Oleh: Anselmus DW Atasoge
PADA Selasa, 3 Februari 2026, Larantuka kembali mengukuhkan jati dirinya sebagai ‘rahim abadi’ bagi toleransi, di mana perbedaan keyakinan tidak dipandang sebagai sekat, melainkan benang-benang emas yang memperelok tenunan budaya.
Di ufuk timur Flores ini, slogan tentang harmoni sungguh menyata dan menjadi napas yang menghidupkan interaksi sehari-hari. Sebuah bukti bahwa keberagaman adalah anugerah yang dijaga dengan ketulusan hati.
Momen hangat yang disaksikan di Keluruhan Postoh dan Kampung Baru di Kota Larantuka saat penyambutan Mgr. Yohanes Hans Monteiro menjadi manifestasi nyata dari “dialog kehidupan” yang melampaui batas-batas dogma.
Di tengah pemukiman Muslim yang kental, kehadiran sang Uskup disambut dengan sukacita layaknya seorang ‘saudara kandung’ yang pulang ke rumah. Sebuah pelukan kasih yang meruntuhkan dinding pemisah dan menegaskan bahwa di bawah ‘langit Kota Larantuka’, kemanusiaan selalu memiliki satu bahasa yang sama.
Fenomena indah di Kota Larantuka ini seolah menjadi gema nyata dari penegasan Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb. Al-Tayeb mengajarkan bahwa agama lahir untuk memintal perdamaian.
Keragaman yang terekam hari itu membuktikan bahwa perbedaan tidak bakal menjadi pemantik konflik, melainkan sarana luhur untuk saling mengenal, mempertautkan dua sisi keyakinan dalam satu ritme kasih sayang yang tulus dan mendalam.
Di titik ini, warga Kota Larantuka dengan anggun mempraktikkan sebuah kebijaksanaan bahwa keyakinan yang berbeda adalah jembatan untuk saling memuliakan kemanusiaan.
Hari itu menjadi saksi sejarah di mana perbedaan tidak lagi menjadi pembatas, melainkan jalan pulang menuju inti dari setiap ‘ajaran langit’. Bahwasanya, sebuah simfoni kerukunan akan menempatkan harkat sesama manusia sebagai altar tertinggi dalam beragama.
Ruang-ruang publik yang biasanya terkotak oleh identitas agama, seketika mencair saat senyum warga Muslim dan langkah kaki Sang Uskup bertemu dalam irama kegembiraan yang sama.
Keindahan dialog antariman ini memuncak pada simbolisme budaya yang sangat menyentuh, yakni saat selendang tenun kehormatan dikalungkan oleh tangan seorang sesepuh Muslim ke pundak Mgr. Yohanes.
Momen ini menjadi saksi hidup atas seruan persaudaraan universal yang ditiupkan Paus Fransiskus dalam ensiklik ‘Fratelli Tutti’. Di tanah Larantuka, teori tentang kasih berubah wujud menjadi aksi nyata. Inilah sebuah kesadaran kolektif yang menunjukkan bahwa persaudaraan sejati hanya mampu bersemi ketika kita memiliki keberanian untuk memandang “yang lain” bukan sebagai asing, melainkan sebagai sesama ciptaan yang memanggul martabat yang sama.
Momen simbolis pengalungan selendang di hari itu adalah sebuah pernyataan bisu namun bertenaga, bahwa jubah dan sorban dapat berada dalam satu dekapan hangat tanpa harus kehilangan jati diri masing-masing.
Di sana, perbedaan tidak dileburkan menjadi seragam, namun dirayakan dalam ‘harmoni yang jujur’. Semunya membuktikan bahwa iman yang kokoh justru memberi ruang bagi cinta untuk merangkul sesama tanpa syarat.
Momen ini berbicara lebih keras dari ribuan khotbah tentang kerukunan; ia menegaskan bahwa di Flores Timur, kemanusiaan adalah hukum tertinggi. Sebagaimana pesan mendalam Gus Dur, “Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah maha segalanya; yang perlu dibela adalah manusia yang diperlakukan tidak adil karena perbedaan.”
Narasi yang menggema tentang harapan akan tanah yang “beriman, rukun, dan damai” adalah doa kolektif yang dipanjatkan oleh mereka yang mungkin berbeda cara bersujud, namun satu dalam tujuan mulia.
Sinergi antara tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat akar rumput menunjukkan bahwa perdamaian di Larantuka telah mendarah daging.
Di bawah langit Larantuka, mereka menciptakan ‘ekosistem sosial’ di mana setiap orang mampu merayakan kebahagiaan sesamanya, membuktikan bahwa perbedaan adalah rahmat yang membuat simfoni kehidupan terdengar jauh lebih merdu.
Pada akhirnya, Larantuka menyuguhkan sebuah puisi tentang cinta yang tidak butuh diterjemahkan. Di bawah kaki Gunung Mandasiri, kita menyaksikan bahwa ketika doa-doa yang berbeda bahasa itu melangit, mereka bertemu pada satu titik yang sama: kemanusiaan.
Biarlah peristiwa ini menjadi mercusuar yang abadi; sebuah pengingat bahwa jubah dan sorban adalah dua warna dari satu cahaya yang serupa. Di tanah ini, persaudaraan adalah pelukan hangat yang membumi, jabat tangan yang tulus, dan sebuah janji setia bahwa selama matahari masih terbit di ufuk timur Flores, harmoni akan tetap menjadi nafas yang menghidupkan setiap jiwa di dalamnya.*
Penulis adalah Warga Keuskupan Larantuka, Tinggal di Ende

