Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
HARI ini, 22 Agustus 2025, Keuskupan Agung Ende berdiri dalam hening yang penuh makna, mengenang setahun perjalanan pelayanan Mgr. Paulus Budi Kleden sebagai gembala umat.
Sebuah tahun yang bukan sekadar bilangan waktu, melainkan jejak kasih, kebijaksanaan, dan pengabdian yang meresap dalam denyut kehidupan Gereja.
Dalam kesederhanaan kata, tulisan ini ingin menjadi lentera kecil yang menyoroti momen penuh syukur ini: saat kita menengok ke belakang bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk meresapi makna, memperbarui harapan, dan melanjutkan langkah dalam terang yang telah beliau nyalakan.
Dalam tradisi filsafat eksistensial, Martin Heidegger menekankan pentingnya “menjadi-di-dunia” sebagai bentuk kehadiran yang otentik.
Setahun pelayanan Mgr. Paulus Budi Kleden sebagai Uskup Agung Ende adalah perwujudan dari kehadiran yang otentik: Menjadi gembala yang hadir di tengah umat, bukan sekadar sebagai pemimpin struktural, tetapi sebagai pribadi yang menyatu dengan realitas umatnya.
Dalam teologi pastoral, kehadiran seorang uskup bukan hanya simbol hierarki, tetapi manifestasi dari Imago Dei—citra Allah yang hidup dalam pelayanan.
Mgr. Budi telah menunjukkan bahwa menjadi gembala berarti menjadi wajah belas kasih Allah di tengah penderitaan umat, sebagaimana dikatakan oleh Paus Fransiskus: “Gembala harus berbau domba.”
Emmanuel Levinas menekankan bahwa ‘etika dimulai dari wajah orang lain’. Dalam pelayanan Mgr. Budi, wajah umat terutama yang miskin, terluka, dan terpinggirkan menjadi titik tolak pastoralnya. Ia tidak memulai dari doktrin, tetapi dari perjumpaan, dari tatapan yang mengandung tanggung jawab.
Dalam satu tahun ini, Mgr. Budi telah menghidupi semangat Caritas Fraternitatis Maneat in Vobis, “Peliharalah kasih persaudaraan.” Kasih persaudaraan bukanlah slogan, melainkan praksis yang melampaui batas-batas suku, agama, dan status sosial. Seperti dikatakan oleh Karl Rahner, “Kasih adalah bentuk konkret dari iman yang hidup.”
Dalam konteks Ende yang plural, Mgr. Budi menjadi jembatan lintas iman. Ungkapan: “Tinggalkan dalam hati yang tenang dan semangat pelayanan dengan penuh kegembiraan” seakan menjadi spiritnya. Ini adalah bentuk dialog yang tidak hanya toleran, tetapi transformatif, sebagaimana diimpikan oleh Raimon Panikkar: “Dialog adalah tempat di mana Tuhan berbicara melalui perbedaan.”
Dalam filsafat politik, Hannah Arendt menekankan pentingnya tindakan sebagai bentuk kebebasan. Mgr. Budi tidak hanya berbicara tentang kasih, ia bertindak: Mengunjungi umat, menyapa komunitas, dan menyentuh luka sosial. Ia menunjukkan bahwa pelayanan adalah tindakan yang membebaskan, bukan sekadar wacana.
Dalam teologi misi, David Bosch menyatakan bahwa misi bukanlah aktivitas tambahan Gereja, tetapi identitasnya. Mgr. Budi menghidupi gagasan ini dan seakan mengatakan, “Saya adalah misi.” Ia tidak memisahkan antara pribadi dan perutusan. Lebih dari itu, ia menjadi utusan dalam setiap langkahnya.
Dalam satu tahun ini, di mata saya, Beliau telah membangun Gereja lokal sebagai ruang pemulihan. Seperti dikatakan oleh Henri Nouwen, “Gereja adalah tempat di mana luka-luka disambut, bukan disembunyikan.”
Mgr. Budi menjadikan Keuskupan Agung Ende sebagai komunitas bagi yang terluka. Komunitas sejati lahir dari keterbukaan dan kerentanan. Dan, Mgr. Budi tidak membangun komunitas dari kekuasaan, tetapi dari cinta yang terbuka dan kerendahan hati yang menyentuh.
Bagi saya, dalam satu tahun ini, Beliau telah menghidupi spiritualitas inkarnasi. Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Ia tidak membangun menara gading, tetapi berjalan di jalanan umat, menyapa mereka dengan senyum dan pelukan dengan harapan.
Harapan adalah kekuatan yang menggerakkan sejarah. Mgr. Budi menjadi penyalur harapan di tengah polarisasi dan penderitaan. Ia percaya bahwa masa depan Gereja dibangun dari kasih yang tidak menyerah.
Dalam satu tahun ini, Beliau telah menunjukkan bahwa Gereja adalah tempat belajar bersama. Ia tidak menempatkan diri sebagai guru tunggal, tetapi sebagai murid yang terus belajar dari umat, dari realitas, dan dari Sabda Tuhan.
Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah bahwa Beliau menghidupi iman dalam konteks budaya lokal. Ia tidak memaksakan bentuk, tetapi meresapi makna. Seperti dikatakan oleh Aloysius Pieris, “Inkulturasi adalah dialog antara Injil dan budaya yang saling memperkaya.”
Dalam satu tahun ini, Beliau telah menjadi simbol harapan dan pembaruan. Ia tidak hanya memimpin, tetapi menginspirasi. Ia tidak hanya berbicara, tetapi menghidupi. Ia tidak hanya hadir, tetapi menyatu.
Karena itu, mengenang satu tahun pelayanan Mgr. Paulus Budi Kleden, kita tidak hanya mengenang seorang uskup, tetapi seorang murid, seorang misionaris, seorang sahabat umat.
Ia adalah misi yang hidup, dan Keuskupan Agung Ende adalah tanah subur di mana kasih dan persaudaraan terus bertumbuh. Sebagaimana dikatakan oleh St. Augustinus, “Kasih adalah keindahan jiwa.” Dan dalam jiwa Mgr. Budi, keindahan itu bersinar terang. *
Penulis, adalah Staf Pengajar Stipar Ende

