Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
VISI episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro yang berbunyi Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes atau Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan, merupakan sintesis teologis yang mendalam untuk menavigasi kompleksitas tantangan zaman modern.
Moto ini berakar pada surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef. 4:4), yang menegaskan hakikat Gereja sebagai sakramen keselamatan dan tanda persatuan mesra antara Allah dan seluruh umat manusia.
Pemilihan visi ini mencerminkan kesadaran sang gembala bahwa kesatuan umat di wilayah Keuskupan Larantuka yang majemuk harus dibangun di atas dasar iman yang kokoh, sebagai penguat ikatan sosial atau budaya.
Dimensi Unum Corpus menekankan bahwa meskipun umat terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan latar belakang ekonomi, mereka merupakan bagian integral dari satu tubuh mistik Kristus.
Di tengah realitas masyarakat kontemporer yang sering kali terfragmentasi oleh kepentingan politik dan fragmentasi sosial, visi ini menawarkan alternatif melalui konsep communio.
Gereja dipahami sebagai persekutuan umat beriman yang hidup dari Roh Kudus. Perbedaan karisma dan talenta dalam persekutuan itu dipandang sebagai kekayaan yang saling melengkapi, bukan sebagai ancaman terhadap keseragaman.
Selanjutnya, pilar Unus Spiritus menempatkan Roh Kudus sebagai daya hidup yang menggerakkan seluruh dinamika Gereja lokal. Tanpa penyertaan Roh yang tunggal, struktur organisasi Gereja akan terjebak dalam formalitas administratif belaka. Roh Kudus bekerja melalui proses sinodal, mengajak setiap anggota umat Allah untuk ‘berjalan bersama’ dalam semangat solidaritas dan keterbukaan.
Mgr. Hans Monteiro menyadari bahwa harmoni yang tercipta di Keuskupan Larantuka haruslah merupakan sebuah simfoni iman yang mengakomodasi berbagai suara namun tetap berada dalam satu nada dasar pengharapan yang sama.
Pilar ketiga, Una Spes, memberikan orientasi eskatologis yang menghadirkan makna pada setiap ziarah iman di dunia. Harapan kristiani dalam pandangan Mgr. Hans bukanlah sikap pasif atau sebuah optimisme manusiawi yang dangkal.
Merujuk pada teologi Jürgen Moltmann, harapan merupakan kekuatan aktif yang memiliki kemampuan untuk menarik masa depan Allah ke dalam realitas sekarang guna mengubah tatanan yang ada.
Harapan ini menjadi ‘energi penggerak’ bagi Gereja Lokal Keuskupan Larantuka agar terus bergerak maju menjawab tanda-tanda zaman, termasuk dalam menangani persoalan kemiskinan dan penderitaan umat pasca sejumlah peristiwa bencana seperti erupsi gunung berapi di dua wilayah kabupaten dalam keuskupan ini.
Kepemimpinan Mgr. Yohanes Hans Monteiro dengan demikian menjadi ‘sakramen harapan’ yang meyakinkan umat bahwa Allah tetap setia menyertai perjalanan sejarah mereka.
Visi ini mengintegrasikan pengalaman personal sang uskup sebagai sosok yang ditempa melalui ‘kerapuhan fisik’ namun dikuatkan oleh rahmat Tuhan.
Melalui perpaduan antara kecemerlangan intelektual hasil studi di Austria dan kepekaan pastoral yang membumi, beliau dipersiapkan untuk menjadi gembala yang menjembatani misteri ilahi dengan realitas kemanusiaan umat di Flores Timur dan Lembata. * (Bagian Kedua)
Penulis adalah Seksi Komsos dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Larantuka

