Generasi Muda Harus Teguh Berdiri, Jangan Goyah, dan Giat dalam Pekerjaan Tuhan – MudikaLink

Generasi Muda Harus Teguh Berdiri, Jangan Goyah, dan Giat dalam Pekerjaan Tuhan

MUDIKALINK.net-Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Ruteng, Reverendus Pater (RP) Sebastian Hobohana, SVD meminta generasi muda Katolik untuk tetap teguh berdiri, jangan goyah, dan selalu giat/aktif dalam pekerjaan Tuhan.

Kaum Muda jangan takut menjumpai Tuhan dalam hidupmu. Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan pinta Vikjen Keuskupan Ruteng RP. Sebastian Hobohana dalam khotbahnya saat memimpin misa Hari Raya Tubuh Kristus di Gereja Paroki Reo, Minggu 22 Juni 2025 petang.

Perayaan Hari Raya Tubuh Kristus tahun ini di Paroki Reo terbilang istimewa karena diawali dengan perarakan Sakramen Maha Kudus dari Paroki Kristus Raja Pagal, melalui Paroki Bea Nio menuju Paroki Santa Maria Ratu Rosario Reo.

Prosesi Sakramen Maha Kudus ini merupakan salah satu momen kegiatan untuk memaknai Perayaan Pancawindu Imamat Vikep Reo Reverendus Dominus (RD) Herman Ando, perayaan 10 tahun usia Kevikepan Reo dan Youth Camp OMK yang puncaknya digelar pada Senin 23 Juni 2025.

Mengawali khotbahnya, Vikjen mengutip kutipan bermakna Paus Fransiskus, demikian petikannya: Menjadi seorang Kristiani bukanlah hasil pilihan etis atau gagasan mulia, melainkan perjumpaan dengan suatu kejadian dengan seseorang yang memberi cakrawala baru dan arah yang menentukan dalam hidup.

Vikjen menggarisbawahi makna terminologi perjumpaan sebagaimana yang digarisbawahi Paus Fransiskus.

“Karena perjumpaan inilah orang tidak bosan datang kepada ekaristi meskipun ritusnya sama saja atau pastornya sama saja. Kristuslah yang membuat orang mencintai ekaristi,” kata Vikjen.

Menurut Vikjen, peran prosesi Sakramen Maha Kudus adalah salah satu cara pembaharuan dan penegasan iman akan Allah yang memberi diriNya bagi umat dan bagi semua manusia.

“Oleh karena itu, peristiwa hari ini bukan terutama rumus-rumus atau ritus-ritus, melainkan interaksi dan komunikasi. Dalam iman manusia menyambut panggilan untuk hidup demi persekutuan, baik persekutuan dalam jemaat, maupun dengan siapa pun karena kasih Kristus mendesaknya, kasih Kristus mendesak kita-Caritas Christi Urget Nos,” kata Vikjen.

Pada ulang tahun ke-10 Kevikepan Reo yang dirayakan dalam Tahun Yubelium, lanjut Vikjen, “kita semua diajak dan didorong untuk bertekun dan bertahan dalam pengharapan. Ajakan ini menyadarkan kita bahwa Gereja Katolik Keuskupan Ruteng, secara khusus Kevikepan Reo adalah juga sebuah komunitas pengharapan (community Hope).”

“Harapan inilah yang menjadi kekuatan bagi setiap orang beriman untuk dengan tekun dan setia, tanpa rasa sombong atau putusasa, terlibat dalam karya penyelematan, menegakkan Kerajaan Allah di seluruh wilayah Kevikepan,” kata Vikjen.

Vikjen pada kesempatan ini mengutip Penulis Romano Guardini, demikian petikannya Satu-satunya ukuran dengan tepat untuk menilai suatu masa adalah menanyakan sejarah mana masa itu telah memupuk perkembangan dan pencapaian, eksistensi manusia secara penuh dan dengan makna sejati sesuai dengan karakter khas kemampuan masa itu.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, lanjutnya, “Tuhan Yesus membawa kita semua untuk belajar belajar dari Filosofi Meja Makan, Filosofi Perjamuan di mana Tuhan membawa kita untuk berpikir Agape dengan Perjamuan Paska, dari Meja Ekaristi dan Perjumpaan.”

Dahulu, di antara para murid Yesus ada beda pendapat siapa terbesar, ada survei diam-diam dari Yudas untuk menjual Yesus, ada kemarahan terhadap dua anak Zebedeus yang meminta kenyamanan posisi diri.

“Di sana ada konflik relasi, konflik kepentingan finansial dan status sosial. Dan Tuhan bertindak dengan membawa mereka semua kepada peristiwa ekaristi, perjumpaan dengan dirinya,” katanya.

Cinta Komunio

Vikjen menggarisbawahi bahwa dalam Kevikepan, dalam karya pastoral bisa juga ada konflik, ada kerkah batin, pengalaman terluka (dilukai-melukai), perbedaan pendapat/perasaan, kehendak, pemisahan, keterpecahan.

Semua bisa terjadi karena faktor emosional, kepentingan yang berbeda, ketidakjelasan situasi. Namun, marilah sekarang kita belajar lagi dari peristiwa Yesus Kristus yang memberi tubuh dan darahnya bagi hidup dunia.

“Agar kita promosikan budaya hidup/cinta komunio, agar kita tidak menjauhkan diri dari komunio Kevikepan, tidak memberi ruang kepada iri hati, ingat diri, kebencian, atau sikap balas dendam. Janganlah ada wilayah/KBG/Paroki yang memisahkan diri dari Komunio, Kevikepan:semua kekuatan cinta (power of love) selalu mengalir dari kekuatan yang lebih tinggi, mengalir dari yang Maha Ada,” katanya.

Menurut Vikjen, ekaristi adalah kekuatan cinta yang mengalir dari Allah, yang memiliki daya transformatif/mengubah, daya yang membebaskan, menyembuhkan, dan mempersatukan.

“Kepada Kaum Muda, kami berpesan agar jangan Takut menjumpai Tuhan dalam hidupmu. Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia,” pesan Vikjen.

Penuh Khidmat

Perarakan Sakramen Maha Kudus dimulai dari Gereja Kristus Raja Pagal yang diawali dengan perayaan ekaristi kudus dipimpin oleh Pastor Paroki Pagal RP. Albertus Magnus Dafidis Watan Lasar, OFM. Sakramen Maha Kudus dari Gereja Pagal dibawa dengan menggunakan kendaraan terbuka.

Usai misa di Gereja Pagal dilanjutkan dengan perarakan sakramen maha kudus dari Gereja Paroki Pagal, melalui Paroki Beo Nio menuju Wae Pesi, Stasi Nggorang, dan Gereja Paroki Reo. Rangkaian acara ini diikuti umat dengan penuh khidmat.

Di jembatan Wae Pesi dilakukan penerimaan Sakramen Maha Kudus secara adat yang dibawakan tokoh adat Stasi Bajak Paroki Loce Melkiades Sulti, lalu penerimaan dan pentahtaan Sakramen Maha Kudus di Kapela Stasi Nggorang, dilanjutkan prosesi ke Gereja Paroki Reo.

Setiba di Terminal Reo, Kelurahan Mata Air, pelbagai elemen umat di bawah pimpinan Pastor Paroki Reo RD. Mansuetus Hariman sudah siap menerima kedatangan Sakramen Maha Kudus dan tim rombongan yang mengantar di bawah pimpinan Pastor Paroki Pagal RP. Aba Lasar, OMF.

Dalam prosesi selanjutnya dari Terminal ke Gereja Paroki Reo, Sakramen Maha Kudus dibawa dengan menggunakan mobil terbuka di bawah pimpinan RD. Yosef Oriol Dampuk.

Setiba di Gerbang Gereja Paroki Reo, Sakramen Maha Kudus diterima secara ritus adat Kepok Curu yang dibawakan oleh Bapak Kanis Tamung.

Puncak prosesi dimaknai dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Vikjen RP. Sebastian Hobohana, SVD. Saat momen ekaristi ada acara torok persembahan yang dibawakan tokoh adat Valens Jemahat.

Misa Tubuh dan Darah Kristus ini juga disemarakkan dengan kemasan liturgis yang dibawakan umat Stasi Hati Kudus Yesus Wangkung di mana.koor dipimpin oleh Robertus Eky Herum.

Semua tahapan prosesi Sakramen Maha Kudus dan Misa Tubuh dan Darah Kristus diikuti umat dengan penuh khidmat dan umat selalu menunjukkan sikap serah diri yang total pada kehendak Allah. *

Penulis: Wall Abulat I Editor: Wentho Eliando

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *