Keuskupan Larantuka dalam Kepemimpinan Mgr. Yohanes Hans Monteiro (Sebuah Catatan Pengharapan) – MudikaLink

Keuskupan Larantuka dalam Kepemimpinan Mgr. Yohanes Hans Monteiro (Sebuah Catatan Pengharapan)

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

PADA 22 November 2025, RD. Yohanes Hans Monteiro diumumkan oleh Vatikan sebagai uskup baru untuk Keuskupan Larantuka. Beliau ditunjuk untuk melanjutkan karya kegembalaan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang telah memasuki masa pensiun.

Pada tanggal 11 Pebruari 2026 nanti, beliau akan ditahbiskan sebagai uskup Keuskupan Larantuka.

Kisah tumbuhnya benih imamat dan perjalanan imamat Mgr. Yohanes Hans Monteiro bermula dari pengalaman sederhana masa kecil hingga menjadi fondasi spiritual yang kokoh.

Latar belakang keluarga yang sarat doa, permainan liturgis dengan jagung titi, serta figur guru yang penuh kasih membentuk karakter beliau sejak dini.

Perjumpaan dengan Seminari San Dominggo Hokeng dan dorongan para imam paroki meneguhkan arah hidupnya, menunjukkan bahwa panggilan rohani lahir dari interaksi nyata dengan komunitas dan teladan iman.

Perjalanan formasi di seminari dan studi filsafat di Ledalero memperdalam refleksi Mgr. Hans tentang imamat sebagai penyerahan diri kepada Tuhan. Kerapuhan fisik yang dialaminya justru menjadi ruang kontemplasi, di mana ayat 2 Korintus 12:9 menjadi pegangan hidup.

Pengalaman pastoral di Paroki St. Yosef Lewotobi di Dekenat Larantuka, ketika harus menghadapi kesendirian dan tanggung jawab penuh lantaran meninggalnya Pastor Parokinya kala itu, memperlihatkan keteguhan hati yang tumbuh dari kesetiaan pada pelayanan. Dari sini tampak bahwa imamat adalah proses yang menuntut keberanian menghadapi keterbatasan dengan iman yang teguh.

Tahbisan imamat membuka jalan bagi Mgr. Hans untuk berkarya sebagai formator di Seminari Hokeng, sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Wina atas permintaan Uskup Larantuka, Mgr. Darius Nggawa.

Di sana, ia mendalami teologi liturgi hingga meraih gelar doktor, sekaligus melayani umat dalam konteks pastoral perkotaan dan pedesaan.

Pengalaman lintas budaya bersama komunitas Katolik Indonesia di Wina memperkaya pandangannya tentang Gereja sebagai persekutuan yang hidup dalam keberagaman. Integrasi antara akademik dan pastoral menjadikan Mgr. Hans figur imam yang mampu menjembatani refleksi teologis dengan pelayanan nyata.

Penunjukan sebagai Uskup Larantuka pada 2025 menjadi puncak perjalanan panjang yang penuh dinamika. Motto episkopalnya “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” menegaskan visi kegembalaan yang berakar pada kesatuan umat, karya Roh Kudus, dan pengharapan eskatologis.

Spiritualitas kegembalaan Mgr. Hans menekankan bahwa keragaman budaya adalah kekayaan yang menyatukan Gereja dalam Kristus.

Sebagai gembala, ia hadir sebagai saksi bahwa panggilan imamat adalah ziarah panjang yang menghubungkan sejarah, rahmat, dan harapan, sekaligus inspirasi bagi umat untuk menapaki jalan iman dengan ketekunan dan keberanian.

Tulisan ini hendak mengeksplorasi sejumlah fakta sosial dan kenyataan pastoral yang akan dihadapi oleh Mgr. Hans sembari menitipkan sejumlah harapan bagi Keuskupan Larantuka di bawah kepemimpinan baru, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. * (Bagian Pertama)

Penulis adalah Seksi Komsos dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Larantuka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *