timor (GMIT) Ephata Reo, Klasis Flores Barat ke dalam Gereja Katolik dengan nama sebagai warga Gereja Katolik saya memilih Stefanus Dimas Satria Samers.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sadar dan tanpa paksaan oleh pihak mana pun. Usai membacakan pernyataan langsung disambut aplaus tangan meriah dari umat yang hadir.
Kapela Bersejarah
Kapela Jengkalang ini berlokasi sekitar 8 km arah utara dari Kota Reo tepatnya di jalur pantai utara (Pantura) menuju Paroki Robek dan Labuan Bajo.

Kapela Jengkalang ini menyimpan cerita yang mewarisi nilai sejarah bagi Gereja Katolik di Manggarai Raya, Keuskupan Ruteng dan Keuskupan Labuan Bajo.
Betapa tidak. Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Ruteng dan Keuskupan Labuan Bajo mencatat bahwa di lokasi yang saat ini telah dibangun Kapela Jengkalang merupakan locus berahmat karena di tempat ini 112 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 17 Mei 1912 terjadi pembaptisan lima orang katolik perdana Gereja katolik Manggarai oleh Pater Henrikus Looijmanns, SJ.
Kelima umat katolik perdana yang dipermandikan itu adalah Henricus Andara, Agnes Mina, Katarina Arbero, Caecelia Weloe dan Helena Loekoe.
Dari lima orang katolik ini dan berkat karya pastoral dari sejumlah pastor dari pelbagai kongregasi dan imam diosesan serta para tokoh awam maka jumlah umat Katolik di Manggarai Raya atau di Keuskupan Ruteng dan Keuskupan Labuan Bajo saat ini mencapai 1 juta orang. Jumlah ini terbilang terbesar dari 36 keuskupan lainnya yang ada di Indonesia.
Demikianlah kisah momen berahmat penerimaan anggota baru Stasi Jengkalang dan Kapela Bersejarah Jengkalang yang menandai ziarah perkembangan Gereja Katolik yang tidak saja bernilai sejarah untuk Stasi Jengkalang tetapi juga untuk Keuskupan Ruteng, bahkan untuk Gereja Katolik Sejagat. Deus benedicat-Tuhan memberkati. *
Penulis adalah Wartawan Florespos.net dan Mudikalink.net, Penulis Buku dan Pernah Diutus STFK Ledalero Menjalani Pertukaran Mahasiswa di Fakultas Theologia UKAW Kupang Tahun 1997

