Penutupan Bulan Rosario di Flores Timur, ‘Misa di Tepi Laut, Kasih Tuhan Seluas Samudra’ – MudikaLink

Penutupan Bulan Rosario di Flores Timur, ‘Misa di Tepi Laut, Kasih Tuhan Seluas Samudra’

MUDIKALINK.net-Di antara desir angin laut dan debur ombak, umat Stasi St. Gabriel Tanahlein, Paroki St. Yohanes Pembaptis Ritaebang, Pulau Solor, Keuskupan Larantuka berkumpul membawa rosario dan lilin kecil. Laut menjadi altar, pasir menjadi saksi, dan doa menjadi irama yang mengalun di udara.

Jumat, 31 Oktober 2025, tepat pukul 09.30 WITA, lonceng doa berbunyi menandai dimulainya Misa Penutupan Bulan Rosario. Lokasinya unik di gua alam “Oba,” tempat doa yang dibangun oleh almarhum P. Simeon Bera Muda, SVD pada tahun 2019. Di tempat ini ditahtakan arca Bunda Maria.

Gua Maria ini diberi nama Ina Pare Lewa Lau Niku Lewo Rae. Lokasi Gua Maria ini berada di Dusun Lamawolo, Desa Tanahlein, Kecamatan Solor Barat. Di tempat inilah umat memadukan alam, adat, dan iman–dalam satu harmoni yang indah dalam Misa Penutupan Bulan Rosario.

Kasih Tuhan Seluas Samudra

 

Penutupan Bulan Rosario di Flores Timur, ‘Misa di Tepi Laut, Kasih Tuhan Seluas Samudra’

Pater Daniel Naragere, SVD, Pastor Paroki St. Yohanes Pembaptis Ritaebang memimpin misa Penutupan Bulan Rosario. Ia didampingi Pater Carrol SVD, imam muda yang baru ditahbiskan pada 4 Oktober 2025.

Umat dari 4 lingkungan yakni St. Rafael, St. Siprianus, St. Mikhael, dan St. Mateus turut hadir. Hadir pula Kebele Raya (Tuan Tanah) Lamawolo dan Penjabat Kepala Desa Tanahlein, Andreas Keban, SP semakin memperkuat kesatuan antara adat, pemerintah dan iman Katolik.

“Misa di tepi laut ini mengingatkan kami akan kasih Tuhan yang luas seperti samudra,” ujar Ketua Dewan Stasi, Samuel Sapon Toron.

“Perayaan ini merupakan ungkapan syukur kepada Bunda Maria yang senantiasa melindungi umat dari marabahaya,” ujarnya.

Bernabas Keban, Sekretaris Dewan Stasi, menegaskan semangat umat untuk melanjutkan karya Pater Simeon Bera Muda, SVD, yang telah menanamkan nilai pelayanan dan cinta Gereja di Tanahlein.

“Kami ingin Pantai Wewa menjadi wajah baru devosi umat yakni perpaduan antara pariwisata bahari dan ziarah rohani,” ujarnya.

Lagu-lagu rohani menjadi jiwa misa ini. Ketika Perjalanan Bagi Kisah Pelaut, ciptaan P. Markus Solo Kewuta, SVD, mulai dinyanyikan, suasana menjadi hening.

Liriknya tentang perjalanan hidup manusia di tengah badai membuat beberapa anggota koor meneteskan air mata. Lagu Bagaikan Angsa, juga karya P. Markus Solo Kewuta, SVD, menyusul kemudian, menggambarkan kelembutan dan keteguhan hati umat dalam mengikuti panggilan Tuhan.

Tak ketinggalan, lagu Ina Lewo Wutun (Bunda Maria di Ujung Kampung) karya P. Simeon Bera Muda, SVD, dinyanyikan dengan penuh cinta.

Koor beranggotakan 30 orang turut mempersembahkan lagu-lagu yang sebagian diambil dari perayaan Misa Perak Pater Lamber Arakian Lein, SVD, pada 8 Juli 2025.

Sementara itu, 43 anggota KBHTM (Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria) menambah kekhidmatan liturgi dengan doa dan pelayanan sederhana.

Teladan Bunda Maria

Penutupan Bulan Rosario di Flores Timur, ‘Misa di Tepi Laut, Kasih Tuhan Seluas Samudra’

Pater Carrol SVD mengangkat kisah Perkawinan di Kana sebagai renungan utama.

Ia menyoroti dua sifat Bunda Maria: kepekaan terhadap kebutuhan sesama dan ketaatan yang lahir dari tindakan nyata.

“Maria tidak menunggu diminta untuk bertindak. Ia peka, peduli, dan taat. Itulah teladan sejati bagi kita,” katanya dalam homili.

Pater Caroll menegaskan, “bahwa dalam kehidupan modern, banyak orang ‘kehabisan anggur’: kehilangan semangat, harapan, atau iman.”

“Tuhan mau kita datang kepada-Nya bukan hanya ketika susah, tapi juga saat senang,” ujar Pater Carrol. “Datanglah dengan hati yang penuh syukur, karena Yesus selalu siap mendengarkan,” tandas Pater Caroll.

Wisata Religi dan Bahari

Selain makna rohani, perayaan ini juga menjadi momen kebangkitan semangat komunitas. Umat bertekad mempromosikan Pantai Wewa sebagai destinasi wisata religi dan bahari.

Meski infrastruktur jalan dan penerangan masih menjadi tantangan, mereka yakin doa dan kerja bersama akan membuka jalan.

Ketika misa berakhir, langit sore menyala oranye keemasan. Ombak menepi perlahan, seperti ikut berdoa. Di tepi gua, lilin-lilin kecil tetap menyala meski diterpa angin laut simbol iman umat Tanahlein yang tak akan padam oleh waktu.

Perayaan ini menegaskan satu hal yakni iman sejati tidak butuh kemegahan, hanya hati yang mau bersyukur dan tangan yang siap melayani. Di Pantai Wewa, laut dan langit menjadi saksi, bahwa setiap doa yang lahir dari tanah sendiri selalu sampai ke surga.*

Tim Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *