MUDIKALINK.net-Pekerjaan presevasi atau pemeliharaan jalan trans Flores jalur batas Kota Ende-Aegela berdampak pada warga yang bermukim di sepanjang jalur jalan itu.
Dampak itu dirasakan warga Kampung Aebai, Desa Gheogoma, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, Provinsi NTT.
Warga di kampung itu mengalami krisis air minum bersih karena pipa air di jalan itu patah akibat pengerjaan jalan di lokasi tersebut. Rekanan yang mengerjakan jalan tersebut dari PT. Panji Bangun Persada.
Yohanes Mesi, warga Kampung Aebai, Desa Gheogoma kepada media ini, Selasa 30 Juli 2024 siang, mengatakan pipa air yang melintas di jalur itu patah akibat pengerjaan jalan sejak April 2024 lalu.
Pada waktu itu warga sudah menyampaikan dan meminta rekanan PT. Panji Bangun Persada untuk memperbaiki tetapi hingga saat ini belum diperbaiki.
“Kami sudah sampaikan kepada mereka untuk perbaiki tetapi jawaban yang disampaikan dari pihak rekanan katanya nanti,” kata Yohanes.
Pria yang akrab disapa Anjas ini mengatakan masyarakat di wilayah itu mendukung pembangunan jalan namun tidak boleh mengorbankan masyarakat kecil.
“Kami mendukung tapi jangan korbankan kami seperti ini. Air itu kebutuhan vital dan pipa ini adalah milik Desa Gheogoma,” katanya.
Sofia Fitriani warga lainnya mengatakan sejak pipa di jalur itu patah karena pekerjaan jalan warga mengalami krisis air bersih.
Warga terpaksa berjalan hingga ratusan meter mengambil air bersih. “Kami harus jalan sekitar ratusan meter untuk ambil air di ujung pipa yang patah karena pekerjaan jalan,” katanya.
Sofia mengatakan warga di kampung itu sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) yang sangat membutuhkan air minum bersih dari sumber itu. Warga berharap pihak rekanan segera memperbaiki pipa yang patah.
Penelusuran media ini di lapangan, pipa plastik berwarna hitam di jalur digulung dan diletakan diatas gundukan tanah yang ditumbuhi rumput.
Menurut pengakuan warga, pipa itu diletakan oleh pihak pekerja dari PT Panji Bangun Persada.
Selain krisis air bersih, warga Kampung Aebai juga mengeluh dampak lain dari pekerjaan jalan tersebut.
Warga mengatakan pihak rekanan tidak menyiram sebelum melaksanakan pekerjaan sehingga warga merasakan dampak debu dari proyek itu. *
Penulis: Willy Aran I Editor: Wentho Eliando

