Oleh: Wentho Eliando
PENDOPO Susteran Congregatio Missionalis Servarum Spiritus Sancti (SSpS) Komunitas Santo Fransiskus Xaverius Balela di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Keuskupan Larantuka, Jumat 25 April 2025, tidak seperti biasanya, banyak orang datang dan berkumpul.
Tampak di pendopo itu, suster baik Kongregasi SSpS, Kongregasi CIJ (Kongregasi Ikut Yesus atau Conggregasi Imitacione Jesu/CIJ), maupun Kongregasi Putri Reinha Rosari (PRR), Vikjen Keuskupan Larantuka, Romo Gabriel Unto da Silva, Deken Larantuka, RD Hendrik Leni, Pr, relawan, sahabat-sahabat, tokoh masyarakat, tokoh umat, dan sejumlah jurnalis di Kabupaten Flores Timur.
Mereka semua berkumpul dalam balutan apik; Coffe Morning dalam rangka menyongsong 100 Tahun Komunitas SSpS atau Kongregasi Misionaris Abdi Roh Kudus Santo Fransiskus Xaverius Balela-Larantuka yang puncak perayaannya dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2025.
“Menyongsong 100 tahun Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius Balela, panitia telah memulainya sejak tahun 2024. Puncak perayaan dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2025,” ungkap Ketua Panitia 100 Tahun Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius Balela, Mikhael Fernandez Lewai.
Mel Fernandez sapaan akrabnya menyebutkan, sebelum puncak perayaan pada 23 Mei 2025, sudah ada sejumlah kegiatan yang dilakukan. Panitia dan Komunitas Santo Fransiskus Xaverius Balela, yakni Tridum pada tanggal 24-26 April 2024 di Kapela Biara SSpS Komunitas Balela.
“Salve Agung pada 27 April 2024 di Kapela SSpS Balela, dan Perayaan Ekaristi Kudus membuka Tahun Yubelium pada Misa II Minggu, 28 April 2024 di Gereja Katedral dipimpin Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung,” katanya.

Selain itu, Panitia dan Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius Balela sudah dan sedang melakukan kegiatan lainnya, yakni kunjungan ke Panti Asuhan, ziarah ke Kapela Mgr. Gabriel Manek di Biara Pusat PRR Lebao, dan katekese.
“Pada 1 Mei 2025 ini, dilakukan ziarah ke para pendahulu SSpS di Hokeng (Kabupaten Flores Timur), Lela dan Wairkoja (Kabupaten Sikka). Tanggal 10 Mei 2025, Panitia menggelar kegiatan Jalan Santai melibatkan banyak pihak dan Tridum, tanggal 19-21 Mei,” jelas Mel Fernandez.
Dari Lela ke Balela
Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius tentu tidak sertamerta berada ada Balela, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Komunitas ini punya cerita dan perjalanan panjang yang boleh dicatat dan terus menjadi bahan ingatan sejarah yang terukir rapih, terkhusus bagi para suster Misionaris Abdi Roh Kudus.
Suster Helena Fewo, SSpS mengatakan, Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius Balela berawal dari karya suster-suster Fransiskanes. Pada tahun 1879, suster-suster Fransiskanes dari Heithuysein mendirikan sekolah dan asrama putrid di Larantuka. Setiap tahun, baik sekolah maupun asrama menampung dan mendidik lebih dari 100 putri Flores dan pulau-pulau sekitarnya.
Karya ini dijalankan para suster Fransiskanes hingga pertengahan tahun 1925. Pada tahun 1924, pemimpin suster-suster Fransiskanes menyampaikan keputusan kongregasinya kepada Mgr. Arnold Verstralen, SVD, Vikaris Apostolik Kepulauan Sunda Kecil waktu itu untuk memindahkan suster-suster dari Larantuka ke Jawa.
“Sehingga Mgr. Arnold Verstralen, SVD dengan berat hati mengizinkan para suster Fransiskanes untuk meninggalkan Larantuka dalam bulan April 1925 dan segera meminta bantuan kepada pemimpin SSpS di Lela, Kabupaten Sikka,” cerita Suster Helena Fewo, suster senior dalam Coffie Morning.
Sebagai misionaris awal, cerita Suster Helena Fewo, 5 suster SSpS berjalan kaki dari Lela ke Balela. Lima suster awal itu, yakni Suster Wilibrorda Getrud Bouman, Suster Amadea Imants, Suster Serafica Smits, Suster Anamdia Branderhorst dan Suster Nolana Rahe.

Niat perjalanan yang panjang itu pun menggerakkan hati Raja Sika, Don Thomas Ximenes da Silva. Don Thomas bersedia menghantar 5 suster itu dengan mobil dari Lela ke Maumere, Kabupaten Sikka. Setelah tiba di Maumere, 5 misionaris putri ini menggunakan perahu motor menuju Nangahale hingga ke Teluk Hading Belo Bare-Kawaliwu, Kecamatan Lewolema, wilayah Kabupaten Flores Timur.
Setelah itu, lanjut Suster Helena, mereka menunggu Pater Striter, SVD dan Pater Thoolen, SVD menjemput mereka. Lalu, 5 misionaris Abdi Roh Kudus ini melanjutkan perjalanan ke Pantai Oka melalui jalan yang saat itu rusak berat.
“Berkat uluran tangan banyak pihak, hingga ada kapal motor mengangkut Putri Roh Kudus ini ke Balela-Larantuka. Selama dua hari perjalanan panjang, akhirnya pada 20 April 1925, 5 misionaris SSpS perdana tiba di dermaga susteran Santo Fransiskus Xaverius Balela,” kata Suster Helena Fewo.
“Mereka disambut meriah oleh suster-suster Fransiskanes, para pastor dan putri-putri asrama berseragam putih sambil mengumandangkan lagu ‘Selamat datang suster-suster baru’, Tuhan Maha Besar,” tambah Suster Helena Fewo.
Suster Helena Fewo menyebut, pada 25 April 1925, para suster Fransiskanes meninggalkan Balela dan kembali ke Pulau Jawa. Kompleks susteran seluas 2 hektar itu dipercayakan kepada SSpS. Hingga saat ini berusia 100 tahun,” katanya.
Karya SSpS di Keuskupan Larantuka
Sudah banyak karya karitatif yang dijalankan sejak Kongregasi SSpS Komunitas Santo Fransiskus Xaverius Balela di Kabupaten Flores Timur, baik di bidang pendidikan, juga kesehatan bagi umat dan masyarakat Kabupaten Flores Timur.
Muder Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius Balela, Suster Ermelinda Seri Ngampu menyebutkan, Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius Balela berkarya di Balela-Larantuka, Belogili, Hokeng, Waiwadan (Adonara), Boto (Lembata), Pada (Lembata).
Di Balela-Larantuka, kata Suster Ermelinda, Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius Balela berkarya di bidang pendidikan TK dan SMP, Pastoral Kaum Muda dalam bentuk asrama putra dan putri, karya kemanusiaan; GPIC-ODHA kerjasama dengan Biara Kupang, Mitra Relawan dan PMRK.
Di Belogili dalam bentuk Poli Klinik dan Karya Pastoral, yakni Pelayanan Katekese, Pembinaan Keluarga, Komunio Pertama, dan Pembinaan Rohani. Sementara di Hokeng berkarya dalam bidang pendidikan dengan mengelola SMPK Santissima, tempat pembinaan calon suster SSpS, Rumah Retret dan Pastoral JPIC.
Di Waiwadan, masih Suster Ermelinda, dalam bentuk karya pastoral dan mengelola lembaga pendidikan milik paroki, penyuluhan agama Katolik, dan juga mengelola Taman Seminari yang sudah berjalan selama 4 tahun.
Selain di Kabupaten Flores Timur, kata Suster Ermelinda, Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius Balela juga berkarya di wilayah Kabupaten Lembata. Yakni, di Boto dan Pada. Di Boto dalam bentuk karya pastoral, kesehatan dan pendidikan.

Sedangkan di Pada, kata Suster Emerlinda, yakni Yayasan Guntile Karitas Peduli Balai Latihan Kerja (BLK) kerjasama dengan luar negeri dibawah pengawasan kementerian, pelatihan informatika, tata boga, busana dan kursus bahasa Inggris.
Suasana Coffe Morning Bersama SSpS Balela menyongsong 100 Tahun SSpS Komunitas Santo Fransiskus Xaverius Balela berakhir dengan testimoni tentang peran dan keterlibatan melahirkan Kongregasi PRR serta apa yang pernah dirasakan oleh umat dan masyarakat atas ketelibatan Kongregasi SSpS Komunitas Santo Fransiskus Xaverius Balela.
Momen strategis 100 tahun misi SSpS dari Lela ke Balela—di bumi Semana Santa ini patut dirayakan dalam bingkai “Mensyukuri Jejak Misionaris, Menatap Optimis Sembari Terus Berbakti” bersama Komunitas SSpS Santo Fransiskus Xaverius, umat Keuskupan Larantuka, masyarakat Flores Timur dan Lembata. *

