Oleh: Florentina Ina Wai
SETAHUN sudah erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki meninggalkan jejak. Bencana itu dimulai sejak Desember 2023. Aktivitas vulkanik meningkat tajam. Pada 9 Januari 2024 status gunung dinaikkan menjadi Level IV Awas (BNPB, 2023). Sejak saat itu letusan terus terjadi. Material pijar, awan panas, dan hujan abu menimpa desa-desa sekitar. Ribuan penduduk harus mengungsi. Lebih dari 6.000 jiwa meninggalkan rumah mereka.
Situasi ini menimbulkan persoalan sosial. Keterasingan dan krisis identitas muncul di tengah pengungsian. Teori Erik Fromm membantu kita memahami kondisi ini. Fromm menekankan hubungan antara individu dan masyarakat. Ia melihat keterasingan sebagai pengalaman manusia yang muncul ketika seseorang tidak lagi terhubung dengan lingkungan (The Sane Society, Fromm, 1955).
Fromm menjelaskan bahwa masyarakat modern sering menciptakan keterasingan. Individu terpisah dari diri sendiri, pekerjaan, dan sesama. Hal ini nyata pada pengungsi Lewotobi. Mereka kehilangan rumah, komunitas, dan ruang sosial yang membentuk identitas. Akibatnya muncul rasa sepi dan terputus dari kehidupan sebelumnya.
Krisis identitas pun terjadi. Erik Erikson menyebut identitas dibangun melalui eksplorasi dan komitmen terhadap nilai sosial (Identity: Youth and Crisis, Erikson, 1968). Fromm menambahkan bahwa identitas lahir dari hubungan sosial dan budaya. Ketika pengungsi kehilangan lingkungan sosial, mereka kehilangan bagian penting dari jati diri. Banyak yang bertanya siapa mereka di luar konteks lama. Mereka terjebak antara kenangan masa lalu dan lingkungan baru yang asing.
Fromm juga menekankan pentingnya cinta dan keterhubungan sosial. Dalam The Art of Loving (Fromm, 1956), ia menyebut cinta sebagai tindakan. Cinta berarti perhatian, tanggung jawab, hormat, dan pengetahuan. Bagi pengungsi, keterhubungan menjadi jalan keluar dari kesepian. Dukungan keluarga dan komunitas membantu mereka membangun kembali identitas.
Resiliensi para pengungsi Lewotobi menunjukkan bahwa manusia memiliki daya hidup yang luar biasa. Masten (2001) menyebutnya sebagai ordinary magic, sebuah kekuatan psikologis yang sering tersembunyi namun muncul ketika krisis melanda. Dalam keterbatasan, mereka menemukan cara untuk bertahan.
Dalam kehilangan, mereka belajar membangun kembali. Resiliensi ini bukan sekadar kemampuan individual, melainkan hasil dari dukungan sosial yang terus mengalir di tengah penderitaan.
Fromm (1955) menegaskan bahwa keterhubungan dengan sesama adalah fondasi identitas yang sehat. Cinta, sebagaimana ia uraikan dalam The Art of Loving (1956), bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang melibatkan perhatian dan tanggung jawab.
Di pengungsian, cinta hadir dalam bentuk solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan. Keterhubungan ini menjadi jembatan yang menghubungkan pengungsi dengan harapan baru. Identitas yang sempat retak perlahan dipulihkan melalui relasi yang penuh makna.
Pengalaman pengungsi Lewotobi mengingatkan kita bahwa rehabilitasi pascabencana tidak cukup berhenti pada pemulihan fisik. Aspek sosial dan emosional harus mendapat perhatian yang sama.
Krisis identitas dan keterasingan hanya dapat diatasi bila masyarakat dan lembaga hadir dengan dukungan yang berkelanjutan. Resiliensi memang lahir dari individu, tetapi ia tumbuh subur dalam komunitas yang saling menguatkan.
Di sinilah pesan Fromm menjadi relevan: cinta dan keterhubungan adalah kunci untuk membangun kembali kehidupan yang lebih tangguh, lebih manusiawi, dan lebih bermakna. *
Penulis adalah Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah STIPAR Ende

