MUDIKALINK.net-Aktivitas erupsi gunung api Lewotobi Laki-laki yang melingkari dua wilayah kecamatan Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), seakan tak pernah berhenti.
Setiap hari, bisa lebih dari lima kali gunung api yang berada di atas ketinggian 1.584 meter pemukaan laut ini erupsi menyemburkan abu vulkanik berwarna coklat yang begitu tebal, belerang bahkan pasir halus.
Ribuan masyarakat dan umat yang mendiami wilayah Kecamatan Wulanggitang dan Kecamatan Ilebura pun, saban hari menghirup abu vulkanik dan bau belerang.
Setidaknya, ini dialami umat Katolik Paroki Santa Maria Ratu Semesta Alam Hokeng Keuskupan Larantuka yang berada persis di kawasan Seminari Menengah Santo Dominggus, tepatnya di Desa Hokeng Jaya.

Mereka resah dan takut. Tidak saja akibat ancaman erupsi, namun juga akibat wabah penyakit. Karena ratusan umat baik anak-anak, orang dewasa maupun umat dengan kategori kelompok rentan, mulai terserang wabah diare.
Salah satunya dialami Fransiskus Novembri Laba, bocah laki-laki berusia 1 tahun 7 bulan, warga/umat lingkungan Santo Antonius Gonzaga Padang pasir. “Sudah empat hari no (panggilan untuk anak laki-laki) sakit diare dengan gejala muntah-muntah,” ungkap Maria Magdalena Peni awal Juli 2024, sambil menggendong sang buah hati.
Maria mengungkapnya, putra kesayangannya terserang diare sebagai dampak dari aktivitas erupsi gunung Lewotobi Laki-laki memuntahkan material abu vulkanik dan selalu menghujani pemukiman warga.
Akibatnya, air dan makanan yang dikonsumsi sudah terkontaminasi dengan abu belerang, yang setiap hari menghiasi rumah.

“Kami menduga, diare ini akibat abu gunung api. Air minum misalnya, kami anggap bersih tapi kena percikan abu gunung walaupun itu ditutup rapat,” ungkapnya dengan penuh tanda tanya.
Dikisahkannya, faktor lain yang diduga sebagai penyebab diare juga pasokan makanan berupa sayuran hijau yang juga diduga terkena abu belerang walaupun dicuci bersih sebelum dimasak.
Diare menyerang umat dan warga ini pun diaminkan Kepala Desa Hokeng Jaya, Gabriel Bala Namang. Menurutnya, data sementara tercatat ratusan warga maupun umat kini terserang diare dan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Puskesmas untuk menindaklanjuti hal itu.

Secara terpisah Sekretaris Daerah (Sekda) Flores Timur selaku ex officio Kepala BPBD Petrus Pedo Maran mengatakan, selama siaga darurat erupsi gunung api Lewotobi Laki-laki, Pemda tidak mendirikan Posko Kesehatan.
Namun, kata Sekda Pedo Maran, jika warga yang mengalami gangguan kesehatan segera ke Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan. “Dengan kondisi keterbatasan tenaga dan kemampuan daerah, kalau ada yang terserang penyakit bisa langsung ke Puskesmas untuk dapat pelayanan. Tenaga kami di lapangan siaga,” katanya.
Sekda Pedo Maran juga mengatakan, Pemda Flores Timur terus siaga dan selama masa siaga darurat, pihaknya terus melakukan berbagai cara dan upaya demi warga terdampak.

Katanya, “Selama siaga darurat, kita prioritas kesehatan dengan bagi masker dan tidak lagi bagi per orang tapi stoking di masing-masing desa dan Puskesmas. Kita tingkatkan pelayanan di puskesmas dan posyandu dengan sistem mobile.”
Memasuki pekan ketiga Juli 2024, gunung Lewotobi Laki-laki ini, masih terus erupsi dengan tinggi kolom abu rata-rata 500 hingga 1000 meter di atas puncak.
Pemerintah Daerah Flores Timur menetapkan status siaga darurat bencana erupsi gunung Lewotobi Laki-laki selama tiga bulan atau hingga September 2024. *
Laporan: Shinto Koban I Editor: Wentho Eliando

