Gua Maria Perantara Rahmat itu berada persis di sebelah kanan gereja. Taman doa cukup indah karena sedikit berbukit dengan posisi gua yang berada di atas bukit.
MUDIKALINK.net-Sabtu 4 November 2023 pagi, rombongan keluarga besar Kopdit Obor Mas Ende berziarah ke Gua Maria di Nangakeo, Desa Bheramari, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Keuskupan Agung Ende, NTT.
Desa ini berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Ende. Bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Desa Bheramari terletak persis di jalan negara jurusan Ende-Ngada.
Sekitar puluhan meter dari jalan negara, ada Kapela St Petrus Nangakeo, Paroki Kombandaru. Tidak jauh dari kapela yang atap depannya sudah bolong diterjang angin, ada Gua Maria Bunda Perantara Rahmat.
Gua Maria Perantara Rahmat itu berada persis di sebelah kanan gereja. Taman doa cukup indah karena sedikit berbukit dengan posisi gua yang berada di atas bukit.

Gua Maria Bunda Perantara Rahmat Stasi Nangakeo berada jauh dari pemukiman dan keramaian. Sunyi, hanya suara burung dan jangkrik serta deru angin yang mengantar kita pada kekhusyukan.
Gua Maria ini direnovasi tahun 2014. Pembangunan gua dan taman yang indah ini dilakukan dengan swadaya umat stasi Nangakeo, Paroki Kombandaru.
“Saya ingat gua ini diresmikan pada tahun 2014 lalu setelah dibangun dengan swadaya dari umat,” kata Anastasia Ria, umat Stasi Nangakeo yang ikut perayaan ekaristi bersama rombongan Obor Mas Ende.

Anastasia mengatakan belakangan ini ada umat dari luar yang berkunjung ke gua untuk merayakan ekaristi atau misa bersama dan berdoa. Umat Nangakeo terbuka menerima umat yang datang.
“Ada yang datang dan jika ada rombongan mau berdoa di gua maka bisa minta ijin di ketua Stasi Nangakeo, bapak Silvianus Dawi,” katanya.

Anastasia senang dengan kunjungan dari keluarga besar Kopdit Obor Mas KCU Ende. “Kami umat sangat senang ada kunjungan seperti ini. Kedepannya pasti ada yang datang lagi,” katanya.
Gua Maria Bunda Perantara Rahmat adalah salah satu tempat berziarah yang sangat baik untuk umat Katolik. Kesunyiannya mengantarmu lebih khusyuk berdoa. ***
Laporan: Willy Aran I Editor: Wentho Eliando

