MUDIKALINK.net-Populasi salah satu Hewan Penular Rabies (HPR) ternak anjing di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 47 ribu lebih yang tersebar di 20 kecamatan.
Dari jumlah tersebut ternak anjing yang sudah divaksin oleh pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan Ende sebanyak 1.500 lebih atau 3%.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Gadir Dean mengatakan penyakit rabies sudah mewabah di Pulau Flores yang ditularkan melalui HPR seperti anjing, monyet dan kucing. Lebih dominan penyebarannya melalui ternak anjing.
Dikatakannya, terkait dengan rabies ada dua tindakan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Ende yaitu vaksin HPR dan pengiriman sampel otak anjing atau spesimen untuk diperiksa di laboratorium.
Gadir mengatakan vaksin HPR ini dilakukan setahun sekali, jika sudah diberikan vaksin pada Januari 2024 maka akan diberikan lagi pada Januari 2025.
Berdasarkan data dari petugas lapangan populasi ternak anjing di Ende mencapai 47 ribu lebih dan diprediksi bisa mencapai 50 ribu lebih di tahun 2025.
Dari populasi tersebut ternak anjing yang sudah diberikan vaksin sebanyak 1.500 ekor atau sekitar 3 %. Prosentasi vaksin HPR khususnya ternak anjing di Ende masih rendah karena stok vaksin sangat terbatas.
“Stok vaksin kita sangat terbatas dan stok yang tersedia saat ini sisa dari bantuan lembaga kesehatan hewan dunia,” katanya kepada media ini, Senin 29 Juli 2024.
Sisa stok ini akan digunakan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan untuk melakukan vaksin darurat karena saat ini di Ende sudah ada kasus gigitan yang sudah menelan korban.
“Sisa stok ini untuk layani vaksin darurat di wilayah yang ada kasus gigitan dan sudah ada korbannya seperti di Ndao dan Moni Kelimutu,” katanya.
Plt Kadis Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende mengatakan melalui Bidang Kesehatan Hewan pihaknya sudah mengirim sebanyak 8 otak anjing ke laboratorium Denpasar. Dari hasil pemeriksaan diketahui 3 spesimen positif rabies dan 5 negatif.
“Kita akan kordinasi dengan OPD terkait untuk ambil langkah kongkrit karena sudah ada korbannya. Dinas Kesehatan urus kasus gigitan dan kami urus ternaknya. Kami akan laporkan kepada PJ Bupati agar bisa dilakukan vaksin lanjutan terhadap HPR yang belum divaksin,” katanya. *
Penulis: Willy Aran I Editor: Wentho Eliando

