Oleh: Maria Verania Luju
Di sebuah ceruk desa yang dipeluk hamparan bukit hijau, sebuah rumah panggung berdiri bersahaja. Dinding bambunya menjadi saksi bisu angin yang berdesir pelan, sementara atap ilalangnya senantiasa tabah menghadapi hujan.
Di sanalah Tere, seorang janda dengan hati selembut sutra namun sekuat jalinan benang, tinggal bersama putri semata wayangnya, Frida. Semenjak suaminya berpulang ke haribaan tanah, Tere menjadikan alat tenun sebagai tumpuan hidup, merajut rupiah demi sekolah sang buah hati.
Setiap fajar menyapa, simfoni itu dimulai. Bunyi kayu penggulung benang beradu dengan orkestra kicau burung, menciptakan harmoni yang hanya dimengerti oleh sunyi. Jemari Tere menari dengan tangkas, menyatukan warna menjadi motif-motif yang bukan sekadar hiasan. Baginya, setiap jalinan adalah simbol kehidupan; tentang peluh kerja keras, ketabahan yang tak berujung, dan cinta ibu yang tak pernah putus. Frida seringkali duduk bersimpuh di sampingnya, matanya terpaku pada gerakan tangan sang ibu yang magis.
Suatu sore, di bawah langit yang mulai menjingga, Frida bertanya lirih, “Ibu, tidakkah kau lelah terus merajut benang-benang ini?”
Tere menghentikan hentakan alat tenunnya sejenak, menatap Frida dengan tatapan yang menghangatkan jiwa. “Lelah itu ada, Nak. Namun, setiap helai benang yang Ibu anyam adalah cara Ibu merajut doa. Kita seperti benang ini; jika sendiri ia akan rapuh, namun jika disatukan dengan sabar, kita akan menjadi bentangan kain yang kuat dan tak mudah koyak.”
Kata-kata itu terpatri di dada Frida. Ia pun mulai belajar, meski awalnya benang-benangnya sering kusut dan warnanya tampak kusam di hadapan karya ibunya yang sempurna. Namun, setiap kali Frida ingin menyerah, Tere akan membelai tangannya lembut. “Nak, tenunan yang indah tidak lahir dari tangan yang cepat, melainkan dari hati yang tenang.”
Waktu terbang secepat hembusan angin perbukitan. Frida tumbuh menjadi gadis yang cerdas. Kabar bahagia datang: ia diterima di sekolah kota. Namun, bahagia itu berbalut lara karena ia harus meninggalkan serambi rumah dan kehangatan ibunya.
Malam sebelum keberangkatan, di bawah temaram lampu minyak, Tere menyerahkan sehelai kain songket buatan tangannya sendiri. Warnanya hitam keemasan, berkilau seperti harapan. “Bawalah ini, Frida. Ini bukan sekadar kain. Ini adalah kompas agar kau tak hilang arah. Di mana pun kakimu berpijak, jangan pernah lupa pada tanah yang membesarkanmu dan tangan yang mengasuhmu.”
Di kota, Frida terjebak dalam hutan beton yang bising. Gedung-gedung menjulang seolah ingin menantang langit. Sempat ia merasa canggung, merasa asing dalam pakaian modern yang serba cepat. Ia menyimpan kain ibunya di lemari asrama, hingga suatu hari Liva, sahabatnya, menemukannya.
“Wah, mahakarya dari mana ini, Frida?” seru Liva penuh kekaguman.
Frida tersenyum getir, “Ini milik ibuku. Di desaku, ini adalah tradisi kami.”
“Tapi kenapa kau menyembunyikannya? Pakailah! Dunia harus melihat kecantikan ini,” desak Liva. Namun Frida hanya menggeleng kecil, “Aku takut mereka menganggapku aneh.”
Hari demi hari, kota seolah menelan jati diri Frida. Namun, ada ruang hampa di hatinya yang tak bisa diisi oleh hingar-bingar kota. Hingga Liva datang membawa tantangan untuk ikut pameran budaya kampus. “Frida, budaya adalah jati diri. Jika kau tak memperkenalkannya, maka perlahan-lahan ia akan mati dalam ingatan.”
Kalimat Liva menyentak kesadaran Frida. Malam itu, ia menatap kain ibunya kembali. Di bawah cahaya lampu kota, warna emasnya tampak hidup, seolah berbisik tentang doa-doa ibunya yang tak putus.
Hari pameran tiba. Frida berdiri di samping kain ibunya yang ia gelar di atas meja sederhana. Pengunjung berdatangan, mata mereka berbinar menatap motif rumit yang bercerita tentang alam Manggarai. Frida tak lagi malu; ia bercerita dengan bangga tentang setiap lekuk motif dan filosofi di baliknya.
Kabar kehebatan tenun itu meluas hingga ke tingkat provinsi. Frida diundang ke acara budaya besar. Dari ujung telepon, ia mendengar suara ibunya yang bergetar haru. “Puji Tuhan, Nak. Tapi ingatlah, jangan biarkan pujian membuatmu lupa pada asalmu.”
“Tidak, Ibu. Justru karena pujian ini, aku makin bangga menjadi putri seorang penenun,” jawab Frida mantap.
Beberapa bulan kemudian, Frida pulang. Ia berlari mendaki jalan setapak menuju rumah panggungnya. Di serambi itu, Tere masih setia menenun, menanti sang permata hati. Frida memeluk ibunya erat, menghirup aroma benang dan peluh yang ia rindukan.
“Ibu, aku pulang,” bisik Frida haru. Ia mengeluarkan sehelai kain yang ia tenun sendiri di sela kesibukannya di kota.
“Lihatlah, Bu. Aku menenun ini di kota. Benangnya mungkin berbeda, tapi motifnya tetap doa yang sama seperti yang Ibu ajarkan.”
Tere mengusap kain buatan anaknya dengan air mata bahagia.
“Anakku, kau telah menenun masa depanmu tanpa melepaskan akar. Kau membuktikan bahwa menjadi modern tidak berarti harus kehilangan jati diri.”
Di serambi itu, di bawah lindungan bukit hijau, mereka duduk berdampingan. Suara kayu alat tenun kembali berirama, merajut cinta yang takkan pernah pudar oleh waktu.*
Maria Verania Luju adalah Siswi kelas XI SMAS St. Gregorius Reo

