Oleh: Anselmus DW Atasoge
TANGGAL 29 Oktober 2025, salah satu titik di Paroki San Juan Lebao yakni Lingkungan Lebao di Jalan III menjadi ‘ruang sakral’ perayaan Ekaristi perdana RD. Fransiskus Villigius Dua, Imam Projo Keuskupan Larantuka.
Peristiwa ini merepresentasikan aktualisasi panggilan yang telah ditempa melalui formasi panjang, refleksi mendalam, dan keterlibatan pastoral yang kontekstual.
Di hadapan keluarga besarnya dan ribuan umat dari Paroki San Juan Lebao, Wangatoa dan Tokojaeng, imam baru mempersembahkan syukur atas rahmat tahbisan dengan disposisi batin yang lahir dari kesunyian studi dan praksis pengabdian.
Dalam homilinya, RD Petrus Suban Diaz mengangkat spiritualitas Fiat Maria sebagai paradigma teologis dan antropologis bagi imamat yang baru dimulai.
Kutipan “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk. 1:38) dipahami sebagai ekspresi eksistensial yang menandai keterbukaan total terhadap kehendak Allah. Fiat Maria mengandung dimensi kebebasan, keberanian, dan cinta yang tidak bersyarat.

RD. Rus menghadirkan tokoh Maria bukan sebagai figur ideal yang jauh, melainkan sebagai cermin spiritual yang merefleksikan disposisi batin seorang pelayan Tuhan: rendah hati, siap menanggung risiko, dan bersedia terlibat dalam sejarah keselamatan umat.
Maria ditampilkan sebagai pribadi yang konkret dan historis, yang memilih untuk percaya di tengah ketidakpastian dan keterbatasan manusiawi.
Dalam perspektif ini, spiritualitas Maria menjadi jalan pembentukan batin yang relevan bagi setiap pelayan Gereja yang ingin hadir secara utuh dan transformatif di tengah realitas umat.
Homili tersebut menyingkap konteks sosial-ekologis yang melingkupi panggilan imamat saat ini. RD. Rus menyebut dinamika perantauan, gejolak geothermal di Flores dan Lembata, penyakit sosial yang merayap dalam relasi sosial, serta krisis lingkungan yang mengancam keberlangsungan hidup bersama.
Dalam konteks realitas ini, imam dipanggil untuk hadir dengan pelukan yang menguatkan, kehadiran yang menyejukkan, dan hati yang mendengar.
RD. Rus menggarisbawahi pentingnya menjaga integritas spiritual di tengah godaan intelektualisme dan individualisme. Baginya, keilmuan bukan mahkota. Kemampuan bukan takhta. Imamat adalah jembatan yang menghubungkan harapan umat dengan realitas pastoral yang kompleks.
Dalam kerangka ini, Fiat Maria menjadi benih spiritualitas yang ditanam dalam pelayanan RD. Fill. Benih yang diharapkan tumbuh dan berbuah dalam umat yang dilayani.
Perayaan Ekaristi perdana di Tanah Lebao menghadirkan sebuah artikulasi teologis yang mendalam tentang makna imamat dalam terang spiritualitas Maria. Di tengah suasana syukur dan kebersamaan umat, altar Paroki San Juan menjadi ruang perjumpaan antara rahmat panggilan dan respons manusia yang terbuka.
Imamat RD. Fransiskus Villigius Dua tidak lahir dari ambisi pribadi, melainkan dari proses panjang yang ditandai oleh refleksi, pembinaan, dan keterlibatan pastoral.
Dalam konteks ini, spiritualitas Maria khususnya Fiat-nya menjadi fondasi eksistensial yang menjiwai seluruh dinamika panggilan. “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” bukan sekadar ungkapan iman, melainkan disposisi batin yang menuntun imam untuk hadir secara utuh dalam sejarah keselamatan umat.
Fiat Maria menjadi nyanyian profetik yang mengiringi langkah imam muda dalam pelbagai musim kehidupan: terang dan gelap, harapan dan luka, keheningan dan keramaian.
Di dalamnya terkandung keberanian untuk percaya, kesediaan untuk mendengar, dan kerendahan hati untuk melayani. Fiat bukan suara yang selesai di Nazaret, melainkan gema yang terus hidup dalam setiap tindakan pastoral yang berakar pada cinta Allah yang setia.
Dalam pelayanan yang akan dijalani, imam dipanggil untuk menjadi wajah belas kasih, pelukan pengharapan, dan jembatan antara sabda dan realitas.
Fiat Maria menjadi spiritualitas yang tidak berhenti pada awal panggilan, tetapi terus diperbarui dalam setiap langkah pengabdian yang dijalani dengan iman, harapan, dan kasih. *
Penulis adalah Warga Paroki San Juan Lebao

