Nomen est omen-nama adalah tanda. Demikian adagium bermakna yang bisa membantu kita untuk memaknai ziarah panjang Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero atau yang sejak tahun 2022 lalu diubah nomenklatur namanya menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero.
MUDIKALINK.net-Nama Ledalero atau Bukit Sandaran Matahari Terbit menjadi sebuah nomen/nama yang menjadi omen/tanda bagi siapa saja yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga ini, atau bagi siapa saja yang pernah bertandang ke sana.
Nama ini selalu ada di hati kita karena di balik nama itu terlahir sejumlah tamatannya/alumni yang menjadi pemimpin agama, baik di Keuskupan, maupun kongregasi atau unio/paguyuban imam diosesan.
Dalam upaya memaknai ziarah Ledalero sebagai panti pendidikan imam terbesar di dunia, tentu kita harus memulai momen berahmat itu dari Mataloko locus formasi perdana novis Kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) pada tahun 1932/1933.

Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 30 September 1932 Mgr. H. Leven, SVD, sebagai Provicaris Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) memberkati batu pertama fondasi gedung yang dikenal dengan Rumah Tinggi di Mataloko.
Gedung itu dimaksudkan sebagai ruang kuliah bagi para mahasiswa filsafat angkatan pertama, yang baru tamat Seminari Menengah Todabelu. Mereka belum disebut frater karena belum ada izinan untuk mendirikan Novisiat.
Pada tahun 1933, Novisiat pertama dimulai di Mataloko dengan upacara penerimaan jubah. Para frater Novis ini sudah setahun belajar filsafat.
Oleh karena itu tahun 1932 seharusnya ditetapkan sebagai tahun berdirinya STFK, yang kemudian berpindah ke Ledalero.
Keputusan untuk pindah ke Ledalero diambil pimpinan umum di Roma pada tahun 1934 sehingga tahun 1935-1937 terjadi pembangunan berkelanjutan di Ledalero.

Selain jejak ziarah di atas, juga ada momen berahmat yang harus dicatat dalam upaya memaknai gelar akademik STFK Ledalero.
Di antaranya momen ketika tahun 1969 dicatat sebagai tonggak sejarah yang penting bagi STFK Ledalero karena pada tahun ini lembaga yang sebelumnya hanya dikenal sebagai Seminari Tinggi Ledalero diakui oleh pemerintah RI sebagai Sekolah Tinggi Filsafat/Teologi Katolik (STF/TK) Ledalero.
Dengan adanya legitimasi dari pemerintah ini maka sejak saat itu, Ledalero tidak saja sebagai lembaga pendidikan tinggi bagi para calon imam, tetapi juga menjadi lembaga pendidikan yang menjangkau kaum awam.
Pintu bagi bagi kaum awam, termasuk awam dari agama apa pun semakin terbuka lebar sejak otoritas lembaga pendidikan tinggi ini mengubah nomenklatur dari STFK menjadi IFTK sejak tahun 2022 dengan membuka 5 program studi yakni Filsafat, Pendidikan Keagamaan Katolik (PKK), Prodi Desain Komunikaai Visual (DKV), Prodi Kewirausahaan, dan program magister Teologi Kontekstual.
Dengan nomenklatur terbaru ini maka hal ini memberi ruang kepada masyarakat luas apa pun agama mereka untuk melanjutkan pendidikan anak mereka di perguruan tinggi milik Kongregasi SVD ini.
24 Uskup
Data menunjukkan bahwa selama 90-an tahun usia lembaga pendidikan calon imam ini, tercatat 6.000 warga menamatkan pendidikannya di lembaga ini dengan rincian sekitar 2.000 orang menjadi imam dan 4.000 lebih menjadi awam.
Dari sekitar 2.000 yang jadi imam ada 24 orang di antaranya menjadi Uskup. Dari 24 uskup itu, ada 10 di antaranya berasal dari Kongregasi SVD, dan 14 orang dari Paguyuban Seminari Tinggi Interdiosan Seminari Santo Petrus Ritapiret.
Sepuluh uskup dari Kongregasi SVD yakni Mgr. Gabriel Manek, SVD (alm) pernah menjadi Uskup Agung Ende dan Uskup Titular Alinda 1951-1961, dan Uskup Titular Bavagaliana 1968-1976; Mgr. Paulus Antonius Sani Kleden, SVD (alm) Uskup Denpasar 1961-1971.
Mgr. Donatus Djagom, SVD (alm) Uskup Agung Ende 1969-1996; Mgr. Vitalis Jebarus, SVD (alm) selaku Uskup Ruteng 1973-1980 dan Uskup Denpasar 1980-1998; Mgr. Darius Nggawa, SVD (alm) Uskup Larantuka 1974-2008; Mgr. Anton Pain Ratu, SVD (alm) Uskup Atambua sejak 1984-2007.

Mgr. Eduardus Sangsun, SVD (alm) Uskup Ruteng 1985-2008); Mgr. Hilarius Nurak, SVD (alm) Uskup Pangkal Pinang sejak 1987-2016; Mgr.G. Kherubim Pareira, SVD (Uskup Emeritus Keuskupan Weetbula dan Uskup Emeritus Keuskupan Maumere) Mgr. Paul Budi KLeden, SVD Uskup Agung Ende (sejak 2024).
Sementara 14 uskup dari Seminari Tinggi Ritapiret yakni Mgr. Wihelmus Isak Doera (alm)-Uskup Keuskupan Sintang 1977-1996; Mgr. Benyamin Yosef Bria (alm), Uskup Keuskupan Denpasar 2000-2007; Mgr. Abdon Longginus da Cunha (alm) Uskup Keuskupan Agung Ende 1996-2006;
Mgr. Norberto do Amaral (Uskup Keuskupan Maliana, Timor Leste 2010-sekarang; Mgr. Hilarion Datus Lega Uskup Keuskupan Manokwari 2003-sekarang; Mgr. Frans Kopong Kung-Uskup Keuskupan Larantuka 2002-sekarang.
Mgr. Vincentius Sensi Potokota (alm) Uskup Keuskupan Agung Ende 2006-2023; Mgr. Hubertus Leteng (alm) Uskup Keuskupan Ruteng 2010-2017; Mgr. Silvester San-Uskup Keuskupan Denpasar 2009-sekarang; dan Mgr. Dominikus Saku (Uskup Keuskupan Atambua) 2007-sekarang.
Empat Uskup lainnya yakni Mgr. Edwaldus Martinus Sedu-Uskup Keuskupan Maumere 2018-sekarang; Mgr. Siprianus Hormat-Uskup Keuskupan Ruteng 2020-sekarang; Mgr. Hieronimus Pakaenoni-Uskup Agung Kupang (2024), dan Mgr. Dr.Max Regus, S.Fil. M.Si Uskup Keuskupan Labuan Bajo (1924).
Kita terus mendoakan agar dari dua seminarium terbesar di dunia Ledalero dan Ritapiret yang pernah dikunjungi Mendiang Sri Paus John Paul II pada 11-12 Oktober 1989 ini akan tumbuh para calon uskup lainnya yang suatu saat nanti dipercaya menggembalakan umat di keuskupan mana pun di dunia.
Sebagai salah seorang alumnus IFTK Ledalero dan pernah menjadi warga almamater Seminari Tinggi Ritapiret 1989-1994 dan 1996-1997, saya terus mendoakan secara khusus agar ada dari angkatan kami lagi, selain Mgr. Hieronimus Pakaenoni yang saat ini menjadi Uskup Agung Kupang-yang menjadi Uskup entah dari Kongregasi SVD maupun dari Rumah Ritapiret.
Selamat bertugas tiga uskup terbaru alumni IFTK Ledalero, Mgr. Hieronimus Pakaenoni yang dipercaya menjadi Uskup Keuskupan Agung Kupang; Mgr. Paul Budi Kleden, SVD selaku Uskup Keuskupan Agung Ende, dan Mgr. Maksimus Regus yang dipercaya menjadi Uskup Perdana Keuskupan Labuan Bajo. Deus Benedicat-Tuhan memberkati. *
Penulis: Wall Abulat (Pemred Mudikalink.net, Penulis Buku Karya Kemanusiaan Tidak Boleh Mati dan Alumnus IFTK Ledalero)

