Oleh: Anselmus DW Atasoge
HARI ini, 7 Oktober, Gereja Katolik memperingati Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Tanggal ini menandai kemenangan pasukan Katolik dalam perang Lepanto tahun 1571.
Mereka membawa pedang di tangan kanan dan Rosario di tangan kiri. Gereja Katolik memercayai kemenangan itu sebagai buah dari ‘doa dan perlindungan Bunda Maria’.
Mari kita tengok sejenak ‘kisah Lepanto’ itu. Perang Lepanto terjadi di Teluk Patras, Laut Yonia. Pasukan Katolik tergabung dalam Liga Suci yang dibentuk oleh Paus Pius V.
Anggotanya termasuk Spanyol, Venesia, Negara Gereja, dan beberapa kerajaan Katolik lainnya. Armada Liga Suci dipimpin oleh Don Juan de Austria. Mereka berhadapan dengan armada Kekaisaran Usmani yang dipimpin oleh Muezinzadeh Ali Pasya.
Pertempuran ini melibatkan lebih dari 400 kapal dan puluhan ribu prajurit. Liga Suci menang telak. Sekitar 25.000 tentara Usmani tewas. Lebih dari 15.000 budak Kristen dibebaskan.
Paus Pius V menetapkan kemenangan ini sebagai ‘buah dari doa Rosario’. Ia menetapkan 7 Oktober sebagai hari peringatan Santa Maria Ratu Rosario.
Paus Clemens XI mengukuhkan peringatan ini untuk seluruh dunia. Dan, Paus Leo XIII menetapkan Oktober sebagai bulan Rosario. Dengan itu, Gereja mengajak umat beriman untuk merenungkan kekuatan doa yang sederhana namun dahsyat.
Gereja Katolik memandang ‘Rosario sebagai senjata rohani’. Sepenggal lagu rohani dalam ibadat Rosario menyebutnya sebagai “pengalah setan dan nafsu, pun musuh yang kejam.”
Saya teringat pula kisah Bunda Maria dalam penampakannya di Fatima. Saat itu Bunda Maria meminta umat beriman untuk berdoa Rosario demi perdamaian dunia. Doa itu telah terbukti membawa damai.
Santa Maria adalah wanita yang dipilih Allah. Dogma Gereja Katolik menegaskan posisi Bunda Maria sebagai pribadi yang ‘dikandung tanpa noda dosa’. Ia menerima tugas ilahi sebagai Bunda Penebus.
Malaikat menyapanya dengan salam penuh rahmat. Maria ‘mengandung Sabda Tuhan’ dalam rahimnya. Ia menjadi bagian dari rencana keselamatan umat manusia.
Bagi umat Katolik sedunia, bulan Oktober ‘dirayakan’ sebagai bulan Rosario. Bulan ini juga menjadi bulan Misi. Gereja mengajak umat untuk berdoa bagi dunia.
Semua umat Katolik berdoa agar perang berhenti. Mereka pun berdoa agar wabah mereda, iklim membaik dan bencana serta kelaparan berlalu.
Teolog Katolik Thomas Green menulis bahwa Rosario adalah ‘meditasi aktif’. Doa ini membawa jiwa masuk dalam misteri Kristus. Rosario bukan pengulangan kosong. Rosario adalah jalan menuju kedalaman iman.
Romo Laurentius Siagian menyebut Rosario sebagai “pedang rohani yang menusuk kegelapan.” Ia percaya bahwa setiap lantunan dan ucapan ‘Ave Maria Gratia Plena’ adalah cahaya yang menembus malam.
Rosario telah menjadi saksi sejarah. Rosario telah menjadi pelindung jiwa. Rosario telah menjadi penggerak damai. “Belum pernah sekali terjadi, engkau dikalahkan seteru.” Demikian bunyi syair sebuah lagu Rosario.
Sejarah membenarkan kalimat itu. Rosario adalah senjata yang tidak berkarat. Rosario adalah doa yang tidak pernah gagal.
Dalam dunia yang penuh kekacauan, Rosario tetap bersinar. Ia tidak memerlukan teknologi. Ia tidak bergantung pada kekuasaan. Ia hanya memerlukan hati yang percaya.
Rosario adalah senjata ajaib. Rosario adalah harapan yang hidup. Marilah untuk tak jemu-jemunya ‘memegang erat biji-biji Rosario’ sembari ‘menggendongnya’ ke dalam langkah dan tutur kita!*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

