Oleh Walburgus Abulat
REVERENDUS Pater (RP) Nikolaus Naumann, SVD atau yang akrab disapa Pater Klaus telah menghadap Sang Khalik di Homburg Jerman pada Kamis 24 Juli 2025 pukul 15.20 Waktu Jerman atau pukul 23.20 Waktu Indonesia Tengah.
Berita meninggalnya Pater Klaus mengagetkan semua orang, khusus orang-orang yang sudah mengenal dan merasakan sentuhan pelayanannya.
Salah satu instansi yang merasakan kehilangan adalah Tim Relawan Kemanusiaan Flores (TRUK-F) suatu lembaga kemanusiaan milik Congregatio Missionalis Servarum Spiritus Sancti (SSpS) atau Kongergasi Religius Suster Abdi Roh Kudus Flores Bagian Timur.
TRUK-F merasa kehilangan karena sosok misionaris asal Jerman itu sejak berdirinya TRUK-F atas inisiatif Mendiang Suster Eustochia, SSpS tahun 1997 selalu mendapat dukungan dari Pater Klaus.
Dalam perjalanannya lembaga ini. Khususnya dalam pendampingan terhadap para korban kekerasan dan ketidakadilan yang ditangani TRUK-F, dukungan Pater Klaus Nauman sangat besar andilnya untuk lembaga ini.
Betapa tidak. Sosok Pater Klaus selain sebagai salah seorang perintis, ia juga memiliki andil untuk mendanai lembaga ini, melalui jejaringan donatur di Jerman, termasuk keluarga Pater Klauss Nauman.
Perihal andil Pater Klaus Naumann ini disampaikan oleh Direktur TRUK-F Suster Fransiska Imakulata, SSpS atau yang akrab disapa Suster IKa melalui jaringan telepon seluler cq Video Call (VC) pada Jumat (25/7/2025) pagi.
Saat dihubungi, Suster Ika tampak berderai air mata. Ia dan 19 para korban kekerasan yang saat ini sedang menjalani dampingan di Shelter Santa Monika TRUK berderai air mata lantaran kehilangan sosok gembala yang selalu mempunyai hati dengan orang-orang kecil, khususnya para korban kekerasan dan ketidakadilan lainnya.
“Saya, karyawan TRUK-F dan 19 anak binaan kami yang sedang berada di Shelter Santa Monika merasa kehilangan atas meninggalnya sosok imam yang mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk lembaga ini,” kata Suster Ika sambil menyeka air mata yang berlinangan dan meniris di pipi.
Suster Ika menyebut jasa Pater Klaus untuk TRUK-F di antaranya sejak awal selalu berdiskusi dengan perintis TRUK-F Suster Eustochia untuk mendirikan suatu lembaga kemanusiaan khusus untuk menampung para korban kekerasan dan ketidakadilan.
“Pater Klaus tidak saja sebagai perintis tetapi juga sebagai donatur dalam perjalanan pengabdian TRUK-F. Jasa Pater Klaus sangat besar menggaet beberapa donatur di Jerman, termasuk keluarganya untuk membantu pendanaan bagi karya-karya TRUK-F hingga saat ini,” kata Suster Ika.
Selain peran sebagai donatur, lanjut Suster Ika, Pater Klaus juga sangat dekat dengan warga dampingan TRUK-F yang ditandai dengan kesediaannya untuk selalu mengunjungi para korban dan memberikan motivasi agar mereka tetap semangat dan jangan melupakan campur tangan Tuhan.
“Pater Klaus selalu meluangkan waktunya untuk kepentingan TRUK-F, khususnya mengunjungi warga dampingan kami di Shelter Santa Monika,” kata Suster Ika.
Bagi warga Shelter Santa Monika TRUK-F, lanjut Suster Ika, sosok Pater Klaus adalah seorang gembala yang selalu mempunya hati dan selalu berkorban untuk membahagiakan warga panti.
Pater Klaus saat mengunjugi warga binaan kami selalu membawa kado makanan ringan seperti bombon, cokelat untuk warga dampingan kami.
Di mata anak-anak dampingan kami, sosok Pater Klaus juga dikenal sebagai Pastor Bombon dan Cokelat karena setiap hari selalu membawa aneka bombon dan coklat untuk warga dampingan kami, kenang Suster Ika.
Suster Ika mengakui kado bombon dan cokelat itu tak hanya diperuntukkan bagi warga Shelter Santa Monika, tetapi juga untuk karyawan, termasuk beberapa suster yang bekerja di TRUK.
“Setiap hari, warga TRUK-F, termasuk para karyawan dan suster selalu mendapatkan kado bombon dan cokelat dari Pater Klaus. Aksi kemanusiaan ini selalu dilakukannya setiap hari,” kata Suster Ika.
Perihal aksi kemanusiaan melalui pemberian kado bombon dan cokelat ini juga diakui oleh salah seorang warga Kewapante, Ibu Heny Hungan.
Ibu Heny mengakui bahwa warga sekitar pastoran Kewapante tempat di mana Pater Klaus tinggal, dan orang sakit yang menjalani perawatan di RS Santo Gabriel Kewapante selalu kebagian cokelat dan bombon dari Pater Klaus.
Aksi ini rutin dilakukan Pater Klaus setiap hari. Jadwal Pater Klaus setiap hari, misa pagi, setelah itu berangkat ke Maumere, ke Toko Ambon untuk membeli bombon dan cokelat dalam jumlah yang banyak.
“Setelah itu, Pater mendatangai Kantor TRUK-F untuk membagikan bombon dan cokelat kepada warga binaan Shelter Santa Monika,” kata Ibu Heny yang juga karyawan Senior TRUK-F.
Sepulang dari Kantor TRUK-F, lanjut Heny Hungan Pater Klau kembali ke Kewapante dan melakukan aksi serupa dengan membagi kado bombon dan coklat untuk para pasien yang rawat di RS Santo Gabriel Kewapante.
“Bagi saya dan warga Kewapante, sosok Pater Klaus sangat luar biasa. Ia selalu mempunyai hati dengan orang-orang kecil. Ia selalu menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang spesial yakni membagi bombon dan coklat. Karena kepeduliannya ini, maka Pater Klaus sering dijuluki sebagai Pastor Bombon dan Cokelat serta donatur untuk TRUK-F,” kata Heny Hungan.
Perihal sosok Pater Klaus yang peduli bagi bombon dan cokelat ini juga dialami saya/penulis ketika 20 tahun lebih menjalani tugas peliputan di Kabupaten Sikka, termasuk menghadiri sejumlah kegiatan di Kantor TRUK-F yang juga dihadiri Pater Klaus Naumann.
Saya sendiri berkali-kali menyaksikan bagaimana Pater Klaus Naumann, SVD selalu membagi bombon dan cokelat untuk elemen warga TRUK-F, termasuk penulis sendiri juga turut mendapatkan kado bombon dan coklat dari Pater Klaus.
Suatu kado bombon dan cokelat yang tampaknya kecil bila dinilai dengan uang, tetapi sangat besar dan luar biasa karena rutin dilakukan setiap hari dan senantiasa membekas dalam diri setiap orang yang merasakan sentuhan kasihnya.
Selamat jalan Pastor Bombon & Cokelat, serta sosok donatur yang selalu membantu para korban kekerasan dan ketidakadilan dengan cinta yang tulus dan pengabdian tanpa pamrih. Requiescat In Pace-Beristirahatlah Dalam Damai.
Profil Pater Klaus Naumann, SVD
Pater Klaus Naumann, SVD sebagaimana dirilis Kantor Sekretaris Misi Provinsi SVD Ende – Kantor Perwakilan Waligereja Indonesia Urusan Tenaga Gerejani Warga Negara Asing.
Pater Nikolaus Naumann SVD atau yang lebih dikenal dengan Pater Klaus lahir di kota Theley, Distrik Sankt Wendel, Negara Bagian Saarland, Jerman. pada 6 Desember 1948.
Pater Klaus adalah anak dari pasangan Ayah Josef Naumann dan Ibu: Alwine Naumann.
Pater Klaus adalah anak sulung dan memiliki adik: Herman Naummann dan Maria Naumann. Pada tahun 1954 – 1962 Pater Klaus menempuh pendidikan SD di Theley. Tahun 1962 – 1967.
Pater Klaus menempuh pendidikan SMP disambung SMA di Ottweiter. Tahun 1967 – 1969 Pater Klaus masuk Novisiat SVD di Sankt Augustin. Tahun 1969 1974 Pater Klaus menempuh pendidikan S1 di bidang Filsafat/Teologi di Sankt Augustin.
Pada tahun 1973, Pater Klaus mengikrarkan Kaul Kekal di Sankt Augustin. Tahun 1974 Pater Klaus ditahbiskan menjadi Imam Misionaris SVD di Sankt Augustin. Tahun 1974-1975 Pater Klaus mengambil Lisensiat bidang Misiologi di Sankt Augustin.
Pada 20 September 1975 Pater Klaus tiba di Indonesia melalui Bandara Halim Perdana Kusuma. Pada 1975 – 1978 Pater Klaus mulai belajar bahasa sambil melayani umat di Paroki Benteng Jawa sebagai pastor rekan.
Pada tahun 1978 – 1981 Pater Klaus menjadi Pastor Paroki Benteng Jawa. Tahun 1982 – 1983 Pater Klaus mendapat sakit malaria yang serius sehingga dia harus berhenti dari Pastor Paroki dan harus menjalani pengobatan intensif di RS Cancar dan RKZ Surabaya.
Tahun 1983 setelah pulih dari Malaria Pater Klaus pindah ke Paroki Kewapante menjabat sebagai Pastor Rekan sampai 1995. Pada tahun 1995-2005 Pater Klaus menjabat sebagai Pastor Paroki Kewapante Maumere.
Selama berkarya di Kewapante, Pater Klaus dikenal dalam bidang olahraga Sepak Bola sebagai pelatih dan konsultan teknis dalam permainan Sepak Bola.
Sejak tahun 2005 Pater Klaus purnabakti dari jabatan Pastor Paroki dan tetap melayani umat Paroki Kewapante.
Pada 2006-2016 Pater Klaus menjabat sebagai Direktur CARINA (Caritas Indonesia) Keuskupan Maumere.
Keberangkatannya ke Jerman sesungguhnya adalah rencana rutinnya untuk cuti setiap 4-5 tahun. Namun beberapa saat sebelum keberangkatannya untuk cuti, Pater Klaus mengalami kecelakaan kendaraan.
Kecelakaan ini kemudian ditangani di Denpasar-Bali, namun kondisinya tidak juga optimal pulihnya karena Pater Klaus juga memiliki komplikasi problem diabetes dan pernah mengalami stroke. Karena itu bertepatan dengan keberangkatan ke Jerman untuk cuti, beliau sekalian mau berobat di tanah airnya di Jerman.
Rencana cutinya yang akan berlangsung sampai bulan Desember 2025 akhirnya berakhir dengan kepergiannya karena sakit komplikasi yang dideritanya.
Pater Klaus meninggal pada Kamis 24 Juli 2025 pukul 15.20 Waktu Jerman atau pukul 23.20 Waktu Indonesia Tengah.
Selama periode 1975 – 2025 atau 50 Tahun Pater Klaus berkarya di Indonesia. Namun Pater Klaus masih tetap memegang Paspor Republik Federal Jerman. Meskipun demikian, seluruh hidupnya diabdikan untuk orang Flores, untuk Gereja Katolik Flores dan Indonesia.
Terima kasih banyak Pater Klaus sudah berjasa bagi kami umat di wilayah Manggarai dan Sikka. Kami mendoakan semoga Pater beristirahat dalam Damai Tuhan dan Terang Kekal menyinarimu.*
Penulis, adalah Jurnalis dan Penulis Buku Karya Kemanusiaan Tidak Boleh Mati, dan Mitra Kerja TRUK-F)

