Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
KISAH Elvi Normawati Kun, seorang Pekerja Migran Indonesia asal Timor Tengah Utara yang pulang dalam kondisi sekarat setelah disiksa oleh agen tenaga kerja di Malaysia, bukan sekadar berita duka. Ia adalah cermin retak dari sistem yang terus gagal melindungi martabat manusia.
Dalam setiap panggilan video yang ia lakukan sebelum tidur ketika ia sedang gulana di tanah rantau, tersimpan harapan dan cinta yang tak terputus kepada keluarganya.
Namun, ketika komunikasi terputus dan tubuhnya kembali ke tanah air dalam luka, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: mengapa penderitaan ini terus berulang?
Tragedi ini mengundang kita untuk merenungkan nilai ontologis manusia dalam sistem ekonomi global. Elvi bukan sekadar pekerja. Ia adalah pribadi yang memiliki kehendak, cinta, dan harapan. Namun dalam praktik migrasi tenaga kerja yang non-prosedural, manusia sering kali direduksi menjadi komoditas.
Ketika agen perekrut menyekap dan menyiksa, mereka menanggalkan etika relasional dan menggantinya dengan logika eksploitatif. Dalam perspektif Emmanuel Levinas, wajah Elvi yang menderita adalah panggilan etis yang menuntut tanggung jawab kita sebagai sesama.
Di balik langkah-langkah diam Elvi menuju Malaysia, tersimpan luka sosial yang dalam: ketimpangan struktural yang memaksa banyak anak bangsa meninggalkan tanah kelahiran demi secercah harapan.
Ketika ekonomi lokal tak mampu menjamin kesejahteraan, migrasi bukan lagi pilihan bebas, melainkan pelarian dari ketidakberdayaan.
Mereka yang berangkat bukan karena ingin, tetapi karena tak ada jalan lain. Dalam sunyi, mereka membawa beban keluarga, mimpi yang rapuh, dan harapan yang sering kali dipatahkan oleh sistem yang tak peduli.
Keputusan Elvi untuk berangkat secara non-prosedural bukanlah bentuk kelalaian pribadi, melainkan cerminan dari sistem yang gagal menyediakan jalur aman dan bermartabat.
Ketika perlindungan hanya menjadi slogan, dan edukasi migrasi tak menjangkau akar rumput, maka tubuh-tubuh rentan seperti Elvi menjadi korban dari jaringan eksploitatif. Ini bukan sekadar tragedi individu, tetapi jeritan kolektif dari masyarakat yang dibiarkan berjalan sendiri di lorong gelap tanpa lentera perlindungan.
Seruan Pertemuan Pastoral Regio Nusa Tenggara (Perpas Nusra) XII yang digelar di Larantuka pada Juli 2025 belum hilang dari ingatan kolektif kita.
Dengan tema besar Migran–Perantau, Perpas Nusra XII berfokus pada pencarian solusi pastoral konkret dan berkelanjutan bagi para pekerja migran, melalui pendekatan spiritual, sosial, dan kultural lintas-keuskupan.
Kisah Elvi harus menggugah kita bukan hanya untuk berduka, tetapi untuk bangkit: membangun ekosistem migrasi yang berakar pada martabat manusia, dan menjadikan perlindungan bukan sebagai reaksi, tetapi sebagai budaya. Bukan individual melainkan kolektif-inklusif.
Dalam menghadapi kisah tragis seperti yang dialami Elvi, kita tidak cukup hanya mengutuk kekerasan yang telah menjadi bagian dari perjumpaan eksistensialnya di tanah rantau.
Lebih dari itu, kita harus membangun ekosistem perlindungan yang berakar pada martabat manusia. Hannah Arendt, dalam The Human Condition, menekankan bahwa “kemampuan untuk memulai sesuatu yang baru adalah inti dari kebebasan manusia.”
Migrasi, dalam terang ini, seharusnya menjadi ruang kebebasan bukan keterpaksaan akibat ketimpangan. Maka, komunitas yang peduli harus melampaui reaksi emosional dan bergerak menuju struktur yang memungkinkan setiap individu memilih jalan hidupnya dengan aman dan bermartabat.
Lebih jauh, Emmanuel Levinas dalam Totality and Infinity mengingatkan bahwa “wajah yang lain adalah panggilan etis yang menuntut tanggung jawab.” Wajah Elvi yang terluka bukan hanya simbol penderitaan, tetapi panggilan konkret bagi kita untuk bertindak.
Komunitas yang sungguh peduli tidak hanya mengadvokasi dari kejauhan, tetapi hadir secara nyata: mendidik, membekali, dan melindungi. Dengan menjadikan perlindungan sebagai budaya, bukan sekadar respons terhadap tragedi, kita menjawab panggilan etis itu dan mengubah migrasi dari pelarian menjadi pilihan yang bermartabat.
Kisah Elvi bukan hanya cermin dari luka sosial yang terus berulang, tetapi juga panggilan mendesak untuk membangun komunitas yang bertanggung jawab secara etis dan struktural.
Dalam terang pemikiran Arendt dan Levinas, kita diajak untuk tidak sekadar bersimpati, tetapi bertindak: menciptakan ekosistem migrasi yang menjunjung martabat, mendidik sebelum memberangkatkan, dan melindungi sebelum terluka.
Perlindungan bukanlah reaksi terhadap tragedi, melainkan komitmen yang hidup dalam kebijakan, pendidikan, dan relasi sosial. Hanya dengan itu, migrasi menjadi ruang kebebasan, bukan pelarian dari ketidakberdayaan.*
Penulis, adalah Staf Pengajar pada Stipar Ende

