Melihat pertumbuhan tanaman di lahan milik Arkus, warga sangat tertarik. Warga datang berduyun-duyun ke lahan Arkus untuk sekadar melihat-lihat.
MUDIKALINK.net-Arkulaus Lena boleh jadi merupakan salah satu pemuda yang bermental pantang menyerah meski kondisi wilayahnya tidak memungkinkan.
Dia terus berpikir dan bekerja cerdas bagaimana agar tanah berzat garam tinggi di wilayahnya bisa berubah dan berbuah hasil yang bisa membantu kehidupan ekonominya.
Alhasil, Arkulaus Lena menyulap tanah zat garam tinggi itu dengan membuat bedeng dan menanam cabai.
Arkulaus Lena adalah warga RT 21 Nangateke, Desa Persiapan Aeramo Tmur, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. RT itu berada di pesisr pantai Nangateke dan dihuni sekitar 20 kepala keluarga.
Akibat kondisi tanah dengan zat garam tinggi itu, masyarakat setempat menggantungkan hidup dari hasil laut, serta pekerkunan jagung ketika saat musim hujan.

Tanaman lain, seperti sayur-sayuran dan cabai tidak bisa di tanam. Kalaupun di tanam pasti hasilnya kerdil dan mati.
Untuk mendapat sayuran dan cabai, masyarakat setempat harus ke Pasar Danga yang berjarak tempuh kurang lebih 14 kilometer.
Sejak dua tahun lalu, Arkulaus Lena mulai menggarap lahan pekarangan miliknya yang sudah lama tidak digarap dengan menanam cabai. Luas lahannya kurang lebih seperempat hektar.
Arkus, begitu Arkulaus Lena biasa disapa hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Dia mengaku, tidak mempunyai pengalaman apalagi pengetahuan mengola atau menanam cabai di lahan zat garam tinggi. Namun berkat nonton youhtube, dia mencoba dan terus mencoba.
Arkus mencoba membudidayakan cabai dengan modal awal hanya Rp. 800.000. Arkus dan istri, Sinta mulai mengola sebagian lahan menganggur itu.

Harapannya, kebun yang dia olah menjadi percontohan dan membuat warga tertarik bercocok tanam.
“Awalnya, saya buat petak seperti bedeng sawah. Saya percaya kalau nanti hasilnya bagus banyak warga datang dan bertanya bagaimana caranya,” kata Arkus kepada Mudikalink.net, di kediamannya Senin 15 Juli 2024 pagi.
“Nah, dari situ baru saya ajarkan mereka agar ke depannya mereka terapkan di lahan masing-masing,” tambah Arkus. “Dalam dua bulan, lahan berisi tanaman cabai, dan tomat ini tumbuh begitu subur.”
Arkus mengaku, kurang lebih dua tahun, dia bersama istri sudah menghasil puluhan juta. “Satu musim kalau harga cabai bagus, bisa mencapai Rp 30 juta. Kalau harga turun berkisar di angka Rp 20 juta”.
Melihat pertumbuhan tanaman milik Arkus, warga sangat tertarik. Warga datang berduyun-duyun ke lahan Arkus untuk sekadar melihat-lihat.
Sebagian dari mereka membeli cabai dan tomat tersebut untuk kebutuhan dapur. Mereka kini tidak perlu lagi jauh-jauh ke Pasar Danga.

Lebih mengagumkan, Arkus juga membentuk kelompok Koro Pazo. Dan saat ini mereka bersama giat menanam cabai dan holtikultura lainnya.
“Keberadaan Arkus merupakan anugerah bagi masyarakat di sini. Ilmu pertanian yang diajarkan sangat membantu meningkatkan produktivitas hasil pertanian kami,” ungkap Marten, petani yang mengaku belajar banyak mengenai teknik pertanian dari Arkus.
Meski begitu, Arkus mengaku usahanya belum berjalan maksimal. Dia masih sangat membutuhkan bantuan baik dari Pemerintah Desa maupun Pemerintah Kabupaten atau pihak lainnya.
“Masalahnya, ini masih usaha sendiri pak. Saya pernah bawah proposal ke Dinas Pertanian Nagekeo untuk pengadaan selang irigasi tetes. Tapi belum ada kabar,” pungkasnya.
Arkus dan istri bersama petani lainnya, sudah memulai. Harapan, mereka bisa mendapat perhatian. *
Laporan: Arkadius Togo I Editor: Wentho Eliando

