Jesu XPI Passio: Hasrat Kuat untuk Berkorban Demi yang Dicintai (Mengenal Logo dan Paroki Nangahure) – MudikaLink

Jesu XPI Passio: Hasrat Kuat untuk Berkorban Demi yang Dicintai (Mengenal Logo dan Paroki Nangahure)

Oleh: Dionisius Ngeta

LOGO paroki sesungguhnya adalah jati diri atau identitas paroki. Melalui logo tersebut umat diingatkan untuk selalu berikhtiar menjaga dalam hati dan melaksanakan Ekaristi sebagai kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dan mewartakan-Nya melalui cara hidupnya. Dengan demikian orang dapat mengenal Kristus dan kasih-Nya yang begitu besar hingga Dia rela wafat di palang hina.

Umat Paroki Nanghure tidak mengenakan moto/lencana sekadar sebagai simbol yang dipajangkan. Tapi untuk mengungkapkan komitmen hidupnya menghayati kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus dalam hati dan perbuatannya. Melalui doa, ekaristi dan karya-karya pelayanan pastoral paroki lainnya diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup dan keimanan umat.

Hasrat hati yang kuat untuk mencintai sesama dan berkorban dalam membangun paroki sebagaimana Kristus yang menderita, wafat di palang hina (passio) dan kemudian bangkit mulia menjadi spiritualitas kehidupan di tengah pluralitas umat. Demikian juga hidup dalam kemurnian dan kesucian bathin, hidup dalam kebenaran dan kedamaian di tengah umat/masyarakat dengan keberagaman etnis, suku, budaya dan agama.

Mengenal Logo/Lencana Paroki Nangahure

Logo Paroki Santa Maria Magdalena Nangahure adalah sebuah simbol berbentuk hati. Logo ini diwariskan kepada Gereja oleh Santo Paulus dari Salib yang juga adalah pendiri Kongregasi Pasionis. Kongregasi Pasionis memilih logo ini sebagai lambang Kongregasinya. Demikian juga Paroki Nangahure memilihnya sebagai logo paroki.

Dalam sebuah pengelihatan, Santo Paulus dari Salib melihat bahwa Bunda Yesus berpakaian hitam dengan Lencana berbentuk hati di dada. Ia memahami kehendak Tuhan dalam diri Bunda Maria untuk membentuk sebuah keluarga religius yang akan berpakaian dan memakai logo khusus di dada seperti itu.

XPI adalah hologram Kristus dalam bahasa Yunani yang digunakan pada abat pertengahan yang berarti Kristhos. Atau Kristus dalam bahasa Ibrani.

PASSIO adalah kata bahasa Latin yang berarti hasrat hati yang kuat untuk mencintai. Atau hasrat yang kuat untuk berkorban dan menderita demi yang dicintai. Dengan demikian tulisan itu berbunyi JESU XPI PASSIO, Sengsara Yesus Kristus.

Lencana berbentuk hati adalah symbol Cinta. Hati dengan salib putih di atasnya melambangkan cinta Yesus bagi umat manusia yang terungkap dalam penderitaan-Nya di kayu salib. Tulisan pada Lencana/Logo; “JESU” adalah nama Yesus dalam bahasa Ibarani.

Tiga paku di bawah tulisan JESU XPI PASSIO adalah lambang paku yang digunakan untuk memaku tangan dan kaki Yesus di kayu salib untuk mengingatkan umat beriman dan Pasionis akan luka suci yang dialami Yesus Kristus.

Warna yang digunakan dalam logo adalah Hitam dan Putih. Hitam selalu diidentik dengan kematian, suasana berduka dan acara pemakaman. Hitam symbol suasana dukacita atas kematian Yesus Kristus. Putih, symbol kemurnian dan kesucian bathin, kebenaran dan kedamaian dalam Tuhan dan persatuan dengan Kristus.

Tiga paku di bawah tulisan JESU XPI PASSIO adalah lambang paku yang digunakan untuk memaku tangan dan kaki Yesus di kayu salib untuk mengingatkan umat beriman dan Pasionis akan luka suci yang dialami Yesus Kristus.

Setiap umat Katolik pada umumnya dan umat Katolik Paroki Nangahure khususnya merenungkan, menghayati dan mewartakan kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.

Umat Paroki berikhtiar untuk menjaga dalam hati dan melaksanakan ekaristi sebagai kenangan akan sengsara Yesus Kristus dan mewartakan-Nya melalui cara hidupnya sehingga orang dapat mengenal Kristus dan kasih-Nya.

Umat Paroki Nanghure mengenakan logo ini untuk mengungkapkan komitmen hidupnya dan menghayati kenangan akan kematian Yesus Kristus dalam hati dan perbuatannya melalui doa, ekaristi dan karya-karya pelayanan pastoral lainnya di tengah umat paroki.

Mengenal Sekilas Paroki Nangahure

Paroki Santa Maria Magdalena Nangahure adalah salah satu dari 38 paroki di wilayah Keuskupan Maumere Flores NTT. Paroki dengan jumlah umat 10.180 jiwa dan 2.631 Kepala Keluarga (KK) ini termasuk paroki dalam radius kota Maumere (paroki kota).

Umat Paroki terorganisir dalam lima (5) wilayah pelayanan pastoral yaitu Pusat Paroki dengan 1.011 KK, Stasi Santa Theresia Urungpigang, 410 KK, Stasi Fransiskus Xaferius Wailiti, 625 KK, Stasi St. Yohanes Pemandi Patisomba, 333 KK dan Stasi St. Stefanus Waturia, 252 KK.

Paroki Nangahure resmi disahkan oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Abdon Longginus Da Cunha, Pr (almarhum) sebagai sebuah paroki baru yang defenitif pada tanggal 25 Juni 2000. Sejak itu Pimpinan Gereja lokal (Uskup) mempercayakan pengelolaan Paroki Nangahure kepada Kongregasi Pasionis (CP).

Umat bersama DPP (Dewan Pastoral Paroki) dan Pastor Paroki merencanakan berbagai pembangunan, peningkatan sarana prasarana dan fasilitas lainnya sejak paroki ini diresmikan. Hal ini dilakukan agar umat mendapatkan kenyamanan dan kegiatan pelayanan pastoral berjalan maksimal.

Pada tanggal 14 Februari tahun 2002 pembangunan Pastoran Paroki dimulai yang ditandai dengan peletakan batu pertama. Dukungan, partisipasi dan swadaya umat paroki pada akhirnya pembangunan Pastoran Paroki bisa diselesaikan dalam waktu yang relative singkat. Pada tanggal 25 Juni 2002 Pastoran Paroki diberkati dan dapat digunakan.

Pada tahun 2003 umat bersama DPP dan Pastor Paroki mulai merencanakan pembangunan gedung gereja permanen paroki. Pada tahun 2006 dilakukan upacara peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya Pembangunan oleh Mgr. Sensi Potokota, Pr (almarhum) Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan menara lonceng gereja paroki.

Gedung Gereja Paroki Santa Maria Magdalena Nangahure pada akhirnya diberkati dan diresmikan pemanfaatannya oleh Bapak Uskup Maumere saat itu, Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD (almarhum) pada tanggal 22 Mei 2013.

Diharapkan semoga Gedung gereja tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai sarana doa dan perayaan ekaristi demi peningkatan kualitas keimanan umat.

Pembangunan gedung-gedung gereja dan penyediaan fasilitas di tingkat stasi pun terus dilakukan dan ditingkatkan seiring perjalanan waktu.

Hal ini dilakukan agar umat mendapatkan kenyamanan dalam pelayanan pastoral terutama dalam merayakan misa dan pelayanan sakramen lainnya.

Pada tanggal 29 Januari 2017 Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Wailiti diberkati oleh Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD (almarhum). Pada tanggal 25 Maret 2023 Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr meresmikan dan memberkati Gereja Stasi St. Yohanes Pemandi Patisomba.

Dan pada tanggal 26 Desember 2023 Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr juga memberkati dan meresmikan Gereja Stasi St. Stefanus Waturia. Sementara Gereja Stasi Santa Theresia Urungpigang juga sudah direncanakan untuk direlokasi.

Para imam pasionis membangun paroki dan melayani umat dengan penuh perjuangan dan kesetiaan sejak awal didirikan hingga saat ini. Pengelolaan dan pelayanan pastoral dilakukan dalam semangat kebersamaan, penuh kasih persaudaraan dan dengan penuh tanggungjawab, akuntabel dan transparan.

Hamparan bukit-bukit membentang luas di dataran tinggi bagian Selatan hingga bagian Barat wilayah paroki. Selalu kering dan gersang merupakan potret yang berbeda selama musim panas. Tanah merah dan berbatu-batu adalah ciri khas keadaan tanah paroki pada umumnya.

Alam yang beriklim tropis dengan musim panas yang cukup panjang berdampak pada rendahnya tingkat produktifitas pertanian. Bahkan masyarakat kadang kala mengalami gagal tanam dan gagal panen. Peningkatan ekonomi umat menjadi tantangan/kendala.

Minimnya kantong-kantong hutan dan pohon-pohon turut berkontribusi terhadap peningkatan suhu dan cuaca saat musim panas tiba. Lapisan humus tanah sangat minim. Tingkat kesuburan pun rendah. Karena itu masyarakat sering menggunakan pupuk, baik organik maupun anorganik dalam mengelola lahan pertaniannya.

Kebiasaan membakar hutan di saat musim panas tiba dan menebang pohon untuk usaha batu merah masih merupakan salah satu masalah dan tantangan pastoral. Hal ini adalah tanda bahwa kesadaran dan pertobatan ekologis masih jauh dari harapan.

Hamparan tanah yang rata di dataran rendah terbentang sepanjang jalan raya pantai utara (Pantura) Maumere-Magepanda. Air tanah yang cukup di dataran rendah banyak dimanfaatkan umat untuk usaha tanam sayur-sayuran dan buah-buahan.
Bagian Timur Paroki Nangahure berbatasan dengan Stasi Wolomarang Paroki Wolomaget. Paroki Wolomaget adalah salah satu paroki yang baru dimekarkan dari Paroki St. Yoseph Maumere (paroki Katederal/paroki induk).

Di bagian Utara berbatasan dengan Laut Flores. Bentangan Laut Flores sepanjang Pantai Utara wilayah paroki adalah lahan kehidupan bagi umat mengais rejeki sebagai nelayan dan tempat wisata pantai bagi masyarakat Sikka khususnya dan manca negara pada umumnya.

Bukit-bukit dari deretan pegunungan Kimangbuleng Paroki Nita berjejeran di bagian Selatan Paroki. Pemandangan selalu hijau permai di kala musim hujan. Tapi sering terjadi kebakaran di saat musim panas tiba.

Stasi Nangarasong-Kolisia Paroki Magepanda merupakan tetangga Stasi Waturia Paroki Nangahure di bagian Barat Paroki. Hidup berdampingan dengan tingkat toleransi dan kerjasama yang baik dengan tetangga paroki dan agama lain (islam) adalah ciri khas Stasi dengan pelindung St. Stefanus ini.

Keanekaragaman budaya dan adat istiadat adalah salah satu ciri khas umat Paroki Nangahure. Umat didominasi oleh adat istiadat dan kebudayaan dari etnis Sikka-Krowe dan Tana Ai. Selain etnis Ende-Lio, Bajawa, Manggarai, Flotim, Lembata dan Timor.

Saling menghargai dan bekerja sama antar suku maupun agama lain adalah kebiasaan yang senantiasa dirawat. Keberagaman etnis dan agama dilihat sebagai suatu kekayaan dan kekuatan untuk membangun iman umat. Hal ini tampak dalam tanggungan liturgi gereja. Ada jadwal tanggungan liturgi tahunan dari setiap etnis yang ada di paroki.

Kerja sama dan saling mendukung setiap hajatan baik adat-istiadat, perkawinan maupun hari-hari raya keagamaan lainnya juga selalu dirawat dan dilakukan. Remaja Mesjid (REMAS) sering membantu menjaga keamanan dan ketertiban saat perayaan Natal dan Paskah. Demikian juga OMK (Orang Muda Katolik) sering melakukan kerja bakti di Masjid atau di Pekuburan umat muslim.

Mayoritas mata pencaharian umat paroki adalah petani selain nelayan, PNS, tukang, ojek dan wira usaha lainnya. Hasil utama usaha pertanian umat antara lain jagung, kacang-kacangan, ubi-ubian selain usaha sayur-sayuran dan buah-buahan. Tanaman komoditi yang diusahakan dan dihasilkan antara lain jambu mente di daerah bukit dan sedikit kelapa di daerah lembah.

Paroki Nangahure memiliki sebuah gebrakan/gerakan untuk kemandirian paroki dari aspek dana. Gerakan “Satu Juta Untuk Satu KK Untuk Seumur Hidup” merupakan program kemandirian paroki yang cukup berhasil dan menjadi contoh di Keuskupan Maumere.

Walupun penuh dengan tantangan dan kesulitan dalam perziarahan sebagai umat dalam membangun paroki, tapi solidaritas, soliditas, kebersamaan, pengorbanan dan perjuangan dalam iman, harapan dan cinta terus dikobarkan di tengah umat.

Hasrat yang kuat untuk terus berkorban dan mencintai paroki dan sesama merupakan spiritualitas yang telah diwariskan oleh Sang Sabda sebagaimana disimbolkan dalam Logo atau Lencana paroki. *

Penulis adalah Komsos Paroki Nangahure, Keuskupan Maumere

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *