2026 – Page 5 – MudikaLink

CERPEN: Sepotong Senyum yang Abadi

Tak ada yang lebih aneh dari cara takdir bekerja. Ia bisa menukar debur ombak dengan suara mesin bengkel, hanya agar dua hati saling bertemu. Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory Aku memang hobi memandang bibir pantai, tetapi semenjak menangkap senyum yang tersungging di bibirnya, aku tak sering lagi duduk di pinggir pantai. Semenjak saat itu, kuhabiskan…

Selengkapnya...

Wirausahawan Muda Manggarai Raya Berkomitmen Majukan Ekonomi di Panggung RAT KSP Kopkardios

MUDIKALINK.net-Enam perwakilan wirausahawan muda Manggarai Raya yakni Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Manggarai Timur menyatakan komitmen bersama untuk memajukan ekonomi melalui usaha Koperasi (menjadi anggota koperasi). Komitmen perwakilan wirausahawan muda ini disampaikan saat launching program Wirausaha muda Kopkardios pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) XXVI Tahun Buku 2025 KSP Kopkardios yang berlangsung di Aula…

Selengkapnya...

Cerpen: Si Gadis dan Merah-Putih

Tidak semua peristiwa besar terjadi di gedung parlemen. Sebagian terjadi diam-diam di pinggir jalan. Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory Di sebuah perhentian lampu merah, mata saya menangkap adegan yang amat menyayat. Seorang gadis bermasker merah tampak menatap bendera merah-putih yang tertambat di puncak sebuah tiang. Ia duduk bersila di trotoar dengan busana lusuh. Wajahnya terlihat…

Selengkapnya...

Cerpen: Mahar yang Tak Terbayar

Oleh: Boy Waro Udara dingin di kampung Bajawa menusuk hingga ke tulang, namun hati Rian terasa lebih beku. Ia berdiri di depan Ngadhu (simbol leluhur laki-laki), menatap rumah adat Saka Pu’u milik keluarga Maria dengan perasaan hampa. Rian hanyalah seorang pemuda dari kasta Azi. Ayahnya seorang petani kopi biasa. Sementara Maria adalah putri tunggal dari…

Selengkapnya...

Pada Pasar, Gua dan Kuburan (Sekenanya saja tentang Bakti Sosial Seminaris di Lamahora)

Oleh: RD. Inno Koten KERJA selalu membawa ironi; selesai sekaligus belum selesai. Yang tampak beres hari ini kembali dibenahi besok. Dunia memang tidak pernah benar-benar rampung; dan manusia terus-menerus merampungkan semua yang rumpang. Dalam pengulangan itu manusia berusaha mendefenisikan dirinya. Maka, Hannah Arendt kemudian menyebut homo laborans ketika membaca kondisi manusia modern. Tapi defenisi diri…

Selengkapnya...

Jika Perang adalah Kiamat Kecil

Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory Jika perang adalah kiamat kecil maka ia lahir dari dada manusia. Ia merobek hari tanpa menunggu akhir zaman. Ia menggugurkan masa depan dari rahim waktu yang hendak mekar. Ia mengubah halaman kisah menjadi kitab ratapan. Jika perang adalah kiamat kecil maka mentari akan terbit dengan wajah pucat. Cahayanya redup oleh…

Selengkapnya...

Di Antara Wajan dan Cita-Cita (Catatan seorang pelajar tentang tanggung jawab, sekolah, dan harapan di Manggarai)

Oleh: Laudia Angela Le’u Matafua PUKUL tiga subuh bukanlah waktu yang biasa bagi sebagian besar pelajar. Pada jam itu, mungkin banyak yang masih terlelap, memeluk selimut, atau bermimpi tentang masa depan. Tapi bagi saya, pukul tiga subuh adalah awal dari dua dunia yang harus saya jalani sekaligus. Di dapur kecil rumah kami, api kompor sudah…

Selengkapnya...

Nyawa yang Putus dan Jiwa yang Menghidupkan

Oleh: Florentina Ina Wai ANGIN yang berhembus di Lembata dan Flores Timur belakangan ini seolah membawa kabar duka yang berat. Tanah Lamaholot sedang menangis. Di awal tahun 2026 yang seharusnya dipenuhi harapan, kita justru dikejutkan oleh kabar memilukan yang datang bertubi-tubi. YLG (19) di Lembata dan MABB (17) di Adonara telah memilih untuk pulang lebih…

Selengkapnya...