Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
KRISIS ekologis global telah memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat di Keuskupan Larantuka yang sangat bergantung pada kelestarian alam kepulauan.
Degradasi lingkungan, perubahan iklim, serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati bukan dipandang sebagai fenomena teknis semata, melainkan sebagai krisis moral dan spiritual.
Menanggapi hal ini, Mgr. Yohanes Hans Monteiro diharapkan mengadopsi paradigma ekologi integral sebagaimana tertuang dalam ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus sebagai pilar penting dalam reksa pastoralnya.
Ekologi integral menegaskan bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan hidup. Di wilayah Flores Timur dan Lembata yang merupakan bagian integral dari Keuskupan Larantuka, keharmonisan antara masyarakat dan laut serta gunung merupakan fondasi bagi keberlangsungan hidup.
Oleh karena itu, tugas kegembalaan seorang uskup juga perlu mencakup perlindungan terhadap alam ciptaan Allah. Karena itu, Gereja harus menyerukan ‘pertobatan ekologis’, yakni perubahan cara berpikir dan bertindak yang eksploitatif menuju sikap hormat dan bertanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Di titik ini, sektor pendidikan Katolik memegang peranan krusial dalam menanamkan kesadaran ekologis ini sejak dini. Kurikulum di sekolah-sekolah Katolik didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai pemeliharaan lingkungan ke dalam praktik keseharian siswa.
Guru agama dan dosen di institusi seperti Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka dan Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka diharapkan menjadi saksi hidup bagi nilai-nilai ekologis, membimbing generasi muda untuk mencintai ciptaan sebagai wujud iman kepada Sang Pencipta. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mengejar prestasi akademik, melainkan juga pembentukan karakter warga ekologis yang tangguh.
Integrasi antara iman dan kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi bukti autentisitas penghayatan iman kristiani di Keuskupan Larantuka. Iman dihayati melalui tindakan nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem kepulauan.
Dalam konteks iman, gerakan pelestarian lingkungan ini digerakkan oleh Roh Kudus (Unus Spiritus) yang memperbarui muka bumi. Visi ini menuntun umat untuk melihat setiap makhluk sebagai sesama ciptaan yang memiliki martabat di hadapan Allah.
Melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP) dan berbagai program pastoral hijau, Keuskupan Larantuka berupaya menciptakan harmoni antara altar Gereja dengan altar kehidupan. Tantangan alam seperti erupsi Gunung Lewotobi menjadi pengingat bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan kekuatan alam secara bijaksana.
Kepemimpinan Mgr. Hans Monteiro yang berakar pada teologi liturgi memberikan sentuhan spiritual pada setiap upaya pelestarian lingkungan, menjadikan perayaan iman sebagai momentum untuk mensyukuri sekaligus berkomitmen menjaga keindahan bumi Flores.* (Bagian Keempat)
Penulis adalah Seksi Komsos dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Larantuka

