MUDIKALINK.net-Suasana Aula Panti Santa Dymphna di Jalan Wairklau, Kota Maumere, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu 6 Agustus 2023 sangat unik.
Aula ini ditata rapih dan diberi sentuhan rohani karena dimanfaatkan untuk merayakan misa Pesta Penampakan Tuhan bagi ratusan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Di atas altar tempat dilangsungkan ekaristi diletakkan Salib Yesus. Sementara dibelakang dinding tembok altar terlihat gambar Santa Dymphna-Pelindung Panti berukuran besar. Sentuhan spiritual semakin kental karena di sebelah kanan altar diletakkan Arca Bunda Maria berukuran besar.

Jarum jam saat itu menunjukkan pukul 05.15 Wita. Sebagian besar ODGJ didampingi para tenaga kesehatan (Nakes), baik perawat, maupun psikolog dengan setiap memapah ODGJ ke aula perayaan ekaristi.
Beberapa Nakes di antaranya Emanuel Siga, Agustinus Numba Ralle dan Paulus Hermianto Keor tampak setia melayani ODGJ yang terkadang meronta selama persiapan misa, maupun pada saat misa berlangsung.
Tampak di dalam aula di depan Altar Ekaristi duduk ratusan ODGJ dari pelbagai lintas agama. Sebagian besar di antaranya bergama Katolik. Beberapa lainnya beragama Kristen Protestan, di antaranya Since Laysana dan Maria Yonathan. Ada juga ODGJ beragama Islam di antaranya Witni Yanti Hasan dan Intan Permatasari.
Mereka duduk berbaur. Uniknya, di antaranya ODGJ lintas agama ini saling melayani dan saling mengingatkan di saat ada momen saat perayaan di mana umat harus berdiri, atau harus duduk saat perayaan ekaristi berlangsung.
Ada juga di antara ODGJ lintas agama ini saling mengingatkan agar tidak boleh melakukan aksi yang kelewatan yang mengganggu jalannya perayaan ekaristi.

Suasana di mana ODGJ lintas agama yang saling melayani menyentuh hati para Pemimpin Panti Sr. Lucia, CIJ termasuk Wartawan Mudikalink.net Wall Abulat yang sama-sama menempati posisi duduk di bangku bagian belakang Aula. Tempat duduk ini sangat strategis untuk melihat gerak gerik semua ODGJ.
Suster Lucia, CIJ mengaku jumlah ODGJ yang saat ini sedang menjalani terapi dan pendampingan dipanti yang dipimpinnya sebanyak 129 orang.
“Mereka berasal dari pelbagai agama. Sebagian besar Katolik. Tetapi ada juga di antara mereka yang beragama Kristen Protestan, dan agama Islam,” kata Suster Lucia.
Suster Lucia mengakui, ia bersama pegawai dan karyawan serta puluhan Nakes yang bekerja di Panti itu melayani semua ODGJ tanpa memilah agama, suku, ras, dan golongan dengan sepenuh hati.
“Kami semua melayani ODGJ dengan sepenuh hati,” kata Suster Lucia.
Suster Lucia bersaksi, bahwa ODGJ lintas agama yang didampingi dalam keseharian mereka selalu memberi supor, saling menghibur, dan bahu-membahu mengikuti semua terapi penyembuhan yang diterapkan di Panti Santa Dymphna.
“Semua ODGJ apa pun agamanya mengikuti semua terapi penyembuhan yang kami jalankan setiap hari di panti ini, seperti terapi berdoa, terapi menyanyi, terapi pengobatan, dan aneka terapi lainnya,” kata Suster Lucia.
Jalannya Perayaan Ekaristi
Perayaan Ekaristi Pesta Penampakan Tuhan di Panti Santa Dymphna Maumere dimulai pukul 06.00 Wita. Misa dipimpin RP. Stefanus Tangi, O.Carm atau yang akrab disapa Romo Even.

Romo Even dalam khotbahnya yang merujukan pada bacaan Injil Matius bab 17 ayat 1-9 tentang Yesus Dimuliakan di Atas Gunung antara lain mengingatkan semua yang hadir untuk berani dan tulus mengalami setiap pengalaman salib dan penderitaan, dan bukannya hanya berharap pada pengalaman di Gunung Tinggi.
“Tuhan raja mahatinggi dan kita semua adalah anak-anak raja. Meski demikian, kita bukan anak raja duniawi. Dalam konteks ini, kita harus berani dan tulus menerima pengalaman penderitaan dan salib. Semua yang berat dalam hidup ini kita mesti terima dengan tulus hati,” kata Romo Even.
Romo Even menggarisbawabi bahwa sebagai pengikut Kristus, kita mesti selalu mendengarkan Dia baik dalam suka, maupun duka.
“Sebagai pengikuti Kristus, kita mesti mendengarkan Dia. Semoga dengan pengalaman penampakan Tuhan kita termotivasi untuk mampu mendengarkan bisikan Tuhan dan menyimpannya dalam hati. Dengan pengalaman penampakan Tuhan di atas Gunung, kita mesti termotivasi untuk selalu memiliki semangat baru dalam keseharian hidup kita,” kata Romo Even.
Bergembira Ria
Pantauan media ini, perayaan pesta penampakan Tuhan di Panti Santa Dymphna berlangsung dalam suasana gembira ria. Kor ditanggung oleh pegawai dan petugas kesehatan yang bekerja di panti ini.
Dirigen dipercayakan kepada Stefanus Mado Badin dan organis Gabriel Univilson. Petugas liturgis lainnya: Emanuel Jawa (bacaan 1), Fransiskus Arifin Betok (Bacaan II), dan Hendrikus Palang (pemazmur).
Syair lagu-lagu yang dibawakan dalam perayaan misa ini dari puisi karya Sr. Lucia, CIJ yang diaransemen oleh Univilson. Univilson merupakan musisi dan pencipta lagu, baik lagu pop daerah Sikka maupun pop rohani, bahkan ada juga lagu-lagunya yang liturgis sudah disahkan dan mendapatkan sertifat dari PML Yogyakarta. Univilson berasal dari Dusun Orinmude, Desa Kokowahor, Kecamatan Kangae.
Beberapa lagu yang dibawakan dalam misa ini yang syair lagunya dari Suster Lucia, CIJ di antaranya Terserap Iman, Murah Hari, dan Pijar Kasih di mana lagu terakhir ini pernah ditayangkan di Channel Youtube Panti yang dinyanyikan oleh Suster Lucia, CIJ.
Uniknya, selama perayaan misa berlangsung, khususnya saat personel kor menyanyikan lagu, spontan beberapa ODGJ memperagakan peran dirigen dari tempat duduk mereka atau berani tampil di depan ODGJ lainnya.
Beberapa ODGJ itu di antaranya Mama Geta.Sementara beberapa ODGJ lainnya, selain ikut menyanyi bersama kor, juga ada beberapa ikut mendaraskan doa yang seharusnya hanya dibawakan oleh seorang imam.
Pelbagai dinamika yang ditampilkan para ODGJ selama jalannya misa sungguh menampakan suasana gembira ria, yang memiliki makna mendalam bagaimana mereka sedang mengalami pengalaman penampakan Tuhan dalam cara yang sederhana, namun penuh makna dan bergembira ria dalam balutan persaudaraa yang tulus.
Tuhan Bekerja Dalam Diri Suster dan Pegawai
Beberapa penghuni panti yang mengalami penyembuhan di antaranya Paul mengaku ia dan warga binaan Santa Dymphna lainnya selalu mengalami kehadiran Tuhan melalui pelayanan yang tulus Pendiri/Pemimpin Panti Sr. Lucia, CIJ; para suster CIJ, para pegawai, perawat, psikolog dan karyawan yang selalu melayani ODGJ dengan tulus hati, tanpa kenal lelah.
“Tuhan bekerja dalam diri Suster Pemimpin Panti, para pegawai, para perawat, psikolog dan karyawan sehingga kami bertahan hidup, bahkan ada yang mengalami penyembuhan. Tuhan sungguh bekerja dalam diri Sr. Lucia, CIJ pemimpin kami dan para pegawai, para perawat, dan psikilog,” kata Paul.
Pengakuan serupa disampaikan beberapa warga binaan panti yang sedang dalam proses penyembuhan.
“Kami selalu mengalami Tuhan hadir dalam keseharian hidup kami melalui pelayanan tulus Suster Lucia,CIJ, para tenaga kesehatan yang bekerja siang malam di panti, dan melalui pegawai dan karyawan yang total mengabdi di Panti ini,” kata Maria salah seorang warga binaan panti.
Butuh Dukungan Pemerintah dan Semua Elemen Warga
Kepala Panti Santa Dymphna yang juga Direktris Yayasan Bina Daya St. Vinsensius Cabang Sikka (YASBIDA) Maumere, Suster Lucia, CIJ kepada media ini mengemukakan bahwa lembaga yang dipimpinnya saat ini sedang menampung dan menghidupi 129 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dari pelbagai kabupaten di Flores dan luar Flores.
Dalam upaya memaksimalkan pendampingan, Suster Lucia meminta dukungan pemerintah, terutama Pemkab Sikka dan donatur agar terus berkontribusi memberdayakan ODGJ dan memenuhi hak-hak mereka, terutama hak untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Kami berharap agar pemerintah dan para donatur tetap mendukung usaha-usaha kemanusiaan yang kami lakukan terhadap para ODGJ yang kami tangani saat ini,” kata Suster Lucia, CIJ, S.Ag.
Suster Lucia, CIJ pada kesempatan ini mengemukakan bahwa pihak Panti dan Yayasan telah berupaya maksimal untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset-aset dan usaha-usaha produktif untuk menghidupi penghuni panti, namun hasilnya, masih jauh dari biaya yang dibutuhkan.

Suster Lucia menyebut ada tiga kendala yang dihadapi panti.
Pertama, kekurangan dana terutama untuk memenuhi kebutuhan makan-minum, kesehatan, dan upah pegawai, karyawan, perawat dan tenaga psikologi yang jumlahnya Rp400 juta per bulan.
Kedua, pada masa ini sulit mendapatkan donatur tetap yang bersedia untuk bekerja sama bagi pelayanan terhadap penyandang disabilitas mental.
Ketiga, pada umumnya para penyandang disabilitas di sini berasal dari keluarga yang tidak mampu sehingga kontribusi dan partisipasi keluarga sangat minim. Keempat, bantuan yang diperoleh dari Pemerintah, sifatnya tidak tetap.
Harapan
Suster Lucia, CIJ menyampaikan harapan agar pemerintah, dan donatur dapat memberikan dukungan terhadap terhadap upaya kemanusiaan yang dilakukan panti.
Suster Lucia secara khusus menitipkan tiga pesan/harapan kepada Pemerintah. Pertama, agar tetap memberikan perhatian dan dukungan seperti yang selama ini berjalan terutama mengenai rekomendasi, monitoring dan supervisi;
Kedua, bantuan/alokasi dana tetap untuk pemenuhan kebutuhan dasar para difabel mental di Panti Santa Dymphna khususnya dan panti-panti lain pada umumnya.
Ketiga, sumbangan emergensi/darurat juga dialokasikan ke panti-panti.
“Kami tetap berjuang keras dengan berbagai usaha menuju kemandirian, terutama dalam usaha ekonomi produktif dan pemanfaatan aset-aset milik Yayasan. Untuk kemajuan dan pelayanan yang maksimal kami selalu megharapkan dukungan dari berbagai pihak, terutama donatur/pencinta ODGJ,” kata Suster Lucia.
Buka Aneka Usaha
Suster Lucia, CIJ menambahkan bahwa pihak panti dan Yasbida melakukan pelbagai usaha dalam upaya menghidupi 129 ODGJ dan memberi pengupahan bagi puluhan tenaga kesehata (perawat dan psikolog) dan karyawan yang total bekerja di Panti selama ini.
Ada pun usaha-usaha yang dilakukan panti di antaranya beternak babi, produksi makanan olahan panti, membuka warung kopi, menjual kopi “on line” via WhatsApp grup; menulis dan menjual belasan buku seri Mutiara karya Suster Lucia, CIJ, memproduksi dan menjual kalender panti dan membangun jaringan kerja sama dan donasi.
“Saat ini, Panti ada produk babi berumur 2 bulan untuk dijual kepada masyarakat umum dengan harga Rp 1,5 juta per ekor. Kami juga menjual Kopi Santa Dymphna dengan cita rasa kasih di mana satu paket seberat 250 gram dijual dengan harga Rp100 ribu termasuk ongkos kirim. Kami juga menjual aneka buku (karya Suster Lucia, Red) di antaranya Buku Simfoni Kasih Santa Dymphna (kumpulan lagu dari Puisi-Puisi Sr. Lucia, CIJ) dengan harga Rp200 ribu/eksemplar,” kata Suster Lucia.
Suster Lucia mengakui pelbagai aneka usaha di atas untuk memenuhi biaya makan minum, biaya kesehatan bagi 129 ODGJ, serta gaji puluhan karyawan, termasuk 19 perawat, dan dua psikolog yang ditugasi khusus mendampingi para ODGJ.
“Total biaya yang dibutuhkan selama satu bulan untuk memenuhi kebutuhan ODGJ, dan gaji tenaga kesehatan dan karyawan mencapai Rp400 juta,” kata Suster Lucia.
Terima Kasih
Suster Lucia, CIJ menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian dan dukungan kepada lembaga, terutama Pemerintah, dinas instansi terkait dan Sentra Efata Kupang.
“Kami menyampaikan terima kasih berlimpah. Kami tentu terus membutuhkan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak untuk pemenuhan kebutuhan dan keberlanjutan pelayanan terhadap ODGJ di Panti Santa Dymphna Wairklau Maumere. Untuk semua kebaikan itu, kami tidak bisa membalasnya. Hanya doa yang dapat kami persembahkan kepada Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita semua usaha dan niat baik kita,” kata Suster Lucia.
Sementara Koordinator Umum Panti Santa Dymphna Dion Ngeta, S.Fil menambakan bahwa 129 ODGJ yang saat menjalani terapi di Santa Dymphna Maumere berasal belasan Kabupaten dan regio dengan rincian Kabupaten Sikka Sikka ada 55 orang, Ende 23 orang, Flores Timur 16 orang, Ngada 13 orang, Nagekeo 12 orang, Manggarai Raya 2 orang, Lembata 2 orang, Timor 2 orang, Jawa 3 orang, dan Sumatera orang. *
Penulis: Wall Abulat

