Oleh: Antonius Sina Aran
PERISTIWA penting yang telah lama dinanti, yakni Pentahbisan Gereja Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Weri, menjadi puncak perayaan iman yang diselimuti semangat luar biasa.
Dengan mengangkat tema “Satu Hati Aneka Wajah: Mari Kita Pergi ke Rumah Tuhan dengan Sukacita”, perayaan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan manifestasi nyata dari persatuan dan keberagaman umat Weri khususnya, serta Larantuka pada umumnya.
Tema tersebut secara indah merangkum hakikat Gereja. “Satu Hati” menegaskan inti iman yang sama, berpusat pada Kristus dan Bunda Maria, sementara “Aneka Wajah” merefleksikan kekayaan budaya, latar belakang, dan talenta yang dimiliki setiap individu dalam komunitas Paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Weri. Keberagaman yang tampak dalam liturgi, pakaian adat, dan partisipasi berbagai kelompok justru menjadi kekuatan, bukan pemisah.
Pentahbisan gereja baru ini ditandai dengan seremonial pembukaan pintu gereja oleh Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung. Setelah pintu gereja dibuka, umat dengan penuh sukacita memasuki ruang ibadah.

Perayaan dilanjutkan dengan Ekaristi Pentahbisan Gereja. Ritual pentahbisan dimulai dengan pemberkatan dan pendupaan seluruh ruangan, pengurapan altar, serta pemberkatan mimbar sabda dan tabernakel.
Ritual yang sakral ini menegaskan bahwa bangunan fisik kini telah diubah menjadi ruang kudus, tempat perjumpaan istimewa dengan Tuhan.
Momen ini menjadi peneguhan janji iman: setiap umat diajak menjadikan sukacita sebagai bekal utama dalam perjalanan ziarah menuju Rumah Tuhan, di mana pun berada.
Dalam homilinya, Mgr. Fransiskus Kopong Kung menyinggung tema perayaan iman ini. Beliau menegaskan bahwa umat yang hadir berasal dari beragam latar belakang budaya, dengan wajah-wajah berbeda, namun diharapkan tetap memiliki satu hati dalam membangun Gereja.
Mgr. Frans juga memberi apresiasi kepada pastor paroki, Dewan Pastoral Paroki, serta seluruh umat Weri karena telah menghadirkan gedung gereja yang megah di wilayah Keuskupan Larantuka.

Ia berharap agar gedung ini menjadi sarana yang menghantar umat semakin dekat kepada Yesus Kristus, Sang Raja Semesta Alam, serta mendorong umat untuk terus datang ke gereja menimba kekuatan dari Tuhan sendiri.
Semangat kolaborasi yang mendahului dan menyertai perayaan ini patut disoroti. Menurut panitia, pentahbisan gereja didahului oleh berbagai kegiatan rekreatif, sosial-karitatif, dan pendalaman iman.
Ada aneka pertandingan dan perlombaan, jalan santai, pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian bingkisan kasih dari paroki, serta kerja bakti di sekitar gedung gereja baru.
Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya melibatkan umat Katolik, tetapi juga umat beragama lain yang berdomisili di wilayah Paroki Weri.
Partisipasi lintas iman ini menunjukkan bahwa sukacita yang dirasakan bersifat inklusif. Gereja Paroki Weri hadir bukan hanya sebagai pusat rohani umat Katolik, tetapi juga sebagai tiang penyangga kerukunan sosial di tengah masyarakat.
Pentahbisan Gedung Gereja Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Weri dengan tema “Satu Hati Aneka Wajah” adalah kesaksian hidup akan iman yang merangkul.

Ini merupakan perayaan persatuan di tengah keberagaman, sekaligus ajakan tulus untuk melangkah ke depan dengan semangat dan pengharapan baru, membangun komunitas gereja yang hidup dan penuh sukacita.
Turut hadir dalam perayaan iman ini Uskup terpilih Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro; Vikjen Keuskupan Larantuka, RD. Gabriel Unto Da Silva; Sekjen Keuskupan Larantuka, RD. Ancis Kewaelaga; Deken Larantuka, RD. Hendrik Leni; sejumlah imam konselebran, biarawan-biarawati, tokoh pemerintah, umat Paroki Weri, serta tamu undangan.
Setelah Ekaristi Pentahbisan, acara dilanjutkan dengan resepsi syukuran di Aula Paroki Weri. Kegembiraan terpancar jelas dari wajah ribuan umat yang memadati gereja maupun aula resepsi, termasuk tokoh masyarakat dan perwakilan lintas iman. Kemegahan arsitektur gereja yang baru ditahbiskan ini menjadi simbol kokohnya iman.*
Penulis adalah Pastor Rekan Paroki Maria Pembantu Abadi Weri

