Di dunia yang gemar memuja wajah, mencintai seseorang apa adanya sering menjadi perkara yang paling langka.
Oleh: Fr. Pankrasisus Tevin Lory
Kecantikan kadang menjengkelkan. Orang boleh saja berlomba-lomba mempercantik diri, tetapi anehnya, kecantikan yang paling diidamkan itu sering justru memperpanjang deretan kegelisahan di dalam hati.
Tak terhitung berapa banyak pria yang pernah memberanikan diri menyatakan perasaan kepadaku. Namun selalu kujawab dengan halus bahwa aku sudah bertuan. Alasan itu biasanya ampuh; mereka akan mundur satu per satu tanpa banyak tanya. Padahal kenyataannya, hingga hari ini aku belum pernah menjalin hubungan asmara sedikit pun.
“Mei, aku tak bisa membayangkan betapa tampannya pacarmu,” kata Rina, sahabatku, suatu hari setelah aku menolak Roy. Aku hanya diam. Rina tahu benar tabiatku. Jika aku memilih bungkam, berarti topik itu tak perlu lagi dibicarakan. Ia pun segera mengganti pembicaraan.
Sebenarnya, bukan mustahil aku menerima Roy. Ia tampan, populer, dan menjadi bintang tim sepak bola sekolah. Namun jauh di dalam hati aku merasa bahwa ketertarikannya bukan tertuju padaku sebagai diriku sendiri, melainkan pada bayangan tentangku.
Menurut sahabat-sahabatku, aku adalah primadona sekolah yang kerap meraih peringkat pertama di kelas. Cinta yang bertumpu pada kekaguman semacam itu terasa terlalu tipis untuk kusebut sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh.
Bagaimana jika suatu hari aku tertabrak dan wajahku hancur? Masihkah Roy mencintaiku? Pertanyaan itu selalu membawaku pada nasib kakakku, Mia.
***
Kakakku itu cantiknya aduhai. Aku tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya. Kulitnya bersih, hidungnya mancung, senyumnya seperti iklan pasta gigi. Banyak orang memujinya.
Namun suatu hari sebuah mobil menabraknya. Syukurlah ia masih hidup. Namun wajahnya… ah, wajahnya sungguh memilukan. Luka-luka merobek hampir seluruh bagian. Hidungnya bengkok. Dua giginya copot. Aldo, pacarnya, tak pernah lagi datang ke rumah. Nomornya pun tak bisa dihubungi. Kesimpulannya sederhana. Aldo hanya mencintai kecantikan, bukan Mia.
Sejak saat itu aku mengerti sesuatu. Kecantikan sering hanya mengundang orang untuk menyukai kecantikanmu, bukan mencintaimu. Itulah sebabnya hingga kini aku belum pernah berpacaran.
***
Daripada berkutat dalam perkara cinta yang rumit, aku memilih sibuk memikirkan masa depan. Hari ini aku, Rina, dan Agus dipanggil oleh Pak Enzo. Kami akan mewakili sekolah dalam kompetisi debat antar-sekolah yang akan berlangsung seminggu lagi.
Beberapa hari terakhir kami tenggelam di perpustakaan, mengumpulkan referensi dan memperkuat argumen. Aku dan Rina jarang bertemu Agus di sana.
Namun kehebatannya tak perlu diragukan. Agus memang tak banyak bicara, tetapi sekali ia berbicara, siapa pun yang mendengarnya pasti terkesima. Nada suaranya tenang, tanpa kesombongan. Namun isi ucapannya membuat orang sadar bahwa mereka tak seberapa.
Ia juga pemain sepak bola sekolah. Bedanya dengan Roy dan teman-temannya, Agus tak pernah berjalan dengan dada dibusungkan di depan para perempuan. Agus selalu tampak apa adanya. Penampilannya biasa saja. Rambutnya sering berantakan. Bajunya sederhana.
Namun dari semua siswa di sekolah ini, hanya Agus yang tak pernah kudapati mencuri pandang ke arahku. Di hadapan siswa lain aku adalah primadona. Namun di mata Agus, aku hanyalah Mei. Tidak lebih.
“Saya yakin kalian bertiga sudah mempersiapkan diri dengan baik,” kata Pak Enzo ketika kami bertemu. “Tapi ingat, kalian sendiri harus percaya diri.”
Ia lalu menatap Agus. “Agus, saya harap saat debat nanti rambutmu sudah digunting. Atau paling tidak disisir! Kau akan berdiri di hadapan banyak orang.”
Agus hanya menggaruk-garuk kepalanya, membuat kami menahan tawa.
***
Hari perlombaan tiba. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat. Beberapa kali aku mengucek mata, tetapi pemandangan itu tak berubah. Yang berjalan ke arah kami itu… Agus.
Rina juga tertegun. Pak Enzo tersenyum puas. Agus tampan sekali hari itu. Rambutnya dipangkas rapi dan disisir dengan minyak rambut. Ia mengenakan jas hitam yang pas di badan serta dasi merah yang membuatnya terlihat sangat elegan. Bahkan Roy tak ada bandingannya.
Kami berkumpul di ruang belakang panggung. Pak Enzo memberi motivasi terakhir sebelum debat dimulai. Namun jujur saja, aku dan Rina lebih sering mencuri pandang ke arah Agus. Di balik kesederhanaannya, ternyata ia begitu menawan.
Kompetisi pun dimulai. Ruang auditorium penuh oleh penonton. Tim kami melaju mulus di babak penyisihan karena setiap argumen kami disertai data dan referensi yang kuat. Banyak tim lain tumbang karena hanya mengandalkan opini.
Di semifinal, kami kembali menang. Argumen kami hampir tak terbantahkan. Aku memang sudah menduga beberapa tema yang mungkin muncul. Salah satunya “Program Makan Bergizi Gratis”, yang telah kupelajari jauh-jauh hari.
Akhirnya tibalah babak final. Kami harus menghadapi sekolah unggulan. Orang tuaku terlihat di antara penonton, terus menyemangatiku. Semua orang tampak tegang.
Mosi yang diangkat adalah: “Pentingnya Media Komunikasi bagi Pendidikan”. Kami berada di pihak kontra.
Pertarungan berlangsung sengit. Rina tampil sangat baik. Namun tim lawan lebih percaya diri. Mereka berasal dari sekolah elite. Cara berbicara mereka lancar, penuh gaya, dan setiap selesai berbicara tepuk tangan langsung menggema. Namun sikap mereka terasa angkuh. Seolah-olah mereka adalah orang paling hebat di dunia.
Ketika salah satu dari mereka melempar argumen yang sulit dibantah, Rina mulai terdiam. Kulihat wajahnya pasrah. Semua mata kini tertuju kepada kami. Tim lawan tersenyum sinis. Moderator bahkan tampak hendak menutup sesi karena tak ada tanggapan dari pihak kami.
Namun tiba-tiba Agus berdiri. Saat itulah aku tahu satu hal. Hidupku akan berubah. Jika ada yang bertanya siapa orang pertama yang membuatku jatuh cinta, maka jawabanku sederhana, Agus.
Bukan karena ketampanannya. Bukan pula karena kehebatannya. Melainkan karena kerendahan hatinya.
Agus mulai berbicara. Suaranya tenang, tetapi jelas. Ia memaparkan satu per satu dampak negatif media komunikasi dalam pendidikan. Kecanduan gawai, penyebaran hoaks, manipulasi informasi, hingga pengaruh algoritma terhadap cara berpikir generasi muda.
Ruang auditorium tiba-tiba hening. Setiap kalimatnya terasa seperti palu yang menghantam meja logika. Ia bahkan menyinggung fenomena politik global, budaya game daring, dan industri media sosial yang membentuk opini publik.
Beberapa kali ia diinterupsi. Namun Agus menjawab semuanya dengan tenang, sambil menyajikan data dan fakta yang tak terbantahkan. Tim lawan yang tadi tersenyum sinis kini hanya bisa mengangguk-angguk. Penonton terpukau.
Sebagai penutup, Agus menceritakan kisah kakaknya, Tomy. Tomy pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis melalui Facebook. Dalam foto-foto yang ia unggah, gadis itu terlihat putih dan cantik. Hubungan mereka bahkan sampai pada tahap lamaran secara daring.
Suatu hari Tomy mengundangnya datang ke rumah. Namun gadis itu datang bersama beberapa orang. Ketika melihat wajah aslinya, Tomy terkejut. Penampilannya sangat berbeda dari foto yang selama ini ia lihat. Kulitnya gelap, rambutnya keriting, giginya tak rapi.
Lebih mengejutkan lagi, kakaknya adalah Bento, seorang preman terkenal yang ditakuti banyak orang.
Malam itu Tomy dipaksa pergi ke kampung mereka untuk menikahi gadis itu. Demi melindungi keluarganya, ia akhirnya menuruti permintaan itu.
Sejak malam itu Tomy tak pernah pulang. Agus menutup ceritanya dengan satu kalimat: “Media komunikasi memang memudahkan hubungan manusia. Namun jika kita kehilangan kejujuran di dalamnya, maka yang kita bangun bukan hubungan, melainkan ilusi.”
Ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan. Tak lama kemudian, tim kami diumumkan sebagai pemenang.
***
“Pasti kau lahir bulan Mei, kan?” tanya Agus suatu sore. Aku mengangguk.
“Kau Agustus, kan?” Ia tertawa kecil dan mengangguk.
“Sudah kuduga.” Kami tertawa bersama.
Sejak lomba debat itu, aku dan Agus menjadi sangat akrab. Berbicara dengannya selalu menyenangkan. Seolah selalu ada topik baru untuk dibicarakan.
Suatu hari ia berkata, “Mei, kau lebih cantik tanpa bedak dan lipstik.” Aku tersenyum.
“Makasih, Gus.”
Kisah kakaknya membuatku tak pernah lagi memakai make-up berlebihan. Kalimat Agus hari itu mengingatkanku pada candaan Rina: “Jangan mengaku cantik kalau belum dipuji Agus.” Aku tersenyum dalam hati.
Ternyata, kadang yang kita butuhkan bukan menjadi lebih cantik. Cukup menjadi diri sendiri. *
*) Fr. Pankrasius Tevin Lory, Sedang Menjalani Masa Orientasi Pastoral di SMA Seminari Mataloko

