“Sesudah mengalami suatu serangan asma yang akut, Mgr. Henricus Leven SVD tutup usia dengan tenang pada tanggal 30 Januari 1953” (Komisi Spiritualitas CIJ: 2015).
Oleh Karolus Banda Larantukan
SESUNGGUHNYA hari ini, 30 Januari 2025, Kongregasi Pengikut Yesus-Congregatio Imitationis Jesu (CIJ) tidak saja mengenang kepergian Pendiri mereka 72 tahun silam, tetapi juga menjadi tanggal penuh rahmat bagi mereka karena di 30 Januari 2025 ini pun Mgr. Henricus Leven SVD diberikan gelar Hamba Allah oleh Bapa Suci Paus Fransikus. Maka 30 Januari bagi CIJ bukan saja kenangan akan peristiwa kematian melainkan juga perayaan syukur penuh rahmat tentang pendiri mereka, Mgr. Henricus Leven, SVD.
Atas dasar kedua peristiwa berahmat itulah saya ingin hendak merayakannya dengan reklesi sederhana ini.
Bukan tentang kematian ataupun tentang peristiwa pemberian gelar Hamba Allah, tetapi tentang spiritualitas pelayanan Mgr. Henricus Leven ketika menjadi Uskup di Kepulauan Sunda Kecil, yakni: spiritualitas “Duduk Sebentar”.
Spiritualitas “Duduk Sebentar” sesungguhnya merupakan refleksi pribadi penulis tentang Mgr. Henricus Leven, SVD.
Bahwa dalam pelayanannya sebagai hamba Allah di kepulauan Sunda Kecil, dengan melakukan perjalanan dari ujung barat pulau Flores hingga ke ujung timur pulau Flores, Mgr. Henricus Leven selalu menyempatkan diri untuk singgah di setiap paroki yang dilewatinya.
Persinggahan itulah yang oleh Mgr. Henricus Leven disebutnya sebagai sekedar ‘Duduk Sebentar’.
Persinggahan sekedar ‘duduk sebentar’ ini tak ada yang istimewa dan nampak begitu sederhana. Tetapi apakah ‘duduk sebentar’ itu dalam penghayatan pelayanan Beliau hanyalah sebuah tindakan sederhana tak bermakna.
Bagi penulis, sikap dan tindakan ‘singgah untuk duduk sebentar’ ini perlu direfleksikan secara mendalam. Bagi penulis, sikap dan tindakan ini mengisyaratkan sebuah bentuk pelayanan yang dilatarbelakangi dengan makna ‘perjumpaan dan persentuhan’.
‘Perjumpaan dan persentuhan’ langsung secara fisik bagaimanapun sederhananya akan lebih bermakna dan dikenang dibandingkan dengan berbagai bentuk komunikasi canggih lainnya.
Duduk sebentar: askese untuk diam mendengarkan
Lebih jauh perjumpaan dan persentuhan dengan sekedar ‘duduk sebentar’ itu boleh dimaknai sebagai: diam untuk mendengarkan.
Jika dilihat diam adalah sebuah sikap dan tindakan yang nampak begitu sederhana. Tetapi ada istilah yang juga popular tentang sikap diam yakni ‘diam adaah emas’.
Persis adigium ‘diam adalah emas’ inilah juga askese untuk diam mendengarkan atau dalam sikap Mgr. Henricus Leven sebagai ‘duduk sebentar’.
Tentang diam, F. Budi Hardiman (2011) menggali bahwa diam bukanlah hilangnya bunyi, juga bukan membisu, melainkan mendengakan dalam kesunyian.
Dengan mendengarkan yakni menyimak secara baik-baik, prasangka dapat dikenali sebagai prasangka.
Oleh karena itu untuk menepis prasangka orang harus berlatih untuk menjadi pendengar yang baik. Untuk itulah diam.
Diam tak lain daripada memuncaknya bahasa, kulminasi komunikasi. Dalam dunia yang penuh kebisingan dari hal-hal yang hampa, diam itu sulit. Askese untuk diam berarti membiarkan datang apa yang datang dan mendengarkan itu.
Diam itu terjadi melalui ketenangan hati. Dan ketenangan hati lahir dari sikap mendengarkan, demikian galian F. Budi Hardiman (2011). Pendengar yang baik harus memiliki sesuatu yang cukup di dalam dirinya yakni ketenangan hati.
Ketenangan hati sesungguhnya meredam kebisingan duniawi dan dengannya menghadirkan keterbukaan berbagai peristiwa yang datang untuk dapat dikenali secara baik dan benar.
Ketenangan hati yang demikian adalah juga bentuk pengumpulan diri, sebuah integritas pribadi.
Jadi, diam untuk mendengarkan dalam ketenangan hati adalah sebuah bentuk integritas pribadi. Sesuatu yang semakin sulit dilakukan oleh manusia zaman ini yang selalu digaduhi oleh informasi dan larut di dalam komunikasi bising media sosial.
Diam untuk mendengarkan: suatu sikap ilmiah
Diam lebih jauh mengisyaratkan juga sebuah sikap ilmiah. Dalam diam, seorang peneliti di lokasi penelitiannya bisa saja terlihat sekedar untuk duduk sebentar mendengarkan, tetapi dibalik itu akal dan budinya akif yakni untuk mengamati dan mengobservasi apa yang ditelitinya.
Pengamatan dan observasi yang obyektif sesungguhnya lahir dari sikap mendengar: menjadi pendengar yang baik, menyimak secara baik.
Dengan demikian, validitas penelitianya sesungguhnya pun lahir dari seberapa baik sang peneliti mendengar yakni mengamati dan mengobservasi.
Ya…sekadar ‘duduk sebentar’ ala Mgr. Henricus Leven, SVD pun sebenarnya dilatarbelakangi oleh sikap ilmiah tersebut yakni mendengarkan: pengamatan dan observasi.
Sikap mendengarkan yakni mengamati dan observasi malahirkan validitas apa yang diamati dan diobservasi, dan dengan demikian melahirkan keputusan dan kebijakan yang obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sikap dan tindakan sang pemimpin gembala umat seperti Mgr. Henricus Leven, hari ini bisa kita lihat, baca dan dengar dari sikap dan keputusan Uskup Agung Ende – Mgr Paulus Budi Kleden SVD – ketika mengambil sikap menolak terhadap proyek panas bumi – geothermal.
Harapan
Di tahun Yubileum: Tahun Penuh Pengharapan ini, baiknya kita pun berharap agar sesuatu yang baik menganugerahi perjalanan kita.
Harapan adalah satu-satunya yang mendorong diri kita untuk mengarungi misteri kehidupan ini. Tanpa harapan, hidup akan hampa dan tak bertujuan.
Bersama penganugerahan Hamba Allah bagi Mgr. Henricus Leven, kita berharap agar sikap dan tindakan sekedar ‘duduk sebentar’ menjadi spiritualitas masing-masing kita.
‘Duduk sebentar’: diam untuk mendengarkan dalam ketenangan hati sekiranya menjadi integritas pribadi untuk menjalani kehidupan dan mengambil keputusan bahkan kebijakan bagi warga masyarakat dan umat manusia.
Pun sekiranya kebijakan itu harus lahir dari dan dengan sikap mendengarkan secara ilmiah dari ‘duduk sebentar’: pengamatan dan observasi yang jelih, akurat dan berulangkali.
Validitas kebijakan sesungguhnya pun lahir dari sikap menjadi pendengar dan pengamat yang baik dan jujur.
Oleh karena itu, kita perlu ‘duduk sebentar’ – kita perlu diam, tetapi bukan membisu, karena orang yang membisu cenderung bicara, hingga tak mampu dibungkam.
Agar dapat diam orang harus memilki sesuatu untuk dikatakan. Berdiam mengandaikan pemahaman yang mendalam dan dengannya sikap, keputusan, dan kebijakan yang diambil dari pemahaman yang mendaam tersebut dengan sendirnya akan melahirkan Bonum Commune. Semoga!!!
Selamat merayakan penganugerahan Hamba Allah bagi Mgr. Henricus Leven, SVD – Pendiri Kongregasi Pengikut Yesus (Congregatio Imitationis Jesu – CIJ). Salam penuh kasih. *
Penulis: Staf Pengajar Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka – Founder Taman Baca Hutan 46 Waibalun

