Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
BULAN September dalam tradisi Gereja Katolik bukan sekadar penanda waktu liturgis, melainkan ruang rohani yang mengundang umat untuk menyelami kedalaman Sabda Allah.
Tahun 2025 ini, Gereja Wilayah Nusa Tenggara yang tengah bergulat dengan realitas kemiskinan, migrasi tenaga kerja, konflik agraria, dan keretakan relasi antar komunitas, diajak untuk merenungkan tema yang menggugah: “Allah Sumber Pembaruan Hidup.”
Tema yang direnungkan pula secara nasional ini bukan hanya gema spiritual, tetapi juga seruan profetik yang menantang umat untuk melihat Kitab Suci sebagai sumber transformasi sosial yang berakar pada iman dan keadilan. Di tengah luka-luka sosial, Sabda Allah menjadi cahaya yang menuntun pada pemulihan relasi, penguatan solidaritas, dan pembaruan hidup bersama.
Dalam Bulan Kitab Suci Nasional ini, umat diajak untuk belajar dari dua nabi pasca-Pembuangan Babel: Zakharia dan Maleakhi. Zakharia menyerukan pertobatan dan ibadah yang benar, serta kasih kepada sesama (Za. 1:1–6; 7:1–14), sementara Maleakhi menekankan kesetiaan dalam keluarga dan hormat kepada Allah sebagai jalan hidup yang berkenan di hadapan-Nya (Mal. 2:10–16; 3:13–18).
Tema yang dirancang dalam empat pertemuan ini bukan sekadar studi biblis, melainkan undangan untuk membiarkan Sabda Allah menata ulang cara kita hidup, berkomunitas, dan membangun masa depan yang lebih adil dan bermartabat.
Wilayah Nusa Tenggara, dengan kekayaan budaya dan religiusitasnya, menyimpan paradoks yang mencolok. Di satu sisi, masyarakatnya dikenal religius dan komunal. Namun di sisi lain, relasi sosial sering kali terancam oleh fragmentasi antar kelompok etnis dan agama, ketimpangan ekonomi yang memicu migrasi dan disintegrasi keluarga, kekerasan berbasis gender dan eksploitasi anak, serta konflik agraria dan kerusakan lingkungan yang merusak relasi manusia dengan alam.
Dalam konteks ini, relasi hidup baik dengan diri sendiri, sesama, keluarga, maupun Tuhan sering kali mengalami ketegangan dan keterputusan. Karena itu, menjadikan Allah sebagai sumber pembaruan bukanlah retorika rohani, melainkan strategi sosial yang menyentuh akar persoalan.
Paradoks sosial ini mencerminkan ketegangan antara nilai-nilai religius yang diwariskan secara turun-temurun dan realitas kehidupan yang semakin kompleks. Komunitas yang secara kultural menjunjung tinggi solidaritas dan spiritualitas justru kerap terjebak dalam konflik identitas, ketimpangan akses terhadap pendidikan dan ekonomi, serta keretakan struktur keluarga akibat migrasi dan tekanan hidup.
Dalam situasi seperti ini, religiusitas tidak selalu berbuah pada keutuhan relasi, melainkan bisa menjadi ruang yang terfragmentasi jika tidak dihidupi secara reflektif dan kontekstual.
Menurut saya, dengan merenungkan tema ‘menjadikan Allah sebagai sumber pembaruan hidup’ berarti mengembalikan spiritualitas kepada praksis sosial yang membebaskan.
Dalam konteks ini, Kitab Suci bukan hanya dibaca, tetapi dihidupi dalam tindakan nyata: membangun dialog lintas budaya, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan memperjuangkan keadilan bagi yang terpinggirkan.
Dalam situasi spesifik Nusa Tenggara, pembaruan relasi hidup adalah panggilan untuk menjadikan iman sebagai kekuatan transformatif yang menyentuh luka sosial, menyembuhkan relasi yang retak, dan menumbuhkan harapan baru di tengah masyarakat yang sedang mencari arah.
Di sini, Kitab Suci bukan hanya teks liturgis, tetapi juga narasi hidup yang mengajarkan pengampunan sebagai jalan rekonsiliasi sosial, solidaritas sebagai bentuk keadilan relasional, keluarga sebagai komunitas kasih yang membentuk karakter, dan alam sebagai ciptaan Tuhan yang harus dirawat bersama.
Dalam konteks Nusa Tenggara, penghayatan Kitab Suci dapat menjadi kekuatan transformatif untuk memulihkan relasi antar komunitas yang terpecah oleh prasangka dan konflik, mendorong partisipasi aktif keluarga dalam membangun masyarakat yang inklusif, serta menumbuhkan spiritualitas ekologis yang menghormati tanah, air, dan budaya lokal.
Kitab Suci, ketika dihayati secara mendalam, menjadi lebih dari sekadar bacaan rohani. Lebih dari itu, ia menjelma sebagai pedoman hidup yang menyentuh dimensi sosial, budaya, dan ekologis masyarakat.
Di Nusa Tenggara, di mana relasi antar komunitas kerap diuji oleh sejarah konflik dan ketimpangan, nilai-nilai Kitab Suci seperti pengampunan dan solidaritas dapat menjadi jembatan pemulihan. Ia mengajarkan bahwa rekonsiliasi bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk membangun kembali kepercayaan dan kebersamaan yang retak.
Dalam ruang yang lebih spesifik, Kitab Suci menempatkan keluarga sebagai pusat pembentukan karakter dan spiritualitas. Dalam konteks migrasi dan disintegrasi keluarga yang marak di wilayah ini, ajaran Kitab Suci dapat menghidupkan kembali semangat kasih dan tanggung jawab antar anggota keluarga.
Di saat yang sama, spiritualitas ekologis yang terkandung dalam Kitab Suci mengajak umat untuk melihat tanah, air, dan budaya lokal bukan sebagai sumber eksploitasi, melainkan sebagai warisan ilahi yang harus dijaga bersama.
Dengan demikian, penghayatan Kitab Suci menjadi kekuatan pembaruan yang menyeluruh menyentuh relasi manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan.
Tema BKSN tahun ini mengajak umat Katolik di Regio Nusra untuk tidak berhenti pada ritual, tetapi melangkah ke praksis etis. Allah bukan hanya hadir dalam doa, tetapi dalam tindakan nyata: ketika seorang ibu mendidik anaknya dengan kasih dan keteladanan; ketika pemuda memilih untuk tidak terjebak dalam kekerasan atau narkoba; ketika komunitas adat dan Gereja bersatu menjaga hutan dan sumber air; ketika keluarga-keluarga membuka ruang dialog lintas iman dan budaya.
Dalam konteks ini, pembaruan relasi hidup berarti membangun kembali jembatan yang runtuh, menyembuhkan luka sosial, dan menghidupkan kembali harapan yang nyaris padam.
Bulan Kitab Suci Nasional 2025 bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah peziarahan sosial dan spiritual.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, umat Katolik di Nusa Tenggara dipanggil untuk menjadi saksi pembaruan relasi hidup. Allah bukan hanya sumber kekuatan rohani, tetapi juga sumber etika sosial, sumber keberanian untuk mengampuni, dan sumber harapan untuk membangun masa depan yang lebih adil, ekologis, dan bersaudara.
Jika boleh hendaklah selama bulan khusus ini kita jadikan Kitab Suci sebagai lentera yang menuntun langkah kita dalam membangun relasi yang sehat, bermakna, dan membebaskan di rumah, di kampung, dan di seluruh tanah Nusa Tenggara.
Bulan Kitab Suci Nasional 2025 mengajak umat untuk melampaui rutinitas rohani dan masuk ke ruang refleksi yang menyentuh denyut kehidupan sosial.
Di tengah realitas Nusa Tenggara yang masih bergulat dengan kemiskinan struktural, migrasi yang memisahkan keluarga, serta keretakan relasi antar komunitas, Kitab Suci menjadi suara kenabian yang menuntun umat untuk tidak menyerah pada keterpecahan. Ia mengajak kita untuk melihat wajah Allah dalam setiap relasi yang rusak, dan menjadikannya titik tolak pembaruan yang menyentuh akar persoalan.
Peziarahan sosial dan spiritual ini menuntut keberanian untuk menghidupi iman secara konkret: mengampuni yang menyakiti, merangkul yang terpinggirkan, dan merawat bumi yang terluka.
Allah sebagai sumber pembaruan bukan hanya hadir dalam doa, tetapi dalam tindakan nyata yang membangun keadilan ekologis dan persaudaraan lintas batas.
Kitab Suci menjadi lentera yang menyalakan harapan, membimbing langkah umat Katolik Nusa Tenggara untuk menjadi pelita dalam gelapnya fragmentasi, dan menjadi saksi hidup dari kasih yang membebaskan.*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

