MUDIKALINK.net-Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, RP. Dr. Otto Gusti N. Madung, SVD memimpin Misa Perayaan Kamis Putih di Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosari Reo, Kamis 17 April 2025.
Pada momen perayaan ini, Pater Otto Gusti membasuh kaki 12 perwakilan umat Katolik Paroki Reo dan menyampaikan makna dari ritual pembasuhan itu.
Adapun 12 perwakilan umat yang kakinya dibasuh oleh Otto Gusti yakni Yosef Nansi Hono, Ferdinand Richard Cundawan, Donatus Palus, Edwarto Falentino Grate, Ardianus Supardi, Ferdinandus Lesing Didu, Yohanes Diazm Gabriel Habore, Amandus Joni Patris Santu, Yoseph Laruh, Lambertus S. Purap, dan Valentinus Jehamat.
Makna Pembasuhan Kaki
Pater Otto Gusti dalam homilinya menjelaskan makna pembasuhan kaki yang menjadi salah satu momen penting dan berahmat pada setiap Perayaan Kamis Putih.
Mengacu pada Injil Yohanes bacaan saat itu, Pater Otto Gusti meggarisbawahi bahwa kita menyaksikan dan mengalami Yesus yang membasuh kaki para muridNya.
Pada masa itu, membasuh kaki para tamu merupakan tugas yang dijalankan oleh para budak. Budak tidak pernah mengambil bagian dalam perjamuan keluarga. Tugas budak ialah melayani termasuk membasuh kaki tuan rumah dan para tamu yang berkunjung. Dan pada malam ini Yesus menjalankan tugas tersebut.
“Yesus menanggalkan pakaian dinasNya, jubahNya, dan memasang sepotong handuk pada pinggangNya dan membasuh kaki murid-muridNya laksana seorang babu. Ini aneh, dan mungkin gila. Sadar akan seluruh kekuasaan ilahi-Nya, Ia tanggalkan kewibawaanNya. Karena itu Petrus berontak. Seorang pemimpin yang berwibawa harus tahu membawa diri, merelakan diri diantar oleh protokol yang wajar. Kecuali Yesus. Pantas para murid lelaki lari ketika Yesus ditahan, diadili dan dihukum mati. Hanya tinggal segelintir murid perempuan yang menonton dari jauh,” katanya.
Dikatakannya, Petrus tidak mengerti, bagaimana seorang mesias dapat melakukan pekerjaan seorang budak? Seperti kaum Zelot, Petrus memiliki pandangan tentang Yesus sebagai mesias politik yang mampu membebaskan bangsa Israel dari jajahan bangsa Romawi dengan jalan kekerasan.
“Petrus berpikir, jika Yesus berhasil membebaskan bangsa Israel dari jajahan Romawi, maka Yesus akan memimpin bangsa Israel. Dan Petrus pasti akan mendapat jabatan tertentu dalam sistem politik yang dibangun Yesus. Karena itu Petrus kecewa dan tidak setuju ketika Yesus menjalankan tugas seorang budak,” katanya.
Teladan yang telah ditunjukkan Yesus ini, lanjutnya, hendaknya menjadi tuntunan hidup kita. Kalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamu pun harus membasuh kaki satu sama lain. Aku memberikan teladan kepadamu, supaya kamu berbuat seperti tadi Kuperbuat untukmu, katanya mengutip perikope Injil Yohanes.
Selain pembasuhan kaki, urainya, dalam perayaan Kamis Putih atau Perjamuan Terakhir Yesus juga mengadakan Perjamuan (Makan Bersama) dengan murid-muridnya.
Dikatakannya, masyarakat dan agama Yahudi dibangun di atas identitas yang dirumuskan dalam bentuk perintah zachor: Ingatlah, kenanglah atau jangan lupa.
Dalam peristiwa Paskah, lanjutnya, orang Yahudi mengenang peristiwa pembebasan bangsa Israel oleh Yahwe dari penjajahan bangsa Mesir. Ingatan atau memoria akan pembebasan itu membentuk identitas mereka dan menjadi landasan untuk percaya dan berharap pada Yahwe.
“Yahwe yang membebaskan itu kini hadir dalam diri Yesus. Dalam perjamuan terakhir Yesus menyerahkan diriNya, tubuh dan darahNya untuk membebaskan manusia, memberikan kekuatan bagi manusia dalam ziarah di muka bumi ini,” katanya.
Otto Gusti menggarisbawahi bahwa dalam peristiwa itu Allah dalam diri Yesus menunjukkan solidaritasNya yang radikal kepada manusia. Dalam perayaan ekaristi Yesus membagi dan memberikan diri untuk keselamatan manusia. Dikuatkan oleh ekaristi yang sama, kita pun mengambil bagian dalam solidaritas Allah terhadap yang lemah dan terpinggirkan.
“Di tengah wabah corona beberapa tahun lalu kita diminta untuk melakukan physical distancing tapi bukan social distancing. Kita harus menjaga jarak fisik, tapi solidaritas dan kepedulian terhadap para korban harus tetap kita jaga. Dengan itu kita dapat menghadirkan Allah yang solider dan peduli di tengah dunia ini,” katanya.
Otto Gusti menyentil bagaimana Paus Fransiskus yang mengingatkan kita bahwa dunia sekarang sedang berada dalam kondisi dilanda globalization of indifference (globalisasi ketakpedulian) yang berdampak pada ketidakmampuan untuk menangis dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain.
“Di tengah dunia yang diwarnai dengan apatisme dan ketakpedulian, Gereja harus tampil sebagai budaya tandingan yang mempromosikan sikap bela rasa (compassion) dan belas kasih (mercy). Belas kasih (mercy) adalah kepenuhan dari keadilan dan manifestasi paling sempurna dari kebenaran Allah,” katanya.
Kasih adalah prinsip dasar karya Allah dan Yesus, dan karena itu harus menjadi prinsip dasar seluruh karya Gereja. Allah hadir di dalam Gereja ketika kita terlibat dalam praksis berbela rasa (compassion), belas kasih (mercy) dan perjuangan mewujudkan keadilan (justice) dalam dunia yang penuh penderitaan, terutama dunia orang-orang miskin, tegasnya.
Otto Gusti menggarisbawahi bahwa Yesus mengundang kita untuk membentuk sebuah persekutuan, sebuah komunitas yang berbasiskan pelayanan, kasih dan sebuah komunitas solidaritas.
Pada hari ini, lanjutnya, kita menyaksikan bagaimana kekerasan diubah menjadi cinta. Persis tantangan mengerikan inilah yang dihadapi Yesus dengan kebebasan yang sempurna, yang telah dimenangkanNya di Taman Ketakutan di Bukit Zaitun dalam pergulatan dengan Bapanya. Dan dia menghadapi tantangan itu karena cinta. Dia sendiri telah berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan hidupnya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15,13).
“Dalam kematian di kayu salib, Yesus menetapkan standar yang sangat tinggi untuk umat manusia dan mengubah kekerasan menjadi cinta. Karena tangannya dipaku, dia tidak bisa lagi menunjukkan tinju kepada umat manusia. Dia menunjukkan kepada kita jalan dari kekerasan menuju cinta. Dan meminta kita untuk meneladani-Nya. “Cintailah satu sama lain, seperti Aku telah mencintai kamu.” (Yoh 15,12).
Ikuti dengan Penuh Kidmat
Pantauan media ini, perayaan Kamis Putih di Gereja Reo diikuti ribuan umat Katolik. Umat mengikuti semua tahapan perayaan,mulai dari perarakan imam dan para petugas liturgis, rangkaian liturgi Kamis Putih, acara pembasuhan kaki, acara pengosongan altar, perarakan Sakramen Maha Kudus, dan tuguran.
Selalu penanggung liturgis dan koor dalam perayaan ini adalah umat dari Wilayah 2 Stasi Pusat. Koor dipimpin dalam acara liturgis ini dipimpin Ibu Florida Sendy Indriani, S.Pd (Kasek SMPK Tri Bhakti Reo).*
Penulis: Wall Abulat

