Kotbah Misa Kamis Putih di Rutan, Uskup Maumere Tekankan Tetap Bersandar pada Allah – MudikaLink

Kotbah Misa Kamis Putih di Rutan, Uskup Maumere Tekankan Tetap Bersandar pada Allah

MUDIKALINK.net-Uskup Maumere Mgr.Edwaldus Martinus Sedu kembali memimpin perayaan ekaristi malam perjamuan terakhir di Kapela Santo Yohanes Rutan Kelas II B Maumere bersama para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Dalam homilinya, Uskup Edwaldus menekankan agar para WBP yang menjalani hukuman untuk tetap selalu bersandar pada Allah dalam segala sendi kehidupan dan mewariskan kebaikan Allah.

“Kita harus yakin betapa kita dicintai, dikasihi dan diampuni dimana kami seperti ini adalah kunjungan Tuhan dan memberikan pengampunan,” ucapnya.

Uskup Edwaldus menyampaikan, malam ini terasa begitu indah ketika kita boleh merayakan pengalaman Allah bersama manusia dalam perjamuan makan yang terakhir.

Sungguh sangat manusiawi dan alamiah ketika kita ingat akan kenangan kebersamaan dengan orang-orang yang terdekat dengan kita, keluarga, orang tua, adik kakak dan juga sahabat yang dekat dengan kita.

Ia menyebutkan, hubungan darah yang begitu dekat dan juga hubungan persahabatan yang mendalam membuat kita enggan berpisah dan selalu mau bersama.

Ia mencontohkan begitu banyak acara perpisahan yang mengharukan dan menggetarkan, maunya kita selalu bersama dan tak terpisahkan dengan orang-orang yang kita cintai dan kita kasihi.

“Pengalaman kematian orang-orang terdekat juga menggambarkan kesedihan yang mendalam yang membahasakan sebuah peristiwa betapa kita tak mau berpisah apalagi berpisah sampai tak dapat berjumpa secara fisik lagi,” ungkapnya.

Uskup Edwaldus mengatakan, kisah perjamuan terakhir Yesus dengan murid-muridnya adalah sebuah rahasia keselamatan yang mengagumkan betapa Allah tidak meninggalkan manusia.

Melainkan Allah selalu hadir dalam kenangan yang kudus dan bernilai yakni kurban Misa ketika Yesus mempersembahkan hidupnya kepada Allah yang mendatangkan keselamatan abadi bagi manusia yang hina dina ini.

“Apa yang boleh kita petik dari perayaan malam Kamis Putih ini tidaklah jauh dari makna kenangan yang selalu hidup dan menyelamatkan,” ucapnya.

Uskup Edwaldus menekankan, dalam setiap perayaan misa kudus, kita tentunya mengalami betapa banyak orang Kristiani yang mulai tidak peduli dengan kurban Misa Kudus bahkan menghujat roh kudus dengan tidak percaya pada kuasa tubuh dan darah Kristus.

Menurutnya, ini memang sebuah hal yang menyedihkan ketika manusia mengandalkan kekuatannya sendiri yang tidak mau sandar pada kekuatan kasih Allah yang membebaskan dan menyelamatkan.

Mewariskan Kebaikan

Bacaan pertama dalam Kitab Keluaran (Keluaran 12:1-8.11-14) menggambarkan model kebersamaan, makan bersama orang-orang Israel pada masa perjanjian lama.

Uskup Maumere mengatakan, konteks perjamuan itu adalah situasi perbudakan orang-orang Israel di tanah Mesir dengan latar belakang bangsa dan agama yang berbeda.

Uskup Edwaldus menyebutkan, orang Israel percaya pada Yahwe sementara orang-orang Mesir percaya pada dewa-dewa.

Dalam situasi perbudakan di tanah penjajah ini, Musa dan Harun mendengarkan bisikan suara Yahwe yang melindungi semua Israel yang taat pada perintah Yahwe.

Perjamuan orang Yahwe itu mengungkapkan terima kasih pada Yahwe yang lewat depan rumah mereka yang telah ditandai dengan genang darah anak domba.

“Malaikat maut hanya membunuh anak sulung orang Mesir sementara rumah orang Israel aman karena kasih setia Yahwe,” jelasnya.

Uskup Maumere menegaskan, makan bersama dalam rumah tidak lagi sekedar soal perut tetapi soal cinta kasih dan mewariskan kebaikan dalam sejarah keluarga.

Ia mengatakan, orang tidak lupa pada kebaikan Allah dan juga senantiasa menjaga nama baik keluarga dengan hidup yang baik dan benar.

Inilah kekuatan perjamuan yang dipersatukan Allah di tengah kerapuhan dan keterbatasan manusia itu sendiri.

Edwaldus menjelaskan, rasul Paulus dalam peneguhannya bagi umat Korintus dalam bacaan kedua (1 Korintus 11:23-26) juga meneguhkan makna kebersamaan didalam Kristus bukanlah sekedar basa-basi ritual belaka.

Melainkan kesempatan untuk menimba berkat dan rahmat Allah dalam hidup manusia yang rapuh dan terbatas yang penuh dengan moda dosa.

“Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini kamu mewartakan wafat Tuhan sampai dia datang,” tuturnya. *

Penulis: Ebed de Rosary

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *