Oleh: Karolus Banda Larantukan
WAIBALUN, sebuah kampung kecil di jantung Flores Timur, kembali menorehkan kisah iman yang besar. Dari tanah sederhana yang diapiti Ile Mandiri dan Nuha Waibalun, lahirlah seorang imam baru: P. Fransiskus Bartolomeus Bala Kean, SVD.
Tahbisannya bukan sekadar perayaan pribadi, tetapi juga tanda syukur seluruh Ata Lewo Waibalun (masyarakat Waibalun) atas benih panggilan yang tumbuh dari tanah penuh kekerabatan, solidaritas dan religius.
Imamat bukanlah kehormatan yang dicapai, melainkan rahmat yang diterima. Dalam konteks Waibalun—yang dikenal dengan semangat solidaritas dan kesederhanaannya—panggilan ini menemukan makna yang sangat mendalam.
P. Fransiskus tumbuh dalam budaya di mana iman Katolik menyatu dengan nilai-nilai lokal: saling menyapa (tou maja tou honik), kerja bersama (gelekat Lewo), dan kepedulian terhadap sesama (Eret Mata). Semua itu membentuk kepribadiannya sebagai pelayan yang rendah hati dan gembala yang siap berjalan bersama umat.
Menjadi imam berarti meninggalkan sebagian diri, tetapi juga berarti menemukan diri dalam pelayanan. Dalam semangat Serikat Sabda Allah (SVD), imam baru ini diutus bukan hanya untuk melayani satu tempat, melainkan untuk dunia.
“Dari Waibalun untuk Dunia” bukan slogan kosong, melainkan penegasan bahwa iman yang lahir dari tanah lokal dapat berbuah universal. Gereja selalu hidup dari akar-akar kecil seperti Waibalun, namun dijiwai oleh semangat misi yang tak mengenal batas, “Lage Ae Niku Kola”.

Tahbisan P. Fransiskus menjadi momentum refleksi bagi kita semua: bahwa setiap keluarga, setiap kampung, dan setiap komunitas berperan dalam menumbuhkan panggilan.
Dalam doa para ibu, dalam kerja keras para ayah, dalam semangat para pemuda, dan dalam ketekunan para katekis, tumbuhlah benih panggilan yang kemudian mekar dalam altar tahbisan.
Namun, menjadi imam di zaman sekarang tidaklah mudah. Dunia modern menawarkan banyak tantangan: arus sekularisme, individualisme, dan kehilangan makna spiritual. Di tengah situasi ini, imam dipanggil bukan sekadar menjadi penjaga tradisi, tetapi saksi hidup kasih Allah yang relevan dan menyapa manusia zaman ini.
Dari Waibalun, P. Fransiskus diutus untuk membawa nilai-nilai kearifan lokal kesederhanaan, ketulusan, dan gotong royong ke tengah dunia yang sering kehilangan arah.
Dalam refleksi ini, kita menyadari bahwa panggilan imamat adalah bagian dari misteri kasih Allah yang terus bekerja melalui sejarah manusia.
Waibalun telah memberikan putranya kepada Gereja universal; dan Gereja, pada gilirannya, mengutusnya kembali kepada dunia. Ini adalah lingkaran kasih yang menghubungkan bumi kecil Waibalun dengan horizon luas misi Kristus.
Akhirnya, kita bersyukur: karena di tengah dunia yang berubah cepat, masih ada orang muda yang berani menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan dan sesama.
P. Fransiskus Bartolomeus Bala Kean, SVD adalah tanda bahwa kasih Allah masih bekerja melalui tangan-tangan manusia yang sederhana.
Dari Waibalun untuk Dunia—semoga terang imamatmu menjadi berkat bagi banyak orang, dan semoga tanah kelahiranmu selalu menjadi sumber inspirasi iman bagi generasi berikutnya. *

