Kamis 22 Agustus 2024. Tak sekadar waktu khronos (untaian waktu biasa) bagi 600 ribu lebih umat Katolik Keuskupan Agung Ende yang meliputi wilayah Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.
MUDIKALINK.net-Penggalan waktu itu juga menandai momen berahmat (khairos) tidak saja bagi umat Keuskupan ini, tetapi juga bagi gereja mondial karena pada saat itu Gereja Katolik Dunia menyambut tugas kegembalaan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD sebagai Uskup Keuskupan Agung Ende.
Mgr. Paulus Budi Kleden menerima tugas kegembalaan ini setelah Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia Sri Paus Fransiskus mempercayakannya sebagai Uskup Agung Ende pasca meninggalnya Mgr. Vincentius Sensi Potokota pada 19 November 2023 lalu.
Mgr. Paul Budi Kleden menerima penugasannya sebagai Uskup Agung Ende di saat ia sedang dipercaya menjadi Superior General Kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah yang berkedudukan di Roma, Italia.
Penunjukan Pemimpin Tertinggi SVD Sedunia menjadi Uskup Agung Ende ini mendapatkan sambutan positif dari pelbagai elemen umat Katolik Dunia, khususnya umat Katolik di Keuskupan Agung Ende.
Uskup Agung Ende yang baru ini mengusung moto tahbisan Uskupnya yang diambil dari Surat Kepada Jemaat di Ibrani pasal 13 ayat 1 yang demikian petikannya Caritas Fraternitatis Maneat in Vobis (Peliharalah Kasih Persaudaraan).
Moto ini tentu memiliki makna mendalam yang menjadi paduan tugas kegembalaan Mgr. Paul Budi Kleden selama mengemban tugas mulia ini di Keuskupan Agung Ende.
Moto tahbisan ini nampaknya secara spiritual dan pastoral memiliki kesinambungan dari moto-moto tiga uskup Agung Ende sebelumnya yang memiliki tiga moto yang menjadi inspirasi tugas kegembalaan mereka.

Uskup Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD (1968-1996) mengusung moto Praedicamus Christum Cruxifixum (Wartakanlah Kristus yang tersalib (1 Kor 1:23).
Sementara Mgr. Abdon Longinus da Cunha (1996-2006) mengusung moto tahbisan Audiens et Proclamans: Dengar dan wartakanlah (1 Sam 2: 35).
Sedangkan Mgr. Vincentius Sensi Potokota (2006-2023) mengusung moto “Praedica Verbum Opportune, Importune: Wartakanlah Sabda, baik atau tidak baik waktunya (2 Tim 4:2).
Moto dan Lambang Keuskupan
Moto tahbisan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD “Caritas Fraternitatis Maneat In Vobis: Peliharalah Kasih Persaudaraan (Ibrani 13:1), semakin menampakkan warna persaudaraan kasih tatkala Mantan Superior General SVD itu menguraikan secara detail Lambang Uskup Agung yang digembalakannya dalam tampilan topi hirarki dalam tali berumbai yang sederhana serta perisai warna hijau adalah warna tradisional untuk Uskup Agung, juga 10 rumbaian berbentuk segitiga-segitiga kecil bersusun dan terdapat pula salib dan perisai yang dirancang menurut tradisi dengan memiliki 10 makna mendalam sebagaimana yang dirilis resmi pantia tabisan Uskup Agung Ende tahun 2024.
Inilah 10 petikan lengkap makna lambang Uskup Agung Ende di bawah tugas kegembalaan Mgr. Paul Budi Kleden, SVD.
Pertama, Segitiga Tritunggal Mahakudus. Kasih persaudaraan itu bersumber dan mengalir dari relasi Ilahi Trinitas: Persatuan Kasih Allah Bapa, Allah Putra-Allah Roh Kudus.
Kedua, Topi Petani: tanda kesederhanaan dan perlindungan inilah panggilan tugas yang dijalankan dalam cara yang sederhana demi menyapa umat dalam serba situasi yang dihadapi, terutama dalam bidang penggembalaan umat Allah Keuskupan Agung Ende.
Ketiga, Burung Merpati: tanda kehadiran dan kuasa Allah Roh Kudus saat Yesus dibaptis memulai awal perutusanNya dan yang dicurahkannya kepada Gereja pada Pentekosta. Roh Kudus adalah jiwa Ilahi Gereja.
Keempat, Kitab Suci. Dalam terang Roh Kudus Gereja dipanggil untuk mendengar, menafsir, mengamalkan dan mewartakan Tuhan yang bersabda melalui Kitab Suci, alam ciptaan dan peristiwa sejarah.
Warna merah pada sisi Kitab Suci adalah lambang kemartiran, pewartaan dan kesaksian akan Firman Tuhan menuntut pengorbanan.
Kelima, Bunda Maria dan Ketiga Kuntum Bunga. Huruf M adalah presentasi nama Bunda Maria. Santa Perawan dikandung tanpa noda adalah Pelindung Keuskupan Agung Ende.
Ketiga kuntum bunga itu adalah presentasi tiga wilayah Kevikepan Keuskupan Agung Ende yakni Bajawa, Mbay, dan Ende. Ketiga wilayah ini dipersatukan dalam kasih Keibuan Bunda Maria yang menginspirasi dan meneguhkan kita untuk setia memelihara kasih persaudaraan.
Enam, warna kuning. Inilah warna simbol harapan. Hal ini mengungkapkan citra seluruh umat Allah dalam (Kevikepan, Paroki, KUB) sebagai Gereja peziarah dalam harapan. Kita semua dipanggil untuk menjadi terang untuk mewartakan terang sejati yakni Kristus Cahaya Dunia.
Ketujuh, Figur Para Peziarah. Semua figure peziarah adalah gambaran para anggota gereja, kaum peziarah, anak-anak, kaum religius, para ibu dan bapak, para imam, kaum muda, para pegawai dan kaum intelektual serta uskup membentuk komunitas yang memelihara kasih persaudaraan, dan mengundang semua orang lain untuk menghidupkan kasih persaudaraan.
Kedelapan, warna hijau. Warna hijau mengisyaratkan hijau dan suburnya alam Flores. Kita dipanggil untuk memelihara kasih persaudaraan itu juga dengan seluruh alam ciptaan Tuhan.
Kesembilan, Laut Sawu dan Laut Flores. Laut Sawu yang bergelora itu mengungkapkan tantangan sekaligus menuntut keberanian hati untuk mengarungi zaman, membawa kabar sukacita persaudaraan.
Itulah Gereja bagai bahtera mengarungi zaman. Namun iman yang teguh pada Tuhan dalam doa dan devosi bersama Bunda Maria menuntun kita dalam kasih persaudaraan masuk ke suasana laut Flores yang relatif lebih teduh dan tenang.
Kesepuluh, Caritas Fraternitatis Maneat In Vobis: Peliharalah Kasih Persaudaraan (Ibrani 13:1).
Selamat bertugas Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Peliharalah kasih persaudaraan dalam aneka makna dan simbol Keuskupan Agung Ende yang diwarnai Caritas Fraternitatis Maneat In Vobis. Tuhan memberkati. *
Penulis: Wall Abulat (Pemred Mudikalink.net, Penulis Buku Karya Kemanusiaan Tidak Boleh Mati dan Alumnus IFTK Ledalero)

