Oleh: Oktavianus Ngago
TANPA disadari 366 hari telah usai. Banyak hal baik yang diperoleh selama tahun 2024, namun tak terelakan pula hal-hal buruk juga mengiringi dan menghimpit segala hal baik tersebut. Hal-hal buruk hadir untuk mengajak kita merenungkan makna hidup yang sesungguhnya melalui penderitan, kebahagiaan, pun kematian.
Socrates menyatakan bahwa hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi. Namun refleksi ini sering kali tidak diindahkan, dan manusia malah menjauh dari Tuhan, menodai martabatnya sebagai mahkota ciptaan-Nya.
Manusia tidak menggambarkan bahwa dirinya kudus karena merupakan imago Dei. Banyak hal-hal yang tidak manusiawi dalam menjaga kekudusan manusia sebagai “gambar Allah” terjadi dipenghujung tahun 2024 ini.
Diakhir tahun 2024 wilayah Flores Barat, Kabupaten Manggarai Timur hingga Labuan Bajo diwarnai dengan berbagai peristiwa tragis.
Mulai dari kasus bunuh diri seorang mahasiswi St. Paulus Ruteng yang ditemukan meninggal pada 19 November di kostnya dan juga kasus bunuh diri Stefanus Turu warga asal Kampung Daleng Sampa, Desa Wae Mose, Kecamatan Lembor Selatan pada Senin, 30 Desember.
Kemudian kasus istri aniaya suami hingga tewas di Manggarai Timur yang terjadi pada Kamis, 12 Desember, hingga pada kasus pembuangan bayi yang tidak bersalah yang marak terjadi sepanjang tahun 2024.
Dan persitiwa pembuangan bayi terakhir terjadi di Manggarai Barat, yang ditemukan jasad bayi yang mulai membusuk di Kampung Lus, Desa Daleng pada 20 Desember. Adapun kasus-kasus konvensional lainnya yang senada yang tidak sempat diunggah ke media sosial.
Kematian-kematian dalam bentuk seperti ini merupakan kematian yang tidak wajar atau dalam Bahasa Ngada namanya “matagolo” dan dalam Bahasa Manggarai sendiri namanya “darata’a”. Kematian yang belum saatnya.
Persitiwa-peristiwa kematian darata’a atau meninggal yang tidak wajar mencerminkan krisis moral, ada kekeliruan dengan hati nurani dan pemahaman yang minim tentang martabat manusia sebagai mahkota ciptaan Tuhan dianugerahkan akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas.
Dengan akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas inilah yang menjadikan manusia istimewa dan membedakan manusia dari ciptaan yang lain.
Ia diberi kuasa atas buatan tangan Penciptanya, segala-galanya diletakan di bawah kakinya (bdkMzm 8:5-7). Tapi lebih dari itu semua, manusia harus mampu bertanggungjawab atas segala tindakannya sebagai imago Dei. Yang menggambarkan martabat manusia sangat mulia di atas ciptaan yang lain.
Menurut (Masut, 2022), menyatakan bahwa martabat manusia yang sangat mulia dan luhur, pada gilirannya membawa manusia pada penghargaan terhadap kehidupan sesamanya. Bahwa sesamanya adalah dia yang harus dihargai kehidupannya karena dirinya juga adalah imago Dei.
Berbicara tentang martabat manusia sebagai makhluk yang berakal budi, memiliki hati nurani, dan berkehendak bebas, maka kita akan kembali berbicara kepada madah penciptaan yang ada dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang ditulis oleh Nabi Musa.
Dalam Perjanjian Lama, dikisahkan bahwa manusia diciptakan melalui firman Allah yang segambar dan serupa dengan Allah (bdk Kej 1:26). Penciptaan manusia melalui firman berarti, Allah memulai suatu dialog, yang membangun hubungan antara Allah dengan makhluk ciptaan-Nya.
Artinya sejak awal penciptaan sudah terjadi dialog antara Allah dengan manusia, yang memungkinkan agar “manusia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya; oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini, untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah” (GS).
Dalam disposisi yang sama, secara inheren martabat manusia yang tak terbatas (dignitasinfinita) tertanam di dalam diri seseorang, dimiliki setiap pribadi manusia, melampaui segala keadaan dan status atau situasi apa pun yang dialami seseorang.
Dalam penciptaan tersebut manusia tidak diciptakan seorang diri saja, tetapi Allah menciptakan mereka sebagai Pria dan Wanita (Kej 1:27).
Hal ini mengindikasikan bahwa, sejak pertama kali Allah sudah menghendaki “yang satu untuk yang lain” (KGK 370). Artinya untuk hidup bersama sebagai bentuk pertama persekutuan antar-pribadi, sehingga keduanya dapat menjadi penolong satu untuk yang lain (KGK 372).
Demikian pun dalam Kitab Suci ditegaskan bahwa, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18).
Dengan demikian, “manusia dari kodratnya yang terdalam bersifat sosial…Tanpa berhubungan dengan sesame ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannya” (GS 12).
Dalam GS nomor 14 dinyatakan bahwa kodrat manusia adalah kesatuan tubuh dan jiwa yang hidup. Melalui kesatuan dua unsur ini, manusia mencapai taraf tertinggi, dan memuliakan Sang Pencipta dengan bebas. Tubuh yang hidup adalah ciptaan Tuhan dan akan dibangkitkan untuk hidup kembali pada hari terakhir.
Oleh karena itu, tubuh dan jiwa manusia merupakan Bait Allah yang suci dan harus selalu dimurnikan. Dengan intelek sebagai salah satu elemen dari kodratnya sebagai citra Tuhan, manusia sadar bahwa mereka melampaui dunia material. Manusia mampu mencari dan menemukan kebenaran Allah melalui iman dan karunia Roh Kudus.
Tempat perlindungan paling rahasia bagi setiap orang adalah hati nuraninya. Di mana suara Tuhan terpantul dan manusia mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Hukum ini ditulis Tuhan di dalam hati setiap manusia, dan dengan menaatinya seseorang mengekspresikan martabatnya (GS 16).
Dalam Kristus manusia dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan paling mendalam mengenai kehidupan setelah kematian.
Gereja meyakini adanya kehidupan abadi setelah kematian fisik di dunia ini, yang diperoleh melalui imannya kepada kebangkitan Kristus. Iman memberikan kekuatan kepada manusia untuk dipersatukan dalam Kristus dengan orang-orang terkasihnya yang telah meninggal.
Dengan demikian, di dalam Kristus pencarian manusia akan makna penderitaan, kehidupan dan kematian diselesaikan (GS 18).
Berkaca pada tindakan yang menghilangkan nyawa seseorang, tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal dalam ajaran iman Katolik.
Menurut Gaudium et Spes, mausia adalah makhluk yang kudus sebagai gambar Allah. Sehingga, hanya Allah yang berhak menentukan kehidupan dan kematian manusia.
Oleh karena itu, Gereja perlu terlibat aktif dalam sosialiasi untuk menghargai martabat hidup manusia dan mendidik hati nurani sejak usia dini kepada anak-anak untuk mencegah tindakan kekerasan.
Dengan pembinaan hati nurani yang baik, maka seseorang akan mampu membuat keputusan dan melakukan tindakan yang benar, termasuk menolak tindakan-aksi yang dapat melukai orang lain.
Hal yang sama juga menjadi doa diakhir tahun dalam Gereja Katolik dan harapan di tahun baru 2025 mendatang, sesuai dengan motto yubileum tahun 2025 “Peziarah Pengharapan”.
Dalam logo yubileum 2025 menjelaskan empat figure manusia yang sangat relevan dengan persoalan yang telah diuraikan di atas.
Pertama, manusia berpelukan mau menggambarkan solidaritas antar sesama. Gereja ingin mengajak semua orang untuk saling membuka tangan, merangkul, dan menolong satu sama lain, bukan untuk mengalienasi atau bahkan menghakimi.
Kedua, figure utama pemegang salib melambangkan iman dan harapan yang tidak boleh ditinggalkan. Sebagai peziarah fana, manusia membutuhkan harapan, terutama di saat-saat sulit.
Ketiga, ombak besar melambangkan kenyataan bahwa dalam peziarahan hidup sebagai orang beriman, tidak ada kehidupan yang berjalan mulus diperairan yang tenang.
Keempat, salib yang berujung jangkar melambangkan bahwa kehidupan yang lebih luas, menuntut panggilan yang lebih besar untuk berharap. Jangkar adalah symbol harapan.
Kelima, semua. Semua ini melambangkan bahwa perjalanan berziarah bukanlah perjalanan individu, tapi perjalanan komunal yang ditandai dengan dinamisme yang semakin meningkat, yang menuntun seseorang dekat salib.
Keenam, salib melengkung melambangkan bahwa salib itu dinamis bukan statis. Salib tersebut membungkuk kearah manusia, tidak meninggalkan manusia itu sendirian, tetapi mengulurkan tangan kearah mereka untuk menawarkan kepastian kehadiran-Nya dan keamanan harapan.
Kesimpulannya bahwa, Gereja Katolik dalam Yubileum 2025 mengajak umat beriman untuk selalu merefleksikan atas perjalanan hidupnya sebagai peziarah.
Melalui logo Yubileum 2025, kita diingatkan akan nilai solidaritas, iman, harapan, dan dinamika perjalanan hidup bersama.
Dengan demikian, harapannya di tahun Yoel menjadi momentum pembaruan spiritual bagi semua umat Katolik agar dapat menjalani hidup yang lebih bermakna dan dekat dengan Tuhan. *
Penulis adalah Mahasiswa STIPAS Ruteng, Manggarai, NTT.
Editor: Wall Abulat

