Oleh: Anselmus DW Atasoge
PERISTIWA perutusan (missio canonica) 175 katekis muda dari Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAR) Atma Reksa Ende (Minggu, 15/02/2026) ke tengah masyarakat merupakan sebuah momentum teologis yang penting. Perutusan ini merupakan perwujudan nyata dari tugas pokok Gereja untuk mewartakan Injil (Evangelisasi).
Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, para katekis ini hadir membawa mandat dari Gereja Keuskupan Agung Ende (KAE) untuk menjaga kemurnian ajaran Katolik sekaligus menjadi jembatan antara teks suci dan realitas umat.
Dari perspektif teologis, peran katekis merupakan partisipasi dalam fungsi kenabian Kristus. Di Stipar Ende, momen penuh makna ini dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Agung Ende, RD. Frederikus Dhedhu.
Dalam amanatnya, Vikjen KAE menitipkan pesan agar para lulusan tetap setia pada ajaran Gereja dan Injil. Pesan ini menekankan pentingnya aspek fidelitas (kesetiaan). Kesetiaan di sini bersifat ganda: setia kepada sumber wahyu (Kitab Suci dan Tradisi) dan setia kepada manusia yang menjadi sasaran pewartaan.
Dalam mahakaryanya, ‘Theological Investigations’, Karl Rahner menegaskan sebuah tesis profetik bahwa orang Kristiani masa depan haruslah menjadi seorang “mistikus”, yakni pribadi yang telah mencecap perjumpaan eksistensial secara langsung dengan Allah.
Bagi Rahner, pengajaran doktrinal yang kaku akan kehilangan daya hidupnya apabila tercerabut dari akar pengalaman batin yang autentik. Karena itu, pengutusan 175 katekis muda STIPAR Atma Reksa Ende ini merupakan sebuah penugasan spiritual untuk melampaui batas-batas formalitas teologis; mereka dipanggil untuk menjadi saksi hidup yang membawa aroma kehadiran Ilahi ke dalam ruang-ruang publik.
Para katekis ini tidak hadir di tengah masyarakat sekadar sebagai kurir informasi keagamaan atau teknokrat dogma, melainkan sebagai ‘personifikasi dari rahmat yang menyapa realitas’.
Ketika mereka melangkah ke tengah umat, tugas utama mereka adalah menginkarnasikan kebenaran Injil ke dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari, sehingga Tuhan tidak lagi dirasakan sebagai sosok yang jauh di awan-awan, namun sebagai Sahabat yang hadir dalam pergumulan nyata.
Dengan demikian, setiap kata yang mereka ucapkan dan setiap tindakan yang mereka lakukan menjadi jembatan yang menghubungkan misteri Allah dengan kerinduan terdalam hati manusia di bumi Flores dan sekitarnya.
Sementara itu, dalam karyanya yang monumental, ‘The Understanding of Faith’, Edward Schillebeeckx menegaskan bahwa teologi sejatinya merupakan sebuah proses interpretasi kritis yang menjembatani kekayaan tradisi Kristiani dengan realitas pengalaman manusia yang konkret.
Baginya, pewartaan Injil kehilangan daya ubahnya jika ia hanya menjadi pengulangan rumus-rumus masa lalu tanpa mampu menyentuh palung penderitaan serta cakrawala harapan manusia di zamannya.
Oleh karena itu, 175 katekis STIPAR Atma Reksa Ende mengemban misi intelektual dan spiritual untuk menjadi penafsir iman yang hidup, yang mampu menerjemahkan kebenaran kekal ke dalam dialek kebutuhan lokal masyarakat Flores.
Utusan-utusan muda ini melangkah ke tengah umat sebagai pembaca tanda-tanda zaman yang jeli, memastikan bahwa denyut ajaran Gereja tetap relevan dan bermakna, baik di kesunyian pelosok desa maupun di hiruk-pikuk pusat kota.
Tugas mereka adalah merajut kembali benang-benang iman ke dalam kain tenun kehidupan sehari-hari, sehingga kehadiran Gereja tidak lagi dirasakan sebagai institusi asing, melainkan sebagai kawan seperjalanan yang memahami luka dan sukacita dunia.
Dengan demikian, setiap katekese yang mereka sampaikan menjadi sebuah tindakan pembebasan yang menghadirkan wajah Allah yang peduli terhadap martabat manusia di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.
Kehadiran para katekis muda ini di tengah masyarakat merupakan bentuk “Gereja yang keluar” (Ecclesia ad extra). Mereka memikul tanggung jawab untuk memastikan bahwa iman Katolik tidak berhenti sebagai teori di ruang kelas, tetapi menjadi ‘kekuatan transformatif’ yang menghidupkan.
Dengan berpegang pada Injil dan tugas yang diberikan, para katekis ini menjadi agen pembaruan yang menjaga agar ‘api iman tetap menyala di hati umat’.
Perutusan ini merupakan sebuah panggilan untuk menjadi pelayan sabda yang rendah hati. Sebagaimana ditekankan dalam tradisi teologis, otoritas seorang katekis bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Kristus yang mengutusnya melalui Gereja.
Karena itu, integritas hidup dan kedalaman spiritual menjadi syarat utama agar pewartaan mereka mampu menyentuh dan mengubah wajah masyarakat menuju keadaban yang lebih berlandaskan kasih Kristiani. *
Penulis adalah Staf Pengajar pada Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

