Gereja Berwajah Perantau, Transformasi Pelayanan Migran Lintas Negara (Bagian Kelima) – MudikaLink

Gereja Berwajah Perantau, Transformasi Pelayanan Migran Lintas Negara (Bagian Kelima)

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

FENOMENA migrasi merupakan realitas sosial yang sangat kental di wilayah Keuskupan Larantuka, di mana ribuan umat merantau ke luar negeri, khususnya ke Malaysia, demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Perjalanan para migran ini sering kali diwarnai oleh berbagai risiko, mulai dari perdagangan orang hingga hilangnya akses terhadap pelayanan sakramental.

Gereja Larantuka di bawah arahan Mgr. Yohanes Hans Monteiro diharapkan berkomitmen untuk menghadirkan “wajah perantau” dalam ziarah pengharapannya, memastikan bahwa setiap migran tetap terhubung dengan komunitas imannya meskipun berada jauh dari tanah air.

Sinergi lintas batas antara Keuskupan Regio Nusa Tenggara (Nusra) dan Keuskupan di Sabah, Malaysia, yang telah dilalui dalam ‘karya pastoral’ lintas negara ini dan yang dikukuhkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) merupakan langkah revolusioner dalam pastoral migran.

Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan perlindungan menyeluruh bagi pekerja migran, mencakup bantuan hukum, advokasi martabat manusia, serta kemudahan akses terhadap sakramen baptis dan perkawinan di tanah rantau. Gereja tidak lagi terbatas oleh sekat geografis, melainkan hadir sebagai tubuh yang hidup dan bergerak menyertai umatnya di mana pun mereka berada.

Pemberdayaan ekonomi migran juga menjadi fokus perhatian guna menekan angka migrasi yang tidak aman. Melalui penguatan ekonomi akar rumput di daerah asal, diharapkan umat memiliki pilihan untuk tetap tinggal dan membangun daerahnya sendiri.

Namun bagi mereka yang sudah berada di perantauan, Gereja berupaya memberikan perlindungan bagi kelompok rentan, seperti perempuan dan anak-anak, melalui pembentukan “Rumah Aman Migran” dan penanganan serius terhadap isu stunting pada anak-anak pekerja migran.

Pengalaman Mgr. Yohanes Hans Monteiro yang pernah bertugas di Wina, Austria, memberikan perspektif global yang sangat berharga dalam mengelola pelayanan migran.

Pengalaman beliau memimpin ‘komunitas Katolik Indonesia di luar negeri’ mempertegas keyakinan bahwa iman dapat tumbuh subur dalam keragaman budaya.

Pelayanan pastoral bagi migran dipahami sebagai bentuk dialog kehidupan yang menuntut kerendahan hati untuk mendengarkan jeritan mereka yang terasing di negeri orang.

Untuk itu, sinergi dengan pemerintah dan masyarakat sipil merupakan langkah krusial untuk menjamin perlindungan hukum bagi kaum perantau.

Gereja mendorong adanya regulasi yang adil dan transparan bagi para pekerja migran, serentak pula melakukan penginjilan budaya agar nilai-nilai kristiani tetap menjadi kompas moral di tengah tantangan hidup di luar negeri.

Transformasi pastoral migran ini merupakan wujud nyata dari semangat sinodalitas, di mana seluruh elemen Gereja berjalan bersama dalam satu roh dan satu pengharapan demi keselamatan jiwa-jiwa.

Membangun Jembatan Iman, Sinergi Tradisi Semana Santa dan Kepemimpinan Apostolik
Keuskupan Larantuka dikenal dunia melalui tradisi Semana Santa atau Pekan Suci yang telah berlangsung selama berabad-abad sejak kedatangan misionaris Portugis dan Dominikan pada tahun 1564. Ikon devosional ini merupakan ritual keagamaan tahunan dan telah menyatu ke dalam identitas budaya masyarakat Larantuka.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai seorang putra daerah yang juga pakar teologi liturgi, diharapkan memiliki peran strategis untuk mendalami sekaligus memurnikan tradisi ini agar tetap relevan sebagai sumber inspirasi iman di era modern.

Otoritas uskup dalam Gereja Katolik bukanlah kekuasaan absolut, melainkan sebuah pelayanan yang otoritatif (ministerium). Sebagai pengganti para rasul, Mgr. Hans akan mengemban tugas mengajar, menguduskan, dan memimpin umat Allah dengan kasih pastoral.

Dalam konteks tradisi lokal, tugas ini diwujudkan melalui pengawalan terhadap ritual-ritual suci seperti prosesi Jumat Agung agar tetap memiliki kedalaman makna teologis dan tidak terjebak dalam sekadar tontonan budaya atau pariwisata.

Karena itu, integrasi antara iman dan budaya lokal merupakan kekuatan utama Keuskupan Larantuka. Tradisi Semana Santa memperlihatkan bagaimana Gereja dapat hidup dalam dialektika dengan kearifan lokal.

Mgr. Hans Monteiro melalui disertasinya tentang ‘Semana Santa’ di Larantuka telah meneliti perbandingan antara tradisi asli di Portugal dengan yang berkembang di Larantuka, diharapkan pula memberikan landasan akademik yang kuat bagi upaya inkulturasi liturgi. Hal ini memungkinkan Gereja untuk tetap setia pada tradisi apostolik namun tetap terbuka pada dinamika perkembangan masyarakat.

Kepemimpinan Mgr. Hans diharapkan juga dapat memberikan penekanan pada peran kaum awam yang tergabung dalam Konfreria, organisasi awam tertua di Larantuka yang menjaga tradisi Pekan Suci. Keterlibatan komunitas adat dalam pengaturan ritual gerejawi merupakan bentuk nyata dari Gereja yang partisipatif.

Sinergi antara hierarki Gereja dan kelompok kategorial inilah yang akan memastikan bahwa satu tubuh Gereja Larantuka tetap kokoh dan bersatu dalam menghadapi arus perubahan zaman yang sangat cepat.

Akhirnya, peristiwa tahbisan uskup baru ini menjadi momentum pembaruan spiritual bagi seluruh umat. Mgr. Yohanes Hans Monteiro hadir sebagai inspirator dan koordinator yang mengajak umat untuk merajut kembali persaudaraan sejati.

Dengan semangat Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes, beliau menuntun Gereja Larantuka menuju masa depan yang penuh harapan, di mana setiap individu merasa memiliki tempat dan peran dalam membangun Kerajaan Allah di atas tanah Flores Timur dan Lembata.

Ziarah kasih ini akan terus berlanjut, membawa terang Injil ke tengah kegelapan dunia, dipandu oleh perlindungan Bunda Reinha Rosari. * (Bagian Terakhir/Habis)

Penulis adalah Seksi Komsos dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Larantuka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *