MUDIKALINK.net-Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada waktu lalu pasca ada kasus gigitan mengirim delapan sampel otak anjing untuk diperiksa di laboratorium Denpasar.
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium Denpasar diketahui ada tiga sampel otak anjing positif rabies, sedangkan lima sampel negatif.
“Hasil uji lab sudah kita terima, tiga positif rabies dan lima negatif,” kata Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Gadir Dean kepada media ini, Senin 29 Juli 2024 sore.
Dikatakannya, saat ini sudah ada tiga orang yang meninggal karena rabies. Pihak Dinas Pertanian dan Peternakan akan berkordinasi dengan OPD terkait untuk langkah pencegahan dan penanganan.
“Untuk kasus rabies ini kami di sini menangani HPR sedangkan Dinas Kesehatan menangani kasus gigitan,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, populasi salah satu Hewan Penular Rabies (HPR) ternak anjing di Kabupaten Ende mencapai 47 ribu lebih yang tersebar di 20 kecamatan.
Dari jumlah tersebut ternak anjing yang sudah divaksin oleh pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan Ende sebanyak 1.500 lebih atau 3%.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Gadir Dean mengatakan penyakit rabies sudah mewabah di Pulau Flores yang ditularkan melalui HPR seperti anjing, monyet dan kucing. Lebih dominan penyebarannya melalui ternak anjing.
Dikatakannya terkait dengan rabies ada dua tindakan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Ende yaitu vaksin HPR dan pengiriman sampel otak anjing atau spesimen untuk diperiksa di laboratorium.
Gadir mengatakan vaksin HPR ini dilakukan setahun sekali, jika sudah diberikan vaksin pada Januari 2024 maka akan diberikan lagi pada Januari 2025.
Berdasarkan data dari petugas lapangan populasi ternak anjing di Ende mencapai 47 ribu lebih dan diprediksi bisa mencapai 50 ribu lebih di tahun 2025.
Dari populasi tersebut ternak anjing yang sudah diberikan vaksin sebanyak 1.500 ekor atau sekitar 3 %. Prosentasi vaksin HPR khususnya ternak anjing di Ende masih rendah karena stok vaksin sangat terbatas.
“Stok vaksin kita sangat terbatas dan stok yang tersedia saat ini sisa dari bantuan lembaga kesehatan hewan dunia,” katanya.
Sisa stok ini akan digunakan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan untuk melakukan vaksin darurat karena saat ini di Ende sudah ada kasus gigitan yang sudah menelan korban.
“Sisa stok ini untuk layani vaksin darurat di wilayah yang ada kasus gigitan dan sudah ada korbannya seperti di Ndao dan Moni Kelimutu,” katanya.*
Penulis: Willy Aran I Editor: Wentho Eliando

