Misionaris Harapan di Tengah Keberagaman Iman – MudikaLink

Misionaris Harapan di Tengah Keberagaman Iman

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

HAARI Minggu, 19 Oktober 2025, Gereja Katolik merayakan Hari Misi Sedunia ke-99. Perayaan ini bertepatan dengan Tahun Yubileum yang bertema Spes non confundit, artinya “Harapan yang tidak mengecewakan.”

Tema tahun ini adalah “Misionaris Pengharapan bersama Bunda Maria.” Gereja ingin mengajak umat untuk membawa harapan di tengah dunia yang sedang mengalami banyak krisis. Harapan ini bukan hanya untuk umat Katolik, tetapi untuk semua orang.

Paus Fransiskus dalam dokumen resmi Gereja yang disebut Bulla Yubileum menjelaskan bahwa harapan adalah tanda cinta Allah untuk semua manusia.

Harapan bukan hanya soal perasaan, tetapi juga kekuatan iman yang bisa mengubah kehidupan sosial. Harapan mendorong kita untuk saling membantu, membangun keadilan, dan berdamai dengan sesama.

Dalam dunia yang penuh konflik, kerusakan lingkungan, dan perpecahan sosial, harapan menjadi kekuatan penting yang bisa menyatukan semua orang.

Paus juga menegaskan bahwa misi Gereja bukan untuk menyebarkan ajaran secara paksa. Misi adalah tindakan nyata untuk menyembuhkan dunia. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus, yang membawa harapan dan mengalahkan kebencian.

Dalam semangat ini, misi berarti membuka ruang dialog antar agama. Di Indonesia, yang kaya akan keberagaman, dialog antar iman sangat penting. Gereja diajak untuk bekerja sama dengan semua agama dalam bidang pendidikan, kemanusiaan, dan lingkungan hidup.

Doa juga menjadi bagian penting dari misi. Paus menyebut doa sebagai “kekuatan pertama pengharapan.” Doa bisa menjadi titik temu antar umat beragama.

Semua orang beriman, apapun agamanya, berdoa untuk kebaikan dan perdamaian. Doa bisa menyembuhkan luka sosial dan memperkuat persaudaraan. Dalam misi pengharapan, doa bukan hanya ritual, tetapi juga tindakan yang membawa perubahan.

Spiritualitas Paskah, yaitu semangat kebangkitan Kristus, menjadi pusat pesan misi tahun ini. Kebangkitan bukan hanya ajaran, tetapi simbol bahwa hidup bisa diperbarui.

Umat beriman diajak menjadi “manusia musim semi,” yaitu orang-orang yang menanam harapan di tengah penderitaan dan ketidakadilan. Gereja tidak boleh hanya berada di dalam gedung, tetapi harus hadir di tengah masyarakat yang sedang berjuang.

Oktober Misi bukan hanya perayaan tahunan. Ini adalah waktu untuk merenung dan memperbarui semangat sebagai murid Kristus.

Kita diajak untuk “bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan tekun dalam doa” seperti tertulis dalam Surat Roma 12:12. Gereja dan masyarakat diajak membangun ekosistem harapan. Harapan ini tumbuh dari iman, diperkuat oleh dialog, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Gereja dipanggil menjadi agen harapan. Bukan hanya bicara tentang kasih, tetapi mewujudkannya dalam kehidupan sosial. Oktober Misi adalah ruang di mana iman, harapan, dan kasih bertemu.

Di sana, Gereja bisa menjadi sahabat semua orang, tanpa memandang agama, budaya, atau latar belakang. Harapan adalah milik bersama, dan misi kita adalah membagikannya kepada dunia. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *