Oleh: Vinsensius Crispinus Lemba
HARI ini, umat Paroki Weri Keuskupan Larantuka merayakan Misa Pentahbisan Gereja Santa Maria Pembantu Abadi yang baru dengan rasa syukur dan haru.
Misa yang dipimpin oleh Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong Kung menjadi momen iman yang membangkitkan kembali perjalanan umat, dari masa bencana hingga kini memiliki rumah Tuhan yang penuh terang.
Tema perayaan “Aneka Wajah, Satu Hati” terasa sungguh nyata. Sebab di balik wajah-wajah yang berbeda, tersimpan satu kisah panjang yang menyatukan: kisah umat yang selalu berharap.
Dari Air Mata Banjir Menuju Api Iman yang Menyala
Sejarah Weri dimulai dari banjir besar tahun 1979 yang menenggelamkan sebagian Kota Larantuka dan membuat banyak keluarga harus meninggalkan rumah, kebun, dan kebersamaan yang sudah lama mereka jaga. Banjir ini tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga menghilangkan rasa aman dan ikatan dengan tanah kelahiran.
Dalam kondisi itu, pemerintah membangun pemukiman baru untuk para korban di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kelurahan Weri.
Sejak awal 1980, keluarga-keluarga mulai direlokasi satu per satu. Mereka datang dengan berat hati, namun tetap membawa harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Secara gerejawi, wilayah ini dulu masih menjadi bagian dari Paroki San Juan Lebao. Umat belum punya gereja, bahkan ruang doa yang layak pun belum ada. Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan iman mereka.
Setiap Minggu, mereka berkumpul di rumah kosong yang belum ditempati atau di bawah pohon rindang, berdoa bersama, menyanyikan lagu pujian, dan mendengarkan Sabda meski tanpa imam. Di situlah awal mula iman umat Weri bertumbuh.
Mereka menyebut diri TOSIBA, singkatan dari bahasa Melayu Larantuka: torang sisa banjir, sebuah istilah yang lahir dari pengalaman pahit tetapi penuh makna kebersamaan dan keteguhan.
Dari sisa bahan bangunan, bambu, kayu hutan, dan material lokal, mereka membangun kapela darurat kecil. Bangunannya memang sederhana, tetapi semangat mereka sangat kuat. Di tempat itulah doa-doa dipanjatkan, harapan tumbuh, dan persaudaraan terjalin.
Dari Reruntuhan Menuju Persekutuan yang Kokoh
Tantangan kembali muncul pada tahun 1992 saat gempa bumi mengguncang Pulau Flores, lalu badai angin kencang di akhir tahun merobohkan kapela darurat itu. Umat kembali kehilangan tempat ibadat. Namun, sejarah Weri membuktikan bahwa umat ini selalu berusaha maju. Mereka tidak menyerah, melainkan bangkit bersama.
Untuk sementara, Aula SD Inpres Weri digunakan sebagai tempat ibadat. Meski bukan rumah Tuhan yang sesungguhnya, umat tetap merayakan Ekaristi dan berdoa bersama dengan khidmat.
Dari situ, muncul tekad untuk membangun kapela permanen. Lewat gotong royong, sumbangan seadanya, dan doa yang setia, kapela permanen akhirnya berdiri dan diresmikan pada tahun 1995. Bangunan ini menjadi simbol baru keteguhan iman umat.
Perjalanan iman terus berlanjut. Pada 16 Oktober 2005, Stasi Weri resmi menjadi paroki mandiri dengan nama Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Weri. Sejak itu, umat tidak hanya punya tempat berdoa, tetapi juga identitas rohani yang semakin kuat.
Gereja sederhana ini menjadi pusat kehidupan iman dan tempat komunitas saling menguatkan. Seiring waktu, bangunan Gereja semakin tua. Retakan mulai terlihat dan kekuatannya berkurang.
Pada tahun 2018, bersama Pastor Paroki Romo Fransiskus Xeverius Hurint, umat memutuskan untuk membangun Gereja baru yang lebih layak dan aman. Pada Desember 2019, Gereja lama dibongkar. Dengan hati sedih tapi penuh iman, umat kembali beribadat di Aula Paroki sambil menunggu hari yang dinantikan.
Gereja Baru, Hati Baru, Harapan yang Dihidupkan
Hari ini, penantian panjang itu akhirnya terjawab. Gereja Santa Maria Pembantu Abadi Weri yang baru berdiri dengan indah dan penuh makna.
Dalam misa pentahbisan yang dipimpin oleh Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Gereja ini dikuduskan sebagai rumah Tuhan, tempat suci bagi umat untuk bertemu dengan Sang Sumber Hidup. Di sini, Sabda Allah didengarkan, Ekaristi dirayakan, dan doa-doa umat dipanjatkan.
Gereja ini bukan hanya sebuah bangunan, tetapi hasil dari perjalanan panjang yang penuh penderitaan, kesabaran, dan kesetiaan. Di setiap temboknya ada keringat para pekerja, di setiap kursinya ada doa para ibu, dan di setiap sudutnya ada pengorbanan umat serta para dermawan. Semua bersatu dalam satu tujuan: menghadirkan rumah Tuhan yang layak bagi umat yang mengasihi-Nya.
Sejarah eksodus tahun 1979 kini mendapat makna baru lewat perayaan hari ini. Perjalanan yang penuh air mata, luka, dan keterbatasan perlahan berubah menjadi sumber kekuatan, solidaritas, dan iman yang semakin dewasa.
Pintu Gereja yang terbuka hari ini bukan hanya tanda selesainya pembangunan, tetapi juga harapan baru: ajakan bagi setiap umat untuk membuka hati, memperbarui semangat, dan meneguhkan kasih kepada sesama. Semoga perjalanan panjang yang telah dilalui umat membentuk hati yang lebih lembut, peduli, dan siap saling menopang.
Dalam terang Maria Pembantu Abadi, umat diajak bukan hanya untuk bersyukur, tetapi juga meneladani kesetiaannya: menjadi pribadi yang setia membantu, menguatkan yang lemah, dan membawa kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Gereja baru ini menegaskan bahwa umat Weri bukan hanya saksi sejarah bencana, tetapi juga saksi hidup atas kesetiaan Tuhan.
Dari TOSIBA ke rumah Tuhan, dari reruntuhan ke harapan, dan dari air mata ke pujian. Iman umat terus tumbuh dan menemukan panggilannya untuk memberi warna bagi Gereja lokal dan menjadi berkat bagi masyarakat luas. *
Penulis adalah Umat Paroki Weri, Sedang Belajar di Universitas Negeri Jakarta

