Oleh: Marselus Natar
Namanya Sophia. Ia lahir di sebuah dusun kecil di ujung barat Pulau Flores, tempat angin berhembus lembut di antara ladang jagung dan nyanyian misa bergema setiap pagi Minggu.
Sejak kecil, ia terbiasa hidup dalam kekurangan namun dipenuhi harapan. Ibunya penenun kain, ayahnya petani ladang yang sesekali menggadaikan sepeda motor tua demi beli pupuk dan biaya sekolah.
Sophia tumbuh cantik, lugu, dan cerdas. Tapi kecerdasan di tempat seperti itu sering kali bukan pintu keluar, hanya jendela kecil untuk mengintip dunia lain yang tak pernah benar-benar datang mengetuk.
Selepas SMA, Sophia tak melanjutkan kuliah. Tak ada biaya. Ia mencoba melamar kerja ke kota, tapi yang tersedia hanya jadi pelayan warung atau penjaga konter pulsa dengan gaji seadanya.
Sementara beban di rumah makin berat: adiknya mulai masuk SMP, ayahnya sakit-sakitan, dan tenunan ibunya makin jarang laku karena pasar kini lebih suka kain murah dari pabrik.
Suatu malam, ketika listrik padam dan obor menyala di tengah ruang makan, seorang perempuan datang membawa kabar bahagia. Namanya Bu Lusi.
Dari kota. Wajahnya licin, pakaiannya harum, bibirnya manis. Ia bicara tentang kerja di luar negeri, tentang rumah batu dan ponsel mahal, tentang lelaki baik dari Hong Kong yang sedang mencari istri. “Kamu cantik, kamu pintar. Kalau menikah dengannya, hidupmu berubah. Keluargamu bisa hidup enak,” katanya sambil mengelus rambut Sophia.
“Istri?” tanya Sophia pelan. Di kepalanya, pernikahan masih terdengar terlalu jauh, terlalu berat.
“Bukan istri sembarangan. Dia butuh perempuan baik. Perempuan Indonesia itu istimewa, tahu?” Bu Lusi tertawa renyah. “Kau bisa bantu orang tuamu. Kami yang urus semua. Keluargamu dapat uang panai, kamu tinggal terima beres. Tak ada paksaan. Kalau tidak cocok, kau bisa balik.”
Ibunya menatap Sophia, penuh keraguan yang membeku di mata. Ayahnya batuk kecil, lalu mengangguk pelan.
Sophia hanya menunduk. Antara takut, bingung, dan entah bagaimana, juga berharap. Mungkin ini jawaban atas kesulitan yang tak pernah selesai.
Dua bulan kemudian, ia naik pesawat untuk pertama kali. Ia mengenakan gaun putih sederhana yang dijahit buru-buru oleh penjahit desa. Katanya itu pernikahan adat. Tapi tidak ada pelaminan. Tidak ada upacara. Hanya surat yang harus ditandatangani dan foto yang harus diambil. Penghulu tak pernah datang. “Dokumen ini hanya formalitas agar bisa ke luar negeri,” kata Bu Lusi.
Di bandara Hong Kong, tidak ada suami yang menjemput. Hanya dua pria asing berjas hitam dan seorang wanita bermake-up tebal. Mereka mengacungkan plakat bertuliskan “SOPHIA MARIA”. Dengan logat terbata-bata, mereka mengatakan akan membawa Sophia ke tempat tinggal suaminya.
Hari pertama di Hong Kong, Sophia dibawa ke sebuah rumah kecil di daerah penuh lampu neon dan huruf-huruf asing. Malam itu, HP-nya diambil. Paspor dan KTP disita. “Biar aman,” kata perempuan bermake-up tebal itu sambil tersenyum sinis. “Tak perlu khawatir, kami jaga semuanya.”
Keesokan harinya, Sophia mulai sadar: ia bukan istri, ia bukan tamu, ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah komoditas. Tempat itu bukan rumah, melainkan sebuah apartemen sempit berisi tujuh perempuan lain. Semuanya berasal dari negara berbeda. Indonesia. Filipina. Myanmar. Vietnam. Mereka tidur di kasur tipis, bergantian mandi, dan setiap malam, para lelaki datang dan pergi seperti pelanggan restoran cepat saji.
Sophia menangis. Ia menolak. Tapi tamparan datang lebih cepat dari penjelasan. Ia dikurung selama tiga hari tanpa makan, lalu dipaksa minum obat. Setelahnya, semuanya buram. Waktu menjadi kabur. Hari berganti minggu, minggu menjadi bulan. Tubuhnya bekerja tanpa ruh. Setiap senyum yang dipaksakan adalah teriakan sunyi. Setiap sentuhan adalah luka yang tak bisa disembuhkan.
Mereka memberinya nama palsu: “Naomi”. Dandanan tebal menutupi wajah lelahnya. Ia dipaksa memakai pakaian seksi dan berbicara genit pada pelanggan. “Kalau tak mau kerja, kami jual kau ke tempat yang lebih kejam,” ancam lelaki bernama Tony—bos dari segala maksiat di tempat itu.
Ia tak tahu harus ke mana. Tak ada HP. Tak ada dokumen. Tak ada siapa pun yang mengenalnya. Bahkan dirinya sendiri mulai asing di cermin. Malam-malam ia menangis diam-diam, memeluk bantal yang basah oleh air mata. Tapi hidup terus berjalan, bahkan ketika kau ingin mati.
Namun harapan adalah benih liar. Bahkan di tengah tanah tandus, ia bisa tumbuh diam-diam. Seorang perempuan tua yang bekerja sebagai petugas kebersihan di gedung tempat Sophia “bekerja” sering menyapanya. Namanya Mei Lin. Matanya redup, tapi penuh kasih. Ia bicara sedikit bahasa Indonesia karena dulu pernah menjadi buruh migran di Surabaya.
“Namamu siapa?” bisik Mei Lin suatu malam. “Sophia,” jawabnya nyaris tanpa suara. Mei Lin menatapnya lama. “Kamu bukan Naomi.”
Tiga malam kemudian, saat penjaga lengah dan Sophia membersihkan kamar di lantai tiga, Mei Lin menyelipkan secarik kertas kecil ke telapak tangannya. Di sana tertulis: “Jika kamu berani, aku akan bantu. Hari Jumat, jam dua pagi. Pintu belakang gudang.”
Waktu berjalan pelan menjelang Jumat. Sophia nyaris putus asa. Tapi ketika malam itu tiba, ia memberanikan diri. Mengenakan Hoodie lusuh milik salah satu penghuni lama yang sudah tak pernah kembali, ia keluar lewat lorong belakang. Mei Lin sudah menunggu di sana, menggenggam kunci dan tas kain berisi roti, air, dan sebuah SIM card.
Mereka menyelinap di antara deru malam dan sirene kota. Sempat dikejar, tapi berhasil lolos masuk ke tempat penampungan gereja Katolik yang tersembunyi di balik pasar malam.
Di sana, Sophia bertemu suster Clara—perempuan tua berdarah Irlandia yang telah tiga dekade menolong perempuan-perempuan yang terluka oleh sistem. Dari sanalah kisahnya perlahan dibongkar. Ia bukan satu-satunya korban. Ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan perempuan lain yang dibawa keluar negeri dengan janji pernikahan lalu dijual seperti barang.
Butuh waktu hampir satu tahun bagi Sophia untuk mendapatkan kembali identitasnya. Ia dipulihkan secara psikologis. Ia belajar bahasa Inggris dasar, mengisi formulir, membaca berita, mengikuti sidang kasus human trafficking di mana namanya tercatat sebagai korban resmi.
Dengan bantuan LSM, konsulat, dan suster Clara, ia akhirnya bisa pulang. Tapi pulang tidak sama dengan kembali. Ia membawa luka, membawa cerita, dan membawa sebuah misi: menyuarakan kebenaran.
Di kampungnya, Sophia tak lagi hanya dikenal sebagai gadis cantik yang pernah ke luar negeri. Ia kini dikenal sebagai aktivis, sebagai penyintas, sebagai suara bagi mereka yang dibungkam. Awalnya ia dicibir. “Kenapa kembali? Kau bekas pelacur!” kata tetangga.
Tapi Sophia tidak lagi gentar. Ia mulai mengisi seminar di sekolah-sekolah, bercerita di hadapan ibu-ibu desa. Ia mendirikan sebuah komunitas kecil: “Rumah Pulang.” Tempat anak-anak gadis belajar tentang hak mereka, tentang tanda-tanda modus trafficking, tentang bagaimana membedakan mimpi dari jebakan.
Suatu hari, seorang ibu datang membawa anak perempuannya yang baru lulus SMA. “Katanya ada kerja bagus di luar negeri,” katanya dengan mata berkaca.
Sophia hanya tersenyum, lalu mengajak anak itu duduk. “Dengar ya,” katanya, “bukan semua yang mengaku membawa harapan benar-benar datang untuk menyelamatkanmu. Kadang, yang menyuruhmu menikah demi masa depan, sebenarnya sedang menuliskan alamat neraka buatmu.”
Dan malam itu, seperti malam-malam yang lain, Sophia menatap langit dari jendela kamarnya, menggenggam sebuah salib kecil yang diberikan suster Clara. Ia tahu luka itu tak akan pernah benar-benar hilang. Tapi selama ia masih bisa bicara, ia akan terus bersuara.
Sebab kadang, satu suara cukup untuk membangunkan dunia yang pura-pura tidur. *
*Marselus Natar, rohaniawan Katolik pada kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis buku antologi cerpen dengan judul: Usaha Membunuh Tuhan. Alumni Stipar Ende dan Anggota relawan JPIC SSPS Ende

