“Marilah Kita Bertolak ke Seberang”, Ziarah Imamat RD Egidius Pareira – MudikaLink

“Marilah Kita Bertolak ke Seberang”, Ziarah Imamat RD Egidius Pareira

Oleh: Paskalis X. Hurint

Di Bayang Gereja Tua: Sebuah Awal yang Kudus

Pada pagi yang cerah di tanggal 12 Juni 1985, di sebuah kampung tua bernama Sikka—tempat kaki bangsa Portugis pernah menapak dan sejarah Katolik ditorehkan—seorang putra paroki menerima rahmat suci tahbisan imamat.

Di bawah naungan gereja tua yang berlumur sejarah, RD Egidius Pareira—yang kelak lebih akrab disapa Romo Egi—ditahbiskan menjadi imam oleh Duta Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Pablo Puente, seorang putra bangsa Portugis. Ia tak sendiri, sebab Mgr. Donatus Jagom, SVD, Uskup Agung Ende waktu itu, mendampinginya dalam sakralitas tahbisan itu.

Alasan kedatangan Duta Vatikan ke Sikka barangkali bukan semata karena tugas, melainkan juga tarikan sejarah. Di tempat di mana batu-batu gereja telah menyimpan jejak kolonial dan iman yang teguh, tahbisan itu menjadi seperti penyatuan lintas zaman—masa silam dan masa depan dipertemukan dalam diri seorang imam muda.

Lagu-lagu koor umat Sikka membungkus peristiwa itu dalam semarak suara yang mengalun seperti doa, meninggalkan jejak keindahan dalam kenangan mereka yang hadir.

Di Ladang Wolowaru: Langkah Pertama Seorang Gembala

Setelah upacara tabhisan yang agung, RD Egi ditempatkan di Paroki Katedral Ende. Namun hanya sebulan berselang, ia menerima perutusan baru: Paroki Wolowaru.

Di sanalah semangat mudanya mulai diuji, seperti biji yang ditanam dalam ladang pelayanan yang nyata. RD Egi menerima perutusan pengganti dari (alm.) Pater Hendrik Rehi, SVD. Dia menapaki wilayah pastoral yang luas dan berat—bukan dalam keluhan, tetapi dalam sukacita murni.

Ia berjalan kaki menyusuri stasi-stasi yang terpencil, tak gentar akan jauhnya jarak atau beratnya beban. Dengan langkah sederhana dan hati yang terbuka, ia mendekatkan sakramen kepada umat, dan membina mereka agar mampu memimpin ibadat saat imam tak hadir. Ia dikenal bukan hanya karena khotbah atau misa, melainkan karena hati yang membimbing dan telinga yang mendengar.

Pelayanannya pun melampaui batas paroki. Ia ikut serta dalam Komisi Liturgi Keuskupan, dan dalam waktu yang bersamaan mendirikan asrama puteri—sebuah bentuk kepedulian terhadap masa depan gadis-gadis muda di desa.

Di bawah naungan langit Wolowaru, dua frater menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) bersamanya: RD Vinsen Keytimu, disusul RD Wempi Putar da Silva. Masa itu—penuh cahaya harapan dan semangat juang—menjadi landasan yang kuat bagi pelayanan panjangnya kelak.

Katedral dan Kenangan yang Terbakar Semangat

Tahun 1989 menjadi awal baru bagi RD Egi. Ia kembali ke Paroki Katedral Ende, tempat ia sempat bertugas sejenak dulu.

Kali ini ia datang bersama RD Longginus da Cunha—yang kelak akan diangkat sebagai Uskup Agung Ende. RD Longginus sibuk dengan Komisi Kepemudaan KWI, sehingga RD Egi sering didaulat memimpin urusan paroki. Dalam diam, ia melayani, belajar, dan membangun.

Setahun berselang, ia diangkat menjadi Pastor Paroki Katedral. Ia menyebut masa itu sebagai masa penuh sinergi, saat umat dan Dewan Paroki bersatu padu dalam semangat yang hidup.

Ia dikenang sebagai imam muda yang datang membawa pengalaman dari Wolowaru—dan membawa kembali semangat pastoral yang menyala.

Namun sejarah tidak pernah berjalan tenang. Pada 12 Desember 1992, bumi berguncang. Atap gereja runtuh. Tapi justru di tengah puing, kerjasama umat, dewan, dan gembala tumbuh megah seperti pohon yang mengakar. Seluruh atap dan candi yang rusak dibangun kembali, bukan semata karena dana, melainkan karena cinta.

Tahun 1993, bersama RD Lukas Leo dan P. Rofinus Pederico, SVD, RD Egi diberi tugas memekarkan dua paroki baru: Worhonio dan Mautapaga. Dan seperti kelahiran yang dirancang Tuhan, pemekaran ini berjalan lancar. Sebuah bukti bahwa ketika hati-hati bersatu, segalanya menjadi mungkin.

Wolotopo, Sumatera, dan Jalan Lumpur yang Diterangi Iman

Tahun 1998, ia singgah di Paroki Wolotopo. Dalam delapan bulan singkat, ia mempersiapkan tabhisan enam imam baru—salah satunya P. Markus Tulu, SVD. Namun misi sejati menanti lebih jauh di barat. Mgr. Abdon Longginus da Cunha membawa kabar: Keuskupan Padang memohon bantuan imam. RD Egi menjawab, bukan dengan keraguan, tetapi kesiapsediaan.

Ia pun diutus ke Paroki Duri, Riau, dan mengemban tugas sebagai pastor rekan di Keuskupan Padang (1998–2004). Di sana, medan pelayanan lebih keras. Jalan berlumpur, stasi yang jauh, dan tantangan bahasa menjadi teman harian. Ia harus mengendarai motor sejauh 125 km ke Paroki Bagan Batu—yang sedang dipersiapkan menjadi paroki baru. Kadang harus bermalam di rumah umat karena pastoran belum dibangun.

Di satu kesempatan, lampu motornya padam di malam buta. Ia berdiri di pinggir jalan, berdoa meminta pertolongan dengan suara yang bergetar. Tuhan menjawab melalui seorang polisi dan seorang keturunan Cina yang lewat, lalu mengantarnya sampai pastoran. “Penyertaan Tuhan yang nyata,” begitu ia mengenang peristiwa itu.

Meskipun ditawari pistol karena ancaman pembegalan, ia memilih tetap percaya. Ia mengandalkan perlindungan Tuhan dan kehati-hatian. Ia belajar bahasa Batak, meskipun berat, agar dapat menyapa umat dalam bahasa hati mereka.

Ketika masa tugasnya berakhir, Mgr. Martinus Simatupang berujar lirih, “Tega sekali kau meninggalkan kami. Kalau tidak berguna lagi di Ende, datang lagi ke Keuskupan Padang, bila saya masih Uskup di sini”. Kata-kata itu menjadi tanda, bahwa cinta dalam pelayanan telah ditinggalkan di tanah Sumatera.

Detusoko, Reworeke, Kombandaru dan Mautapaga: Senja yang Ditingkahi Cahaya

Tahun 2004, RD Egi kembali ke Ende dan ditugaskan di Paroki Detusoko. Ia membangun kembali asrama puteri yang sudah tua, sambil menemani RD Jef Boi Bule, yang ketika itu berpraktik sebagai Diakon, serta RD Ivan Seso sebagai imam muda. Namun sebuah cobaan berat datang: serangan stroke mengubah arah pelayanannya. Ia harus dirawat intensif di Maumere dan Denpasar. Oleh dr. Anna dan dr. Candida, beliau dirawat secara intensif.

Karena kondisi kesehatan, ia dipindahkan ke Paroki Reworeke, lebih dekat ke rumah sakit dan bandara. Di sana, bersama RD Heribentus Avelinus dan RD Nobertus Joni, ia kembali menggembalakan umat.

Ia membentuk sepuluh kelompok misdinar, dan ketika sebuah pertemuan besar dari Jakarta digelar, ia menghadirkan 249 misdinar—membuktikan bahwa pelayanan bukan soal kekuatan tubuh, tetapi ketekunan hati.

Tahun 2019, ia dipindahkan ke Paroki Kombandaru. Usia dan kesehatan tidak memungkinkan lagi baginya untuk mengunjungi stasi yang jauh dan berliku.

Ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, dengan rindu yang tak bisa dijangkau. Pandemi pun membuat umat protes saat pengakuan dosa pribadi ditiadakan. “Mereka belum sadar bahwa dunia sedang sakit, karena terserang virus Covid-19,” katanya.

Tahun 2022, ia berpindah ke Paroki Mautapaga. Disambut hangat oleh RD Aloysius Lae Soba dan Dewan Paroki. Ia diangkat menjadi moderator kelompok kategorial: THS-THM, OMK, Sekami, JPA. Senyumnya yang hangat membuat kedekatan tumbuh cepat, dan kelompok-kelompok itu berkembang dengan semangat yang segar.

RD Egi menyadari bahwa usianya kini 72 tahun. Tubuh boleh melemah, tapi semangat pelayanan tetap bernyala. Ia memilih semboyan: “Berjalan sambil berbuat baik” (Kis 10:38), yang bersumber dari moto tahbisan: “Marilah kita bertolak ke seberang” (Mrk 4:35). Sebab ia percaya: di seberang sana, ada sesuatu yang indah, rahmat Tuhan yang harus diterawang dengan mata hati yang bening.

Menjelang perayaan Pancawindu Imamatnya pada 15 Juni 2025, ia bertanya dalam doa: “Siapakah aku ini, hingga segala ini dipersiapkan begitu indah? Apakah ini bukan semata-mata karunia Tuhan?” Dan ia menjawab dengan iman: “Tuhan adalah jaminan dari segalanya. Kepada-Nya aku berserah.”

Tim kerja pun dibentuk. Panitia bergerak. Kelima belas ketua lingkungan bahu-membahu mempersiapkan perayaan. Semuanya demi satu hal: penghormatan bagi seorang imam yang setia, dan lebih dari itu, demi satu pujian: Ad maiorem Dei gloriam. Ini adalah ungkapan iman perutusan Pater Lecoq D’Armanville yang tertera pada patung Santo Ignasius Loyola, pelindung Paroki Sikka. *

Penulis adalah Sekretaris DPP Santo Yosef Freinademetz – Mautapaga, Keuskupan Agung Ende

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *