Transformasi KBG sebagai Lokus Pemberdayaan Ekonomi dan Ekspresi Iman (Bagian Ketiga) – MudikaLink

Transformasi KBG sebagai Lokus Pemberdayaan Ekonomi dan Ekspresi Iman (Bagian Ketiga)

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

SEJAK masa kepimpinan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Keuskupan Larantuka menetapkan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai fokus dan lokus utama kegiatan pastoral. Pilihan ini didasarkan pada keyakinan bahwa jika komunitas basis kuat, maka Gereja lokal pun akan menjadi hidup dan tangguh.

KBG bukan dipandang sebagai struktur administratif terkecil, melainkan sebagai ‘cara baru hidup menggereja yang partisipatif, integratif, dan transformatif’. Di sinilah iman diwujudkan melalui aksi nyata yang menyentuh kebutuhan paling mendasar umat, termasuk kesejahteraan ekonomi.

Rencana strategis keuskupan yang kepemimpinannya akan dilanjutkan oleh Mgr. Yohanes Hans Monteiro, menempatkan tahun 2026 sebagai Tahun Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman. Fokus renstra ini menunjukkan pergeseran paradigma dari Gereja yang bersifat klerus-sentris menuju Gereja yang berdaya bersama kaum awam.

Pemberdayaan ekonomi di akar rumput melalui KBG mencakup penguatan sektor pertanian, kelautan, serta optimalisasi koperasi seperti CU Sinar Saron. Upaya ini mencerminkan pemahaman bahwa keselamatan yang diwartakan Gereja harus mencakup pembebasan manusia dari belenggu kemiskinan struktural.

Implementasi program ekonomi ini menuntut tata kelola yang profesional dan akuntabel di tingkat keuskupan hingga paroki. Hasil lokakarya evaluasi Keuskupan Larantuka pada Oktober 2025 menunjukkan bahwa meskipun perencanaan sudah baik, fungsi pengawasan dan penggerakan masih perlu ditingkatkan agar program tidak hanya berhenti di atas kertas.

Mgr. Hans Monteiro diharapkan mampu memimpin proses transformasi ini dengan gaya kepemimpinan yang melayani, dan memastikan bahwa setiap aset dan harta benda Gereja dikelola demi kepentingan umat miskin dan terpinggirkan.

Gerakan “Gereja Transformatif” ini menempatkan KBG sebagai komunitas perjuangan. Di dalam KBG, umat diajak untuk saling mendengarkan, berbagi beban, dan mencari solusi bersama atas tantangan hidup sehari-hari.

Sinergi antara spiritualitas dan aksi sosial ekonomi inilah yang akan menjadikan Gereja Larantuka relevan di mata masyarakat. Dengan demikian, iman tidak lagi hanya dirayakan di dalam gedung gereja melalui ritus suci, melainkan juga diwujudkan di ladang, di pasar, dan di setiap ruang publik sebagai bentuk syukur atas anugerah Allah.

Di sisi lain, kaderisasi kaum awam, khususnya generasi muda (OMK), menjadi kunci keberlanjutan regenerasi pelayan Gereja. Sekolah-sekolah Katolik di bawah naungan yayasan seperti Yapersuktim dan Yapenduklem harus kembali menjadi taman persemaian karakter yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kepekaan sosial.

Melalui integrasi antara pendidikan nilai dan keterampilan produktif, Keuskupan Larantuka diharapkan berupaya menciptakan warga Gereja yang mandiri secara personal, finansial, dan spiritual, selaras dengan visi menjadi Gereja Umat Allah yang Mandiri dan Misioner. * (Bagian Ketiga)

Penulis adalah Seksi Komsos dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Larantuka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *