Habemus Episcopum Novum, Mgr Hans Monteiro Ditahbiskan Menjadi Uskup Larantuka – MudikaLink

Habemus Episcopum Novum, Mgr Hans Monteiro Ditahbiskan Menjadi Uskup Larantuka

MUDIKALINK.net-Habemus Episcopum Novum “Kita punya seorang uskup yang baru”. Mgr Yohanes Hans Monteiro resmi ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Larantuka. Ia ditahbiskan dalam perayaan Ekaristi Kudus di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Rabu (11/2/2026) pagi.

Mgr Hans Monteiro begitu disapa ditahbiskan oleh Mgr Fransiskus Kopong Kung sebagai Uskup Penahbis Utama didampingi Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr Paul Budi Kleden, dan Uskup Keuskupan Maumere, Mgr Ewaldus Martinus Sedu.

Ribuan umat Katolik baik dari Kabupaten Flores Timur maupun Kabupaten Lembata dan daerah lainnya bersatu bersama 34 uskup seluruh Nusantara hadir mengikuti perayaan tersebut.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengusung moto episkopalnya “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan).

Tiga Pilar Kesatuan: Menyentuh Setiap Sudut Kehidupan

Mgr. Budi Kleden dalam kotbahnya membedah moto Unum, Unus, Una sebagai sebuah pelukan semesta yang melintasi sekat gender, golongan, hingga sudut-sudut kehidupan yang paling sunyi. Menurutnya, penggunaan tiga genus bahasa tersebut melampaui urusan tata bahasa.

Habemus Episcopum Novum, Mgr Hans Monteiro Ditahbiskan Menjadi Uskup Larantuka

Ungkapan Latin itu menghadirkan simbol bahwa misi Mgr. Hans adalah misi yang utuh, sebuah panggilan untuk menyentuh setiap napas kehidupan di bumi Lamaholot tanpa ada satu pun yang tertinggal di luar lingkaran kasih.

Dalam pilar ‘Unum Corpus’, ditegaskan bahwa menjadi satu tubuh bukanlah tentang memaksakan keseragaman, melainkan merayakan keberagaman peran yang saling menguatkan.

Kesatuan sejati lahir saat Gereja berani merendahkan hati untuk melihat dunia dari mata mereka yang menjadi korban, merangkul jiwa-jiwa yang terhempas dalam kemiskinan empati, dan menemukan keberanian untuk saling mengampuni di tengah retakan-retakan ketersinggungan manusiawi.

Sementara itu, ‘Unus Spiritus’ hadir sebagai api kenabian yang membakar dinding “penjara ingat diri” dan kenyamanan semu.

Gereja dipanggil untuk turun ke kehidupan nyata, menjadi perisai bagi petani dan nelayan dari jeratan tengkulak, melawan lintah darat digital yang mengikis martabat, serta bersuara lantang menghentikan perdagangan manusia dan perusakan alam.

Bagi Mgr. Budi Kleden, seorang rohaniwan justru wajib berbicara tentang perkara duniawi, sebab kemiskinan yang merogoh perut seringkali menjadi awal dari keterpurukan batin yang paling dalam.

‘Una Spes’ ditenun menjadi lentera harapan yang tak kunjung padam di tengah dunia yang kian keras.

Harapan itu tidak abstrak. Ia nyata dalam mata awas para ‘Lamafa’ yang menantang gelombang Samudera Sawu, dalam jemari lentik gadis Adonara yang memintal benang di lereng Ile Boleng, serta dalam doa tulus petani Solor dan rindu tak bertepi seorang ibu di kaki Ile Mandiri. Di bawah pimpinan gembala baru, harapan-harapan kecil ini disatukan menjadi sebuah kekuatan besar untuk terus melangkah menuju rumah kasih yang satu.

Sang Komentator yang Kini Menjadi Gembala

Mgr. Budi Kleden dalam khotbahnya juga membuka dengan sebuah catatan sejarah yang menarik. Beliau mengenang peristiwa 22 tahun silam, saat Mgr. Fransiskus Kopong Kung memulai pelayanannya.

Kala itu, sosok yang berdiri di mimbar sebagai komentator adalah Romo Hans Monteiro muda. “Tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi dengan komentator kita hari ini, 22 tahun kemudian,” ujar Mgr. Budi Kelen sambil melanjutkan.

“Jika Mgr. Frans Kopong Kung memimpin dengan keterbukaan batin ala Bunda Maria untuk merawat kesatuan di tengah umat (“Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”, dan “Semoga mereka semua bersatu supaya dunia percaya”), kini Mgr. Hans datang dengan satu motto namun bermakna tiga dimensi: “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes.”

“Bale Nagi”: Pulang untuk Melayani

Habemus Episcopum Novum, Mgr Hans Monteiro Ditahbiskan Menjadi Uskup Larantuka

Momen paling menyentuh adalah ketika Mgr. Budi Kleden menyapa Mgr. Hans dengan sebutan hangat, “No” (sapaan akrab untuk laki-laki di Larantuka).

“No bale nagi (Pulang kampung), bukan karena mimpimu atau sekadar rindu makan jagung titi. No bale nagi sebab itulah perutusanmu. Supaya bersama kita semua, melangkah dalam rangkulan kasih Tuan Ma, mewartakan Tuan Ana.”

Mgr. Budi Kleden menutup khotbahnya dengan menegaskan bahwa segala perjuangan menuju kesatuan ini bermuara pada satu sosok: ‘Unus Christus’, Kristus yang satu. Dialah gembala utama yang akan menghantar seluruh umat untuk akhirnya “pulang ke rumah Tuhan” yang penuh kasih.

Perayaan bersejarah ini sejatinya tidak berhenti sebagai sebuah upacara peralihan tongkat kepemimpinan di Keuskupan Larantuka, melainkan sebuah pembaharuan janji suci yang dilarungkan ke dalam palung hati setiap umat.

Bahwa di tanah penuh berkat ini, iman akan tetap berdiri sekukuh tegakan Gunung Mandiri dan mengalir seluas samudera yang memeluk pulau-pulau, menjadi sauh yang menjaga langkah mereka agar tetap setia pada tradisi sembari terus berlayar menuju ufuk harapan yang baru.

Disaksikan Mudikalink.net, usai perayaan Ekaristi Tahbisan Uskup Larantuka Mgr Hans Monteiro, dilanjutkan dengan resepsi bersama para Uskup dan umat yang hadir di areal depan Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. *

Laporan: Ansel Atasoge dan Wentho Eliando

Editor: Anton Harus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *